Ketika Mesin-mesin Semakin Pintar

Beberapa minggu belakangan ini, teman-teman media sosial saya banyak memamerkan karya-karya AI (Artificial Intelligence). Karya-karya itu berupa gambar, cerita, atau sekadar jawaban ‘mesin cerdas’ untuk pertanyaan-pertanyaan acak. Kebanyakan dari mereka memamerkan hasil pekerjaan AI itu dengan nada takjub, kagum, dan sedikit cemas bahwa AI akan menyempitkan lapangan kerja manusia.

Seperti teman-teman saya, saya juga ikut-ikutan meng-generate gambar, cerita, dan pertanyaan untuk AI. Melalui DALL-E, saya memasukkan kata-kata tertentu untuk dialihkan ke dalam bentuk gambar. Hasilnya tidak jelek, tapi jauh dari memuaskan. Selain DALL-E, ada beberapa AI image generator lain semisal Midjourney, DeepAi, dan bahkan Canva yang telah menyediakan fitur text to image. Melalui NovelAi, saya berusaha membuat cerita dengan bantuan AI. Lagi-lagi hasilnya tidak memuaskan, sekadar cukup sebagai hiburan, tapi masih perlu banyak perbaikan untuk bisa dianggap sebagai karya yang bernilai.

Sementara terhadap ChatGPT, saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu. Ada banyak pertanyaan yang saya ajukan kepada AI tersebut. Kebanyakan dijawab dengan gambaran-gambaran umum (yang bisa saya dapatkan dengan mudah lewat Google) dan tak jarang ada kekeliruan-kekeliruan yang seharusnya tak ada. Misal, ketika saya bertanya, “Apa pendapatmu tentang Andik Vermansyah?” AI tersebut menjawab, “Andik Vermansyah adalah salah satu pesepakbola terbaik Indonesia saat ini. Kini ia memperkuat Madura United.” Dalam satu jawaban itu saja sudah ada dua kekeliruan yang saya duga akibat AI mengambil dari sumber yang ketinggalan zaman. Masa kejayaan Andik sudah lewat bertahun-tahun lalu dan ketika saya mengajukan pertanyaan di atas, Andik sudah bukan lagi pemain Madura United. Meski begitu, ChatGPT buatan Open AI tetap bermanfaat untuk membantu kita dalam mencari tahu hal-hal yang sifatnya global. Bahkan, AI juga bisa membantu kita melakukan coding! Yang terpenting kita harus tetap berpikir kritis ketika menerima jawaban-jawaban dari AI, bukan pasrah saja seolah-olah AI adalah makhluk yang sempurna.

Soal kecemasan sebagian orang bahwa AI berpotensi merenggut lapangan pekerjaan manusia, saya bisa memahami itu. Bagaimanapun, mesin-mesin memang sudah banyak menggantikan peran manusia, terutama sejak masa Revolusi Industri. Di dalam sebuah pabrik jumlah mesin kadang lebih banyak daripada jumlah manusia, para petani sudah menggunakan mesin pembajak, orang-orang tidak lagi berkendara dengan kuda maupun unta, dan secara teknis mayoritas orang zaman sekarang (terutama yang tinggal di wilayah perkotaan) lebih banyak berinteraksi dengan mesin daripada dengan sesama manusia. Tapi, kita tak perlu kelewat cemas dengan eksistensi mesin-mesin yang semakin pintar dan multitalenta. Kita hanya perlu lebih pintar menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang semakin cepat.

Seperti manusia, mesin juga berevolusi dan terus berkembang. Dulu telepon genggam hanya bisa digunakan untuk menelepon dan mengirim pesan pendek. Kini dengan telepon genggam kita bisa mengetahui kejadian terbaru di Los Angeles, memotret pemandangan-pemandangan yang melintas di depan kita, merancang desain-desain, mengirim uang, melakukan pertemuan daring dengan seseorang di tempat yang jauh, dan hal-hal lain yang tak pernah kita sangka. Seperti telepon genggam yang terus berevolusi (kita tidak pernah tahu apa yang bisa dilakukan telepon genggam di masa depan), AI-AI di dalam telepon genggam kita pun terus berevolusi. Bagi sebagian orang, Google Assistant masih tampak sebagai sesuatu yang menakjubkan dan mustahil. Tapi bagi sebagian yang lain, yang terus mengikuti perkembangan mutakhir teknologi, Google Assistant terlihat biasa-biasa saja, bahkan mungkin sudah usang. Ini adalah zaman di mana kita bisa melakukan dan memperoleh apa pun tanpa harus beranjak dari dalam kamar (selama ada jaringan internet dan daya listrik). Dan zaman semacam ini tidak mungkin hadir tanpa AI-AI yang semakin pintar. Kita tidak perlu mencemaskan siapa pun atau apa pun yang semakin pintar. Kita hanya perlu sedikit berhati-hati dan menyusun siasat untuk beradaptasi.

Mesin-mesin yang semakin pintar barangkali menjadi kabar buruk, menjadi bencana yang menghancurkan hidup banyak orang. Tapi, itu hanya berlaku bagi orang-orang yang tidak mau berubah atau telat menyesuaikan diri. Dan bagi orang-orang semacam itu, yang melulu diam di tempat dan enggan menerima kenyataan bahwa dunia senantiasa bergerak (kadang dengan kecepatan yang tidak pernah kita pikirkan), bukan hanya AI atau mesin biasa, segala hal bisa menjadi kabar buruk baginya. Pada akhirnya, perubahan di sekitar kita menjadi buruk ataupun baik bukan karena perubahan itu sendiri, tapi tergantung bagaimana reaksi kita terhadapnya.

Persoalan AI yang kini ramai memang lebih kompleks daripada perkembangan mesin-mesin sebelumnya. Sebab, AI saat ini sudah menyentuh ranah yang kita pikir hanya bisa dilakukan oleh manusia dan tak mungkin digantikan oleh entitas lain. Tapi secara umum, sejak zaman manusia menggosok-gosok sepasang batu untuk membuat api sampai zaman manusia cukup ‘menggosok-gosok jari jemari’ di gawai untuk membuat ‘api permusuhan’ polanya tetap itu-itu saja. Jika ada perubahan di luar, kita juga harus berubah dan menyesuaikan diri. Jika tidak, kita akan musnah, atau mungkin tetap hidup, tapi tidak dengan leluasa. Praktiknya mungkin tidak sesederhana itu, tapi kaidah itu setidaknya bisa kita pegang sebagai rumus dasar.

Di luar itu, AI-AI semacam perancang gambar masih punya banyak masalah. Antara lain, mengenai hak cipta (copyright). Banyak AI perancang gambar yang bersifat open source dengan seenaknya menyediakan gambar-gambar milik orang lain sebagai bahan tanpa membeli lisensinya. Selain itu, potensi monopoli oleh pihak-pihak yang bermodal sebagai penguasa tunggal AI perancang gambar juga dapat mendatangkan efek domino yang buruk di masa depan. Soal hak cipta dan potensi kapitalisme dalam AI, Sabda Armandio menjabarkannya dengan baik dalam artikel “Mengajari Mesin Berpikir” (artikel yang perlu dibaca semua orang guna memahami eksistensi AI di masa sekarang).

Dengan bantuan AI, saya berusaha mencari sebuah quote yang cocok sebagai penutup artikel ini. Saya menemukan quote yang konon pernah dikatakan Ginni Rometty, mantan CEO IBM, begini: “Some people call this artificial intelligence, but the reality is this technology will enhance us, So instead of artificial intelligence, I think we’ll augment our intelligence.”

Jika anda kesulitan memahami quote di atas, tenang saja, anda bisa bekerja sama dengan AI yang ‘ahli bahasa’. Saya rasa anda sudah mengenalnya atau setidaknya pernah mendengar namanya disebut. Yap, betul sekali, ia bernama Google Translate. Ia lebih terkenal dari kita, bukan? (*)

Erwin Setia
[Kolumnis di berbagai media online, penulis cerpen, alumni SMA Future Gate]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *