Mengambil Pelajaran dari Liburan dengan Mengunjungi Orang Tua Kita

Para orang tua, tidak banyak yang mereka miliki kala usianya sudah senja. Anak-anak mereka sudah memiliki karir pekerjaan di tempat hidupnya masing-masing. Cucu-cucu mereka berada bersama kesibukannya dalam pendidikan dan meniti kegiatan lain. Tak jarang mereka-mereka yang usianya sudah senja, hanya bisa di rumah mengisi waktu pagi hingga petang, memastikan malam hingga pagi berikutnya mereka masih bisa mendapatkan tidur nyenyak.

Tak sedikit, di antara mereka yang sudah berusia senja, masih memenuhi nafkah kesehariannya. Bukan untuk ditabung, walau yang demikian tentu masih saja ada. Namun kadang kala, mereka mencari nafkah sekadarnya, hanya untuk menjaga fisik dan akalnya. Memelihara pendengaran sekaligus penglihatannya, dan memaksakan diri agar tak didera oleh kemalasan yang berujung pada dimensia, lupa ingatan secara parsial, menurunnya tingkat kewaspadaan, atau berkurangnya fungsi indrawi secara berkala.

Tapi bila kita cermati mereka yang usianya telah senja, tak banyak yang bisa dilakukan, selain apa-apa yang menjadi penghubung usia kala dewasa madya menuju lansia. Kegiatan itulah yang mengisi harinya setelah purna tugas. Sebagian bercocok tanam,, mengasah fisik dengan pertukangan, memelihara hewan-hewan untuk mengusir penat, hingga kegiatan lain yang dapat menikam rasa sepi, sembari menanti anak dan cucunya datang di akhir pekan, di setiap Hari Raya, atau di saat ada bagian dari keluarga maupun saudara yang turut dikunjungi karena sebab bahagia atau tibanya derita.

Baca juga: Mengasah Nalar, Membebaskan Belajar

Ada banyak alasan saat kita yang masih berusia dewasa, masih merasa muda, dan belum mendapati usia senja perlu hadir sesekali dalam mengunjungi orang tua. Hal ini bukan karena soal perintah dalam Islam untuk senantiasa memuliakan orang tua serta beradab kepadanya. Kepentingan seorang anak dan cucu untuk mengunjungi kakek-nenek mereka bila keduanya masih hidup, dapat mendatangkan berbagai pelajaran berharga untuk dipesankan kepada anak-anak kita kelak.

Pertama, dengan mengajak anak-anak mengunjungi kakek dan neneknya. Secara tidak langsung kita dapat mengajarkan sunatullah tentang usia seorang hamba. Bahwa siapa pun kelak akan mendapati usia senja bila ia masih diberikan oleh Allah usia yang lama. Dari sana anak-anak kita diajarkan bahwa fase kehidupan itu bergerak sangat cepat. Selayaknya bagi seorang muslim dapat menjaga dan memperhatikan waktu sebaik-baiknya.

Pergiliran masa, kebahagiaan, usia seorang hamba, telah menjadi aturan ketetapan Allah. Anak-anak hari ini harus diajarkan perihal kenyataan demikian. Walau mungkin mereka tak pernah menemukan usia tua, disebabkan algoritma sosial media, jarang yang menghadirkan usia tua untuk dijadikan pelajaran. Semua tentang sosial media, adalah soal hidup yang terus muda dan terus terjaga akan tren kekinian. Namun tanpa terasa mendatangkan kelalaian dan terjerumus dalam ruang belum banyak melakukan amal kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ…

“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)..” (QS. Ali Imran: 140)

Kedua, dari bertemunya kita dengan orang tua dan menyertakan anak-anak kita untuk menjumpai mereka, dapat menanamkan nilai kepada anak sekaligus diri sendiri tentang kebiasaan amal-amal baik yang dilakukan pada saat usia muda, akan berbekas menjadi kepribadian dan karakteristik di masa tua. Itulah mengapa, kita belajar juga dari kakek dan nenek tentang kebiasaan baik apa yang masih membekas di kehidupannya saat tua. Sehingga bila didapati itu sebuah kebaikan, ada nilai pada anak yang bisa diberikan untuk memiliki amal unggulan yang terbiasa dipupuk sejak masih belia. Agar amal itu, bila berupa ibadah, akan terus berlangsung lama dan menjadi pemberat di akhirat. Namun bila hal berkaitan dunia, tentu akan ada nilai positif yang juga kelak menyertai. Semisal melatih fisik, mengasah akal, membiasakan tubuh bergerak agar tak lekas sakit, serta kebiasaan hidup lain yang dapat menginspirasi kita selaku anaknya, juga cucu-cucu mereka. Alangkah indah sebuah ucapan dari Imam Hasan Al Bashri rahimahullah yang dikutip oleh Ibn Qayyim Al Jauziyyah dalam Miftah Daar As-Sa’aadah (1/167),

“Barang siapa yang membaguskan ibadahnya di masa muda maka Allah akan memberinya hikmah di masa dewasa (tua)nya. Demikian itu firman Allah,

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُۥٓ ءَاتَيْنَٰهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ

Dan ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf 12: Ayat 22) 

Ketiga, dengan mengunjungi nenek serta kakek mereka, kita mengambil pelajaran bahwa mereka yang telah tua, tentu tidak bisa memberi banyak kepada anak serta cucunya. Sebab, harta kian bertambah usia, bisa jadi tak sebanyak kala mereka masih bekerja dan memiliki kekuatan fisik untuk banyak mencari rezeki Allah yang bertebaran di muka bumi. Namun, selain ada cerita serta pelajaran yang diberikan dari cerita mereka. Kita bisa mengambil pelajaran paling mahal yang tak terkira bagi kehidupan. Yakni sebuah doa.

Orang-orang tua, bila kita ke rumahnya, saat bertemu pertama kali, ia akan menanyakan kabar, lalu dalam ucapannya tak sedikit menyelipkan doa serta harapan kebaikan. Saat ingin berpisah dan pulang ke rumah, doa-doa pun meluncur deras pada anak dan cucunya. Mulai dari penjagaan Allah, keberkahan dalam rejeki serta usia, disampaikan pada harapan serta cita-cita, dan tak sedikit adalah mereka juga meminta untuk didoakan oleh anak cucunya, yang bisa jadi, permintaan itu tak lebih banyak dari ucapan doa mereka kepada kita. Sebab orang-orang tua, dari banyaknya perjalanan hidup dilalui, pengalaman yang telah menempa selama ini, menyampaikan pada jernihnya pikiran dan hati. Itu semua tak terlepas dari hikmah yang Allah berikan kepada mereka. Sehingga doa-doa mereka, barang tentu, lebih mudah dikabulkan Allah Ta’ala.

Maka, manfaatkanlah waktu liburan sekolah anak-anak dan mintalah cuti dari pekerjaan kita. Untuk menemui dan mengunjungi, bercengkerama, meminta doa. Orang-orang tua itu, walau tak pernah meminta untuk didatangi. Tapi hati mereka sangat ingin ada yang menghampiri kediamannya. Berharap ada orang untuk berbagi cerita, atau sekadar mendengar kisah dari anak cucunya yang bisa jadi menghilangkan rasa sepi. Jadi, liburan sekolah bukan soal berlibur mengunjungi tempat wisata. Asahlah kepekaan jiwa dengan mengunjungi orang tua. Kakek dan nenek dari anak-anak kita.

Rizki Aji Hertantyo
[Pimred Ufukmedia.co dan Penulis buku “Pengantar Kepengasuhan Lembaga Pendidikan Islam”]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *