Menjalani Hidup dengan Spontan Tanpa Tujuan

Mau tidak mau, suka tidak suka, setiap harinya kita hidup dalam sebuah rutinitas. Jenisnya tentu bisa apa saja, entah itu bersekolah, bekerja, mengurusi rumah tangga, berdagang, berkarya dan sebagainya. Selama dijalani dengan niat yang benar dan dengan cara yang baik, seluruh rutinitas yang berbeda-beda itu sejatinya menjadi sama baiknya. Tidak ada satu pun yang lebih superior dibandingkan dengan yang lainnya. Tapi, namanya saja rutinitas, tidak lepas dari beragam masalah dan rintangan-rintangan di dalamnya, bukan? Satu hal yang paling menarik adalah ketika rutinitas yang ada berakhir menjadi sebuah tanya di dalam kepala, “Kenapa, sih, kegiatan hidupku begini-begini saja?”

Suatu hari di akhir pekan, saya bertemu dengan seseorang. Dalam kesempatan berdiskusi saat santai ketika itu, orang tersebut menceritakan sebuah hal sederhana yang ternyata mengejutkan sekali ketika diterima oleh hati saya. Apa pasal? Dia bilang, “Aku tuh kalau pergi ke kampus suka enggak kerasa gitu, bang. Tau-tau, eh, udah sampai aja, kayak sekedip padahal rumahku lumayan jauh dari kampus. Perjalanan waktu ngendarain motor jadi kayak autopilot gitu. Sedih banget jadinya karena waktu yang aku habiskan di perjalanan jadi semacam habis gitu aja.”

Cerita itu membuat saya jadi teringat tentang bagaimana kejadian serupa juga terkadang (atau mungkin seringkali) terjadi di keseharian saya saat berangkat kerja atau bahkan saat menghabiskan waktu dalam satu hari. Apakah kamu juga pernah mengalaminya?

Hidup jelas sekali perlu kita maknai sebagai anak-anak tangga atau jalan-jalan setapak dalam menjalankan tugas untuk beribadah kepada-Nya.

Jika kita mengambil kasus pada kejadian yang lebih umum dari sekadar menempuh perjalanan ke kampus dan ke kantor, kehidupan yang serba autopilot ini sering sekali terjadi pada diri kita. Tanpa sadar, kita menghabiskan hari, pekan, bulan, dan tahun dengan aktivitas yang penuh dengan spontanitas hingga termaknai dengan begitu-begitu saja. Lalu, dengan cepatnya angka tahun seolah tiba-tiba berganti. Belum sempat kita benar-benar memaknai apa yang sebelumnya terjadi, hari baru sudah datang lagi. Jika begini, sekolah kita, kuliah kita, pekerjaan kita, aktivitas luar rumah kita, rumah tangga kita, proses belajar kita, pertemanan kita, semua menjadi hal spontan dan hanya ramai di permukaan saja. Alih-alih punya hidup yang bermakna, kita justru malah kehilangan makna.

Memaknai Hidup

Mengapa semua ini terjadi, ya? Jangan-jangan, sebenarnya ada yang salah dengan niat kita atau mungkin kita yang justru lupa menyertakan niat itu dalam seluruh aktivitas harian kita. Alhasil, kita hanya beradu cepat dengan riuhnya dunia hingga tak sempat lagi menengok pada kedalaman hati kita dan memeriksa apa yang ada di sana yang menjadi dasar gerak-gerik kita pada setiap waktunya.

Meminjam istilah yang ditulis oleh Mohammed Faris dalam bukunya yang berjudul Productive Muslim Manifesto – 10 Essential Qualities Every Muslim Needs to Rebuild a Productive Ummah, ada dua tipe yang menggambarkan bagaimana manusia menjalani kehidupannya, yaitu intentional life dan spontaneous life. Apa yang membedakan keduanya?

Intentional Life atau hidup yang bertujuan, seperti namanya, adalah hidup yang didasari pada niat dan fokus pada tujuan yang jelas sehingga dalam menjalaninya pun seseorang akan merencanakan dan berfokus pada waktu dan upayanya untuk dapat memiliki hidup yang menjadi jembatan kebaikannya menuju kehidupan yang baik di akhirat nanti. Orang yang hidup dengan cara ini tentu sangat tidak mungkin membuang banyak waktu untuk melakukan dan memikirkan hal yang tidak perlu. Mereka berfokus untuk menjadikan setiap gerak dan geriknya bermanfaat agar dapat menjadi tabungan amal shalih.

Sebaliknya, spontaneous life atau hidup yang spontan adalah hidup yang seperti mengikuti kemana arus air mengalir. Alih-alih memiliki rencana atau target pencapaian kebaikan-kebaikan dunia yang akan membantunya di akhirat, orang yang hidup dengan cara ini seolah seperti kurang gairah dalam menjalani hari-hari. Tugas asal selesai, pekerjaan asal beres, perjalanan hidup asal dilalui. Akibatnya, wajar saja jika sebenarnya ia tidak pernah sampai kemana-mana, hanya berkutat disitu-situ saja.

Dari kedua jenis cara orang menjalani hidup di atas, kira-kira kita ada di kubu yang mana, ya? Meski belum terlalu pede untuk mengatakan bahwa hidup kita bertujuan, setidaknya semoga itu menjadi cita-cita untuk dapat kita wujudkan. Sebab, Allah Ta’ala sudah sangat jelas membahas tentang ini dalam kalam-Nya, bahwa Dia tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Nya.

Hidup jelas sekali perlu kita maknai sebagai anak-anak tangga atau jalan-jalan setapak untuk menjalankan tugas untuk beribadah kepada-Nya. Maka, apapun yang kita kerjakan, peran apapun yang kita emban, dan amanah apapun yang kita jalani, semoga kita dapat menjalani semuanya dengan sebaik-baiknya sebagai wujud pengabdian diri kita kepada Allaah Azza wa Jalla. 

Lalu, apa hal terkecil yang bisa kita lakukan agar hidup menjadi bertujuan dan lebih bermakna? Sederhananya, perbaiki niat dalam melakukan apapun di keseharian, milikilah rencana-rencana sebagai acuan, minimalisir distraksi agar fokus kita tidak mudah teralihkan dan bergantunglah kepada Allaah atas apapun yang sedang diupayakan.

Selamat menjalani hidup dengan cara yang lebih baik! Mulai hari ini ya! Sebab esok yang kita rencanakan belum tentu akan dapat menjadi milik kita.

Muhammad Aidul Bakri
[Lelaki kelahiran 2001, akrab disapa Mudri. Menyukai dunia menulis sejak bangku SMA. Salah satu harapannya agar setiap tulisan menemukan pembacanya. Dan, hanya kebaikan saja yang tertinggal setelahnya. Saat ini ia ditugaskan sebagai staff perpustakaan SMA Future Gate Bekasi.]

1 thought on “Menjalani Hidup dengan Spontan Tanpa Tujuan

  1. Dan memang benar, sebagai muslim pun kita di perintahkan untuk memanfaatkan waktu luang karena itu salah satu yang sering di sia-siakan dan di lupakan.

    Maka seorang muslim haruslah menjadikan waktunya untuk mencapai selangkah demi selangkah untuk mendekat kepada-Nya dan menjadikan amal shalih. Sehingga hidup bukan hanya untuk menghabiskan waktu di dunia. Namun juga bermanfaat terkhususnya nanti di akhirat. Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *