Mulazamah: Standar Proses Pembelajaran Klasik Nan Efektif

Kalau tujuan pendidikan itu hendak menghasilkan lulusan yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, saleh dan berakhlak, maka tanpa bermaksud melebih-lebihkan, metode mulazamah sudah mencakup semua yang dibutuhkan. 

Standar proses klasik ini teramat simpel namun efektif karena transfer ilmu dan perilaku terjadi melalui keteladanan yang didahului kekaguman dan keyakinan atas integritas sosok pendidik yang jadi panutan. 

Dalam mulazamah tidak ada dikotomi pembelajaran entah itu ‘teacher-centered’ atau pun ‘student-centered’. Keduanya berjalan secara simultan dan dilangsungkan dalam konteks dunia nyata (real world).

Minat yang besar untuk belajar atas kemauan sendiri sesungguhnya merupakan sejenis pembelajaran swakarsa. Interaksi antara orang dewasa (rijal, adult) dengan pemuda (fata, syabab) atau senior-junior, kyai-santri, guru-murid menghasilkan proses pembelajaran yang bermakna. 

Di lapangan, kognisi dan pemahaman diasah lewat pengalaman nyata. Pembelajar harus cepat mengambil keputusan dan bertindak untuk memecahkan masalah. Practical life skill dan pelibatan seluruh indera dalam pembelajaran di dunia nyata itu kelak berujung pada profil lulusan yang kaya ragam kompetensi.

Pembelajaran swakarsa dengan metode mulazamah pernah dilakoni orang paling berilmu di zamannya, dari suku bangsa yang terpilih di zamannya pula: Musa bin Imran alaihissalam dari Bani Israil. Yusya bin Nun bermulazamah kepada Nabi Musa dengan menyertai Musa dalam suatu perjalanan menemui Khidr yang bermukim di ‘pertemuan dua lautan’ (majma al-bahraini). 

“Dan ketika Musa berkata kepada bujangnya, ‘Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua lautan, atau aku akan berjalan terus hingga bertahun-tahun.’” (Surat Al Kahfi: 60)

Ayat ini menunjukkan minat dan antusiasme yang sangat kuat pada diri Nabi Musa selaku pembelajar swakarsa dalam menuntut ilmu. Atas pilihannya sendiri Musa bertekad melakukan ekspedisi ilmiah (rihlah) untuk menemui Khidr: manusia yang memiliki jenis ilmu yang  tidak ia miliki.

Pilihan atas kehendak sendiri itu melahirkan semacam sense of control atas proses pembelajaran yang dijalani, kegembiraan belajar (enjoyment), keterlibatan total  (engagement) dan relisiensi atau daya belajar sekaligus. 

Bersama Musa adalah Yusya bin Nun, calon pemimpin dan masih berstatus pemuda yang belajar kepadanya.

Perjalanan ilmiah itu begitu jauh dan melelahkan. Musa dan Yusya menjalankannya dengan kerelaan. Safar yang sejatinya merupakan azab itu mereka lakoni demi mereguk manisnya ilmu pengetahuan.  

Musa dan Yusya pun sampai di lokasi pertemuan dua lautan, akan tetapi mereka sudah agak jauh melintasinya (terlewat).

“Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa lauk ikan yang mereka bawa. Ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut.” (Surat Al Kahfi: 61)

Lauk ikan itu melompat menjadi ikan hidup yang melompat secara aneh ke arah laut.

“Ketika mereka telah melewati (lokasi pertemuan dua lautan itu), Musa berkata kepada muridnya, ‘Bawalah kemari makanan kita, sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.’” (Surat Al-Kahfi:62)

Dalam ayat di atas Nabi Musa mengisyaratkan adanya kebersamaan dan sikap egaliter terhadap sang murid:  ‘Bawalah ke mari makanan kita, sungguh kita telah letih karena perjalanan kita ini.’

“Muridnya (Yusya) menjawab, ‘Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang sangat aneh.” (Surat Al-Kahfi: 63)

“Musa berkata, ‘Itulah (tempat) yang kita cari!’ Lalu keduanya kembali, menelusuri jejak mereka semula.” (Surat Al-Kahfi: 64)

Lokasi tempat ikan melompat ke laut itu ternyata adalah lokasi Khidr. Yusya selaku murid dan asisten secara tidak langsung telah mengingatkan gurunya dan informasinya ternyata sangat bermanfaat.

Musa dan Yusya akhirnya berhasil bertemu dengan Khidr, seorang yang disebut Allah sebagai ‘hamba di antara hamba-hamba Kami,’ yang telah menerima rahmat dari sisi Allah dan telah diajarkan ilmu dari sisi-Nya pula.

Musa hendak bermulazamah kepada Khidr. 

Musa: “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau ajarkan kepadaku ilmu yang telah diajarkan kepadamu (untuk dijadikan sebagai) pedoman?” 

Khidr: “Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku. Bagaimana pula kau dapat bersabar atas sesuatu yang kau sendiri belum punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup tentangnya?”

Belum punya pengalaman dan belum merasai sendiri keganjilan yang bakal dialaminya, tetapi kok merasa yakin bisa sabar?

Musa: “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.” 

Musa janji bakal patuh dan manut.

Khidr: “Jika engkau mengikutiku maka jangan bertanya perihal apa pun sampai aku terangkan sendiri kepadamu.”

Kedua hamba Allah itu bersepakat. Mereka pun berjalan. 

Tiba di pantai, seketika Khidr melubangi perahu milik orang, Musa langsung protes (dia lupa dengan komitmennya untuk tidak menyoal dan tidak melakukan pengingkaran): “Mengapa engkau melubangi perahu itu? Apakah engkau hendak menenggelamkan penumpangnya?  Sungguh ini suatu kesalahan yang besar!” 

Pada kasus pertama ini Musa terlupa. Ini pelanggaran komitmennya yang pertama. Nalar kritis dan hati nuraninya tidak bisa menerima kapal milik orang lain dirusak tanpa alasan yang jelas. Tetapi ini pelanggaran pertama: ia menanya dan mempersoalkan.

Musa masih diberi toleransi. Maka mereka berjalan kembali. 

Lantas mereka bertemu dengan anak kecil, Khidr kontan membunuh anak itu. Melihat tindakan mungkar ini Musa pun protes. Kalau yang pertama tadi karena lupa, yang kedua ini dengan kesadaran dan kesengajaan. Kesabarannya jelas hilang.

Musa: “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan perbuatan yang sangat mungkar!”

Khidr: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu: engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?”

Musa: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi kau perbolehkan aku menyertaimu, sungguh engkau sudah cukup menerima alasan dariku.”

Kemudian mereka berjalan dan sampai di suatu kota. Mereka meminta jamuan makan kepada penduduk kota itu lantaran menyandang status sebagai tamu. Akan tetapi penduduk kota itu enggan melayani. 

Di kota itu, Khidr mendapati bangunan yang hampir roboh, kemudian ia memperbaikinya.

Musa: “Kalau kau mau, kau bisa minta upah atas usahamu itu…” karena mereka tidak dijamu secara semestinya selaku tamu, dan mestinya ada hitung-hitungan balik atas jasa Khidr membetulkan rumah itu. Lumayan, upah itu bisa dibelikan bahan makanan dan bekal mereka dalam perjalanan.

Musa tidak mengingkari ataupun mempertanyakan, hanyalah berkomentar. Akan tetapi ini cukup sebagai pelanggaran fatal yang ketiga terhadap prosedur belajar yang menjadi komitmen bersama. 

Mereka Harus Berpisah

Sebelum berpisah, Khidr menerangkan kepada Musa rahasia di balik ketiga peristiwa aneh itu. Perahu yang dilubangi itu agar tidak dirampas raja (penguasa) zalim yang suka merampas perahu nelayan miskin. Anak kecil yang tampak lugu itu dibunuh karena nanti kalau sudah dewasa ia pasti memaksa kedua orang tuanya yang mukmin agar menjadi kafir. Sedangkan bangunan yang ia perbaiki itu di bawahnya ada harta dari orang tua saleh untuk dua anak yatim pemilik bangunan. Harta itu adalah simpanan dan bekal hidup buat kedua yatim tersebut. 

Musa menakar berdasarkan fenomena yang zahir, Khidr menakar yang batin. Musa melihat ‘yang sekarang’ Khidr sudah meneropong kepastian masa depan. Yang mungkar di mata Musa, ternyata merupakan sesuatu yang makruf. Khidr menempuh kemungkaran yang ringan guna mencegah kemungkaran yang lebih besar.

Syariat Nabi Khidr memang berbeda dengan syariat Nabi Musa. Akan tetapi baik Khidr dan Musa sama-sama bertindak berlandaskan wahyu. 

Tidak diceritakan bahwa pada akhirnya Musa menguasai ilmu yang dimiliki Khidr.  Namun yang jelas, saat bermulazamah dengan Khidr itu Musa mempelajari prosedur belajar dan komitmen belajar: yaitu sabar, tidak terburu-buru menghukumi, menyoal, mengkritisi atau mengingkari persoalan yang belum jelas. Karena yang pada lahirnya keliru ternyata benar pada akhirnya. Yang dipandang mungkar ternyata makruf.

Seorang pembelajar sangat membutuhkan toleransi yang besar atas kesalahan yang ia buat dalam proses belajar, terutama karena lupa. Pengajar atau fasilitator pembelajaran hendaknya tidak membebani atau mempersulit pembelajar dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. 

Semua proses belajar ini disaksikan oleh Yusya selaku murid Musa. Menurut Ibnu Katsir konteks ayat memang menekankan interaksi antara Musa dan Khidr hingga seakan meniadakan Yusya yang di awal kisah disebut selalu menyertai Musa. 

Proses pembelajaran langsung di lapangan ini sudah pasti mengguratkan kesan mendalam pada diri Yusya. Semua pelajaran moral, etika, cara berpikir, cara bersikap, cara bertindak, semuanya ia serap dalam konteks yang ia alami langsung. Pembelajaran yang takkan terlupa seumur hidup: menemani orang besar paling berilmu melakukan ekspedisi ilmiah menjumpai orang besar dan tokoh ilmu lain di belahan dunia yang lain.

Proses mulazamah kepada Musa ini merupakan proses pendidikan Yusya yang tadinya berstatus fataa (pemuda, bujang yang belajar kepada Musa) menjadi rajul (lelaki dewasa) yang mendukung dakwah dan perjuangan Musa bersama Bani Israil. Yusya adalah satu di antara dua laki-laki yang tersebut dalam Surat Al-Maidah ayat ke-23:  “Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, ‘Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman!’”

Yang dimaksud ‘dua orang laki-laki’ dalam ayat di atas adalah Yusya bin Nun dan Kalib bin Yufannah. Keduanya menyeru umatnya, Bani Israil, untuk memasuki kota Ariha untuk berperang.

Ketika Musa dan Harun wafat di Gurun Tih, Yusya menjadi nabi dan pemimpin generasi Bani Israil yang lebih baik dari pendahulunya. Bani Israil di era Musa tidak berani memasuki kota itu lantaran adanya penduduk yang bengis (jabbarin), sedangkan Yusya dan umatnya berhasil masuk dan menguasai kota Ariha hingga menduduki Baitul Maqdis.

Lewat metode mulazamah, Musa telah mewariskan pengetahuan dan pengalamannya secara berhasil kepada Yusya bin Nun. Wallahu a’lam bis shawab.

Deny Firmansjah
[Pendidik sekaligus blogger.]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *