Merawat Kenangan tentang Ayah

Salim bin Abdillah, ia termasuk satu dari sekian pembesar tabi’in yang pernah belajar dan duduk bersama para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Keluasan ilmunya, terkhusus dalam bidang fikih, menjadikan ia sebagai fuqaha sab’ah alias tujuh pemuka fikih senior di Madinah pada zamannya. Besar dalam naungan ilmu, tak terlepas dari garis keturunan yang menjaga dengan baik tradisi untuk senantiasa hidup bersama Al-Qur’an dan sunah, sebab sejatinya ia merupakan anak dari Abdullah bin Umar dan cucu dari Umar bin Khattab radhiyallahu‘anhum. Tak heran para ulama menyebutkan bahwa ia memiliki kemiripan dalam fisik, serta ketakwaan dengan ayahnya dibanding anak-anak Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum yang lain.

Maka ayahnya pun mencintai dirinya, sebab layaknya keturunan dengan ragam potensi berbeda satu sama lain. Said bin Musayyib rahimahullah pun mengatakan, “Dahulu Abdullah bin Umar adalah anak yang paling serupa dengan Umar (bin Khattab), dan Salim adalah anak yang serupa dengan Abdullah (bin Umar).”

Kesamaan tersebut juga tercermin dari warisan yang dilakukan oleh ayahnya, termasuk pada hal yang sifatnya keseharian. Seperti kebiasaannya berbelanja ke pasar seorang diri, sedangkan penduduk Madinah mengakui sepenuhnya bahwa ia memiliki kemuliaan, sebagaimana persaksian dari Al Imam Malik rahimahullah, “Dahulu (Abdullah) Ibnu Umar keluar ke pasar untuk membeli sesuatu, dan Salim pun membeli di pasar-pasar, padahal beliau adalah orang paling utama di zaman itu.”

Ibu dari Salim bin Abdillah adalah putri dari Kaisar Persia, Yazdajir. Kekaisaran Persia di bawah kepemimpinannya berakhir di tangan kaum muslimin pada masa khalifah Umar bin Khattab. Dari kemenangan tersebut, salah satu dari ghanimah yang didapat ialah tawanan tiga putri kaisar. Karena kedudukan dan kehormatannya, dipasang harga tinggi bagi ketiganya sebagai tebusan, selain itu diperkenankan juga bagi ketiganya bila tak ada yang berani untuk menebus, memilih siapa pemuda yang berhak memilikinya. Maka tawaran tersebut berakhir pada pilihan, putri pertama memilih Muhammad bin Abi Bakar, putri kedua menjatuhkan pilihan pada Abdullah bin Umar, dan yang terakhir menjadikan Al Husein bin Ali bin Abi Thalib sebagai pemiliknya. Dari ketiga pasangan tadi, lahirlah generasi berikutnya yang menjadi pemimpin Islam pada masa tabi’in.

Maka tak bisa dielakkan, bahwa pendidikan juga milik ayah. Ia bukan hanya milik ibu. Bahkan dalam Al-Qur’an pun, betapa banyak interaksi yang terjadi di antara para Nabi dengan anak-anak mereka. Bagaimana Al-Qur’an menceritakan kisah antara Nabi Yusuf dengan ayahnya yakni Nabi Yaqub, seperti pula kita ketahui bagaimana Nabi Ibrahim beserta bapaknya yang memiliki profesi sebagai pembuat patung berhala, kita membaca interaksi antara Nabi Yahya dengan Nabi Zakariyya, bahkan kita juga melihat dalam Al-Qur’an percakapan sepanjang sejarah antara Lukmanul Hakim dengan anaknya yang mewarisi nilai-nilai kepengasuhan hingga hari ini.

Begitu juga halnya dengan kisah perjalanan kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, banyak fragmen disajikan tentang Nabi bersama dengan cucu-nya yakni Al Hasan dan Al Husein, Nabi bersama dengan putri beliau yaitu Fathimah, Nabi juga mengingatkan seorang sahabat yang jarang menyayangi anaknya hingga jarang menciuminya. Kesemuanya adalah potret bahwa ayah memiliki peran sentral, tak hanya mendidik, mewariskan nilai, tetapi juga mengasuh hingga anak-anak itu tumbuh dewasa untuk siap menghadapi kenyataan hidup.

Ayah Akan Selalu Hidup dalam Pikiran Anaknya

ayah
Ayah akan selalu berusaha ada saat dibutuhkan meski itu dari tempat yang jauh.

Kenangan tentang ayah, nampaknya sulit lepas dari kehidupan seorang anak. Dalam perjalanan hidup sejak kecil. Bisa jadi peran ayah bukan berada di tengah panggung. Namun berada di pinggiran panggung untuk mengawasi serta menjaga anak dari kejauhan. Berbeda halnya dengan seorang ibu, yang kerap menyiapkan segala sesuatunya agar anak tampil ke tengah, berani memandang banyaknya orang, mengangkat kepala, hingga berkata apa yang telah diajarkannya. Ayah bukan di sana perannya.

Ayah bagi anak-anaknya lebih banyak hidup dalam pikiran, dibandingkan ibu yang hidup dalam hatinya. Sungguh Allah telah meletakkan dua permata tadi, pada bagian jiwa paling sempurna fungsinya dalam kehidupan seseorang. Maka tak heran, mereka yang memiliki kenangan membekas dengan ayahnya semasa kecil hingga dewasa. Pasang-surut komunikasi dengan seorang ayah tak semudah berbicara dengan ibu. Tapi meyakini bahwa jiwa ayah hidup dalam pikirannya, terpatri dalam karya-karya penuh kenangan. Seperti kita seharusnya mengenal karya Buya Hamka yang menulis buku tentang ayahnya, Haji Karim Amrullah. Lalu akhirnya Buya Hamka sendiri dituliskan sebuah karya oleh anaknya, Rusydi Hamka. Pun halnya kita mengetahui, tidak ada karya biografi paling haru dan penuh kenangan pengasuhan mengenai Mohammad Hatta pada ketiga putrinya yaitu Meutia, Halida, dan Gemala sebagai sebuah karya paling emosional soal hubungan ayah dan ketiga gadis kecilnya, baik dari sisi keseharian, pandangan hidup, dan keberhasilan menjadikan ketiga putrinya tadi sebagai tokoh wanita yang juga diperhitungkan oleh negeri ini.

Tak heran, dalam dunia literasi, rekaman karya mengenai ayah yang ditulis oleh anak-anaknya jauh lebih banyak dibanding dengan apa yang dilakukan terhadap ibu dan biografi hidupnya. Sebab di mata anak-anak, ayah tak hanya memiliki tugas-tugas domestik semata, tapi juga tugas-tugas sosial yang tak semua turut dilakukan oleh ibu.

Sehingga dari sini, ada banyak pelajaran penting tentang bagaimana ayah memberi warisan pada anaknya. Entah, ia adalah sosok anak lelaki, atau juga anak perempuan. Potret Islam merekam semua dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, bagi setiap ayah, ia sudah harus siap menjadi peletak tulang punggungnya dalam menopang kemuliaan keluarga. Keberlangsungan pendidikan anak di tangannya, dan kekuatan dalam menghadapi seorang istri juga menjadi janjinya di hadapan ayah yang lain dalam hidupnya.

Sebagai anak, potret diri ayah juga hadir dalam setiap gerak. Seperti halnya Salim bin Abdillah di awal kisah yang juga pergi ke pasar sebagaimana ayahnya. Kita pun kadang diingatkan tentang memori yang sama dalam kehidupan. Tentang di mana ayah langganan mencukur rambutnya beserta gayanya, lalu kemudian setelah dewasa, kita menapaki jejak yang sama. Mengenai dimana ayah terbiasa membeli lauk untuk kebutuhan makan di malam hari, kala ibu sudah bosan memasak. Ayah memiliki caranya sendiri untuk membeli di tempat, dengan hitungan berkali-kali dengan porsi sama, rasa tak berbeda, terekam kuat dalam ingatan kita. Termasuk halnya, bagaimana ayah hadir membasuh luka kita, bersedia mengantar kemana saja, dan seperti biasa, ayah sedikit bercerita mengenai kondisi dirinya dan apa ketakutan yang sedang dihadapinya.

Dari sosok ayah, seorang anak belajar bukan melalui kata-kata. Tapi sikap dan keteladanan. Melalui pikiran ayah, seorang anak menapaki jalan keberanian mengambil pilihan dan hal itu menjadikannya dewasa. Dari kesemua itu banyak kenangan mengenai ayah berkelindan dalam pikiran. Ia tak dapat dituliskan, tapi tempat-tempat yang disinggahi kala melewatinya kembali, menjadi episode kehidupan paling emosional dalam mengisi ruang hati kita.

Editor: Dimas Ronggo

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *