Mengasah Nalar, Membebaskan Belajar

Kita tentu mengerti dan sadar, bahwa ekosistem pendidikan kini telah berubah. Model pendekatan dalam menanamkan pemikiran kepada siswa, tidak cukup lagi hanya diuntai melalui satu sumber belajar yakni guru. Dengan pesatnya konsep pendukung pembelajaran, teknologi yang kian mudah digunakan dan menyasar berbagai rentang usia, kini juga dihadapkan oleh kurikulum yang semakin fleksibel untuk diaktualisasikan.

Dari sini tentu kita membutuhkan konsep belajar yang tidak masih begini-begitu adanya. Bila Pak Mahfud M.D pernah mengatakan bahwa hari ini demokrasi kita sedang tidak biasa-biasa saja sebagai tanggapan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) yang ingin turun gunung di Pemilu 2024. Kita juga harus kian tanggap bahwa pendidikan juga memiliki hal demikian. Ia sungguh lebih tak biasa-biasa saja bila tak ingin disebut sungguh sangat ala kadarnya. Itulah mengapa, seiring dengan pertumbuhan cara belajar dan masifnya ilmu pengetahuan untuk dimiliki banyak pihak, dibutuhkan adanya proses belajar yang semakin menempatkan siswa sebagai tempat utama. Apalagi bagi siswa di jenjang sekolah menengah atas atau bahkan pendidikan tinggi setelahnya. Sebab ke depan, guru hanya benar-benar menjadi fasilitator. Bila guru tidak bisa memfasilitasi proses belajar siswa yang senantiasa berupaya maju serta terus selangkah ke depan, kelak guru akan tertinggal dan bahkan sebaliknya, ia difasilitasi oleh siswa hanya sebagai penyedia paket data.

Kurikulum merdeka sejak awal lahir dengan pro dan kontra. Ia tidak datang dalam keadaan sempurna, ia hadir memberikan beragam cara serta pendekatan pada para guru demi mencapai perubahan belajar pada siswa yang lebih aktif. Sebab langkah pemerintah ialah mewujudkan kemerdekaan belajar oleh dan bagi siapa pun. Guru tak jarang diajarkan oleh siswa tentang suatu fenomena, dan siswa tak sedikit lebih banyak diam saat guru menjelaskan sesuatu yang bisa jadi telah mereka ketahui sepekan sebelumnya. Dalam benak siswa bisa berarti, “Biarinlah, setidaknya guru saya telah berusaha mengikuti perkembangan walau tidak memberikan makna terpuaskan.

Inilah yang kerap mendatangkan kebosanan bagi siswa saat belajar di kelas. Dalam proses pembelajaran, apabila anak tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dikerjakan, maka perlu diteliti lagi sebab-sebabnya. Sebab tersebut biasanya bermacam-macam. Bisa karena kurang tertarik dengan kegiatan yang diberikan, bisa karena anak merasa tidak senang, sakit atau lapar, dan lain sebagainya. Hal tersebut terjadi karena tidak ada perubahan energi dalam diri anak, afeksi anak tidak terangsang melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan karena kurang memiliki semangat untuk terus belajar. Keadaan ini perlu diadakan dorongan yang dapat membangkitkan semangat anak dalam belajar. Dengan kata lain, anak perlu diberikan rangsangan agar tumbuh motivasi dalam diri anak. (Sardiman A.M, 2006)

Baca juga: Momentum Kepahlawanan

Belajar di Era Kurikulum Merdeka

Kurikulum merdeka hari ini mengajak pada penguasaan literasi sebagai modal penting. Gagasan pemerintah sudah sangat visioner, sebab literasi tadilah yang dapat mengubah keadaan. Kita tentu sangat paham, dalam lintasan sejarah bangsa, lahirnya kemerdekaan karena adanya para pemuda yang terus membaca, dan tokoh senior yang menghargai peran para pemuda tadi. Bacaan-bacaan tadi bukan hanya dikemas melalui buku saja, tapi juga membaca situasi serta keadaan. Bagaimana Sjahrir memutuskan untuk berkumpul setelah mendengar informasi dari Radio Domei dan menangkap kemungkinan adanya perang saudara bila bangsa tak segera dimerdekakan. Atau bagaimana tentang peran tiga serangkai yang mendapat angin segar atas kebebasan merintis pendidikan untuk bumiputera sesaat setelah Politik Etis diterapkan, yang kemudian hari menjadi motor kebangkitan nasional. 

Oleh karena itu, berliterasi bukan soal membaca saja, tapi mengasah diri mampu memahami situasi. Selain itu bernumerasi yang menjadi pangkal kurikulum merdeka, juga bermakna mengalkulasikan segala kemungkinan dengan cermat atas konsep berpikir melalui logika numerasi perhitungan yang telah dibangun. Sebab kita belajar matematika bukan hanya membuat pandai menghitung rumus, tapi juga dimungkinkan untuk membangun relevansi dalam berhitung dan memuat probabilitas pada dunia nyata.

Belajar dengan guru itu tetap perlu, namun melengkapi sumber informasi lebih dari apa yang didapat melalui guru, juga tak kalah perlu. Pembelajaran di luar ruang, memungkinkan itu semua, terlebih di kurikulum merdeka, kita tak perlu tergesa-gesa menuntaskan seluruh bahasan pembelajaran. Semuanya dapat diaktualisasikan dengan kenyataan, tanpa harus ditumpahkan semua pada peserta didik, yang justru dikhawatirkan malah masuk sekolah dalam keadaan kosong sebab belum adanya pengetahuan, dan pulang ke rumah juga kosong karena terlalu banyak kapasitas informasi yang dituangkan oleh semua guru mata pelajaran, sehingga bingung mana yang perlu atas dirinya serta lingkungan tempat dirinya tumbuh.

Yang terbaik adalah, guru memberikan informasi dan melihat apa yang tepat untuk dikolaborasikan di luar ruang tempat siswa belajar sebenarnya. Bukankah peribahasa lama senantiasa dipegang dengan baik, yaitu alam terkembang menjadi guru? Sehingga, biarkan alam memproses belajar siswa dan turut hadir dalam proses pendidikan.

Alam hari ini dimaknai dengan lingkungan pergaulan. Sedang lingkaran pergaulan hari ini, generasi muda dicekoki oleh budaya digital yang tidak sehat. Dihajar oleh tren sangat cepat, dan digilas oleh kerancuan data smog saat berselancar tanpa batas. Maka, alam yang sebenarnya harus dikembalikan. Guru memiliki peran penting untuk ini. 

Belajar di Alam Nyata

Pendekatan outdoor learning merupakan sebuah kegiatan belajar di luar kampus/kelas dan berada di alam bebas seperti di taman, perkampungan, pertanian, permainan di lingkungan kampus/sekolah, camping serta segala hal yang bersifat petualang (Ali, dkk: 2019). Hal ini bersesuaian dengan apa yang dipaparkan oleh Ango (2002), “Sometimes difficulties can be found by students or lecturers during the creative thinking process with a lack of flexibility in the learning process in the classroom walls limit the views of students which have an impact on potential aspects that can arise from actions that can be useful based on public interest.”

Sehingga pendekatan untuk tidak belajar secara sempit di dalam kelas, dapat digeser perlahan paradigmanya untuk mengeksplorasi kemampuan belajar siswa selanjutnya. Sekali lagi, kurikulum merdeka membuka peluang ini seluas-luasnya. Tinggal sekolah bersama guru merumuskan langkah dan pendekatan komunikasinya. Langkah teknis dan maknanya kepada siswa guna memberi pemahaman tentang apa yang seharusnya dilakukan dan tidak diperbuat dalam proses ini. Adapun pendekatan komunikasi diperuntukkan bagi orang tua agar mereka memiliki kesamaan pemikiran dengan pihak sekolah. Hal ini harus dilakukan, dan dimulai dari jenjang sekolah menengah atas. Sebelum nantinya mereka memiliki cara belajar yang efektif saat di bangku perkuliahan. Untuk mengeksplorasi model ini di perkuliahan dapat membaca buku Rhenald Kasali yang berjudul 30 Paspor di Kelas Sang Profesor jilid 1 dan 2.

Soal apakah model ini akan memiliki banyak negatif dan membuka peluang pelanggaran kepada siswa, tentu perlu dicermati kembali. Bahwa tidak ada hal yang positif didapat dari perjalanan panjang sebuah proses menuju keberhasilan. Menihilkan pelanggaran itu adalah mental kerdil yang tertancap dalam benak pendidik akan siswa didiknya. Mental yang semestinya perlahan dikurangi dari dalam diri. Inilah yang menghambat proses pendidikan menemui muara kedewasaannya. Sebab yang terus ada di kepala guru adalah penyimpangan yang akan diperbuat siswa dari model pembelajaran di luar ruang dengan harapan meningkatnya kemampuan nalar serta logika siswa. 

Padahal dalam setiap diskusi, lokakarya, seminar, atau pertemuan-pertemuan ilmiah apapun yang dilakukan dan diikutsertakan guru, sering terlontar bahwa siswa harus menjadi dewasa, cendekia, berani, terampil, hingga mampu mengurai fenomena. Tapi lagi-lagi itu berhenti pada ketidakpercayaan pendidik atas peserta didiknya. Terjebak pada penilaian yang jauh dibayangan, sedangkan nanti penilaian yang diberikan oleh guru atas siswanya, hanya terhenti pada angka ketuntasan dan tak mewakili deskripsi tumbuh kembang siswa. Tentu ini menyimpan ironisme tersendiri. Sudah saatnya kita memberikan rasa percaya kepada siswa dengan sebaik-baiknya. Tanamkan dan tiupkan keyakinan. Sebab dengan belajar bebas di alam nyata, pikiran siswa di alam maya tak terkungkung hanya dalam layar kecil yang perlu saluran penambah daya.

Jangan ragu untuk memulai, sebab itu juga untuk kebaikan generasi bangsa di masa mendatang. Karena belajar di luar, sebagaimana yang disampaikan oleh Muslicha (2015), bahwa pendidikan lingkungan hidup dianggap sangat penting. Dengan adanya pendidikan lingkungan yang diimplementasikan kepada masyarakat, diharapkan muncul adanya kesadaran agar masyarakat mampu menjaga dan merawat lingkungannya, selanjutnya pada masyarakat terjadi perubahan sikap dan pandangannya terhadap upaya menjaga kelestarian lingkungan. Maka tak salah bila Frantz dan Mayer (2014) menyatakan, “Environmental education is a process in cultivating konowledge and creating experience to change attitudes, beliefs, and behavior.”

Rizki Aji Hertantyo
[Pimred Ufukmedia.co dan Penulis buku “Pengantar Kepengasuhan Lembaga Pendidikan Islam”]

1 thought on “Mengasah Nalar, Membebaskan Belajar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *