1 Hari 100 Halaman, 1 Hari 100 Ayat, 1 Hari 100 Gambar

Pada awal tahun, seperti kebanyakan orang, saya membikin resolusi kecil-kecilan. Karena ini resolusi kecil-kecilan, tentu hanya menyinggung perkara-perkara sepele. Saya tidak menargetkan punya 100 perusahaan beraset 100 miliar atau mengunjungi 100 negara pada tahun ini. Itu terlalu muluk dan lebih layak disebut sebagai lelucon ketimbang cita-cita. Resolusi saya enteng-entengan belaka: bisa menamatkan 100 judul buku dan menonton 100 judul film. Itu artinya saya harus mengkhatamkan 1 judul buku dan 1 judul fim tiap 3 atau 4 hari sekali. Dengan catatan buku-buku itu tidak begitu tebal dan film-film itu tidak berdurasi di atas dua jam, saya yakin bisa menuntaskan resolusi tersebut. Awal tahun memang seperti awal hari: cahaya matahari bersinar terang, udara segar menyapu tubuh, optimisme tumbuh begitu tinggi, dan—ini yang terutama—biasanya menipu.

Minggu pertama berjalan sesuai harapan. Saya mencatat buku-buku yang saya baca dan film-film yang saya tonton. Buku pertama adalah Gempa Waktu karya Kurt Vonnegut—sebuah novel fiksi ilmiah yang penuh lelucon dan ditulis tanpa tanda baca titik koma. Film pertama adalah City of God—film yang mengejek judulnya, sebab alih-alih berisi kisah orang-orang saleh yang rajin bermunajat kepada Tuhan, film ini penuh dengan kekerasan dan kriminalitas. Saya tidak akan menyebutkan judul-judul lainnya. Saya hanya ingin mengatakan minggu pertama berjalan lancar. Bagaimana dengan minggu-minggu berikutnya? Di situlah masalahnya. Selalu ada masalah di bagian “berikutnya”.

Saya masih tetap membaca dan menonton. Tetapi lama-lama grafik intensitas dua aktivitas tersebut menurun. Ada saja kendala. Ada saja pekerjaan, percakapan-percakapan tak penting, bermain medsos yang cuma buang-buang waktu, dan setumpuk hal lain yang membuat resolusi yang saya bikin makin jauh dari jangkauan. Seharusnya saya sedih dan kecewa—dan memang itulah yang saya rasakan. Tapi toh dua perasaan itu tak ada gunanya. Saya tidak perlu memusingkan apa-apa. Saya hanya perlu memanfaatkan waktu yang tersisa. Dan berapa waktu yang tersisa? Saya melihat kalender. Sudah bulan tujuh. Tinggal lima bulan. Dan berapa buku serta film yang sudah saya tamatkan? Belum ada separuh dari yang saya targetkan. Secara matematis saya memang masih bisa memenuhi resolusi itu, tapi secara realistis, harus saya akui bahwa saya sudah gagal.

Dengan menyadari ketakbecusan diri, saya terpaksa meralat target yang saya buat. Saya menyederhanakan target saya ke dalam bentuk yang lebih kecil, ke dalam potongan-potongan hari. Saya lupakan soal 100 buku atau 100 film dalam setahun. Kini saya menargetkan diri membaca 100 halaman dalam sehari. Setidaknya hal itu lebih mudah saya bayangkan. Dan apa yang lebih mudah dibayangkan lazimnya lebih mudah pula dipraktikkan.

Demikianlah yang terjadi. Selama beberapa hari terakhir saya sanggup membaca 100 halaman dalam sehari. Sebelum tidur saya membaca buku, setelah bangun tidur saya membaca buku, saat ponsel sedang dicas saya membaca buku, saat sedang menunggu nasi tanak saya membaca buku, dan seterusnya. Kalau saya mengatakan itu kesannya hari saya hanya dipenuhi oleh kegiatan membaca buku. Padahal tidak. Saya bukan orang yang serajin itu. Saya jauh lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur, makan, dan menjelajah internet—sebagaimana umumnya orang. Apa yang saya katakan soal membaca buku hanya untuk menggambarkan bahwa sebenarnya saya bisa melaksanakan rencana saya kapan pun saya mau. Ini hanya perkara prioritas dan manajemen waktu—dua hal yang sulit disiasati.

Meskipun tidak sesuai rencana awal, paling tidak kini saya merasa hari-hari lebih mudah dijalani. Hal-hal kecil memang selalu lebih mudah dilakukan ketimbang hal-hal besar. Rasanya saya tidak perlu membebani diri. Rasanya saya harus mengamalkan baik-baik hadis “perbuatan yang paling dicintai oleh Allah adalah perbuatan yang berkelanjutan walaupun sedikit”. Rasanya saya harus mencamkan baik-baik perkataan James Clear dalam Atomic Habits: “Semua hal besar bermula dari awal yang kecil. Benih dari setiap kebiasaan adalah sejumput keputusan kecil. Namun ketika keputusan itu diulang-ulang, sebuah kebiasaan tumbuh dan tumbuh lebih kuat.”

Baiklah. Sekarang saya tahu apa yang harus saya lakukan: langkah-langkah kecil. Saya akan merutinkan baca 100 halaman dalam 1 hari, sebagaimana teman-teman saya yang mencintai kitab suci membaca 100 ayat 1 hari, teman-teman saya yang mendalami seni gambar/design mengamati 100 gambar 1 hari, teman-teman saya yang berkeinginan jadi ahli fotografi memotret 100 kali 1 hari, teman-teman saya yang ingin jago menendang penalti latihan menendang penalti 100 kali 1 hari, dan sebagainya. Sementara itu, Malcolm Gladwell dalam Outliers memiliki teori kaidah 10.000 jam—orang bisa menjadi ahli melakukan sesuatu jika ia rutin latihan selama 10.000 jam. “Latihan bukanlah hal yang dilakukan setelah kita menjadi hebat. Latihan adalah hal yang membuat kita menjadi hebat,” kata Gladwell. Seperti umumnya kalimat-kalimat motivasional, kata-kata Gladwell itu memang enak sekali untuk didengar. Tapi untuk dilakukan? Wah, itu urusan lain. (*)

Erwin Setia
[Kolumnis di berbagai media online, penulis cerpen, alumni SMA Future Gate.]

Leave a Reply

Your email address will not be published.