Pentingnya Bahasa Arab bagi Seorang Muslim

Menteri Agama (Menag) RI, Yaqut Cholil Qoumas sempat dirundung oleh para warganet lantaran menggunakan penerjemah saat berbincang dengan pejabat Kerajaan Arab Saudi untuk kepentingan umrah dan haji tahun 2022. Sebuah video yang dibagikan oleh warganet melalui Twitter, Menag Yaqut terlihat sedang berbincang dengan pejabat Arab tersebut. Namun Menag menggunakan penerjemah untuk menerjemahkan percakapan bahasa Arab ke bahasa Indonesia, begitu pun sebaliknya.

Menag pun dirisak warganet. Sebab selama ini dikenal sebagai kader salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, dengan panggilan Gus atau anak Kiai. Tetapi tak bisa menggunakan bahasa Arab. Apalagi kedudukannya sebagai Menteri Agama di Negara mayoritas Muslim, dikutip dari jabarekspres.com.

Terlepas dari berita di atas, mari kita buat pertanyaan yang lebih umum, apakah pantas seorang ustadz, kiai, ataupun dai yang mereka mendakwahkan Islam secara masif pada khalayak umum dan berbicara tentang hukum-hukum Islam tapi tak mampu berbahasa Arab? Silakan masing-masing dari kita beropini.

Karena tidak ingin membahas terlalu dalam mengenai pertanyaan di atas, maka ada pertanyaan lain yang lebih umum dari sebelumnya, yaitu seberapa penting seorang muslim mempelajari bahasa Arab? Dan apakah seorang muslim itu harus banget mempelajari bahasa Arab? Jawabannya adalah, penting dan harus berusaha. Mengapa?

Karena ada beberapa poin penting yang perlu kita ketahui mengenai hal ini, yaitu:

  • Kita adalah Muslim

Suatu waktu, pernah ada video yang tersebar di media sosial tentang seorang anak yang berasal dari Cina ditanya “Kenapa kamu belajar bahasa Arab?” Jawaban anak tersebut sangat sederhana yakni, “Karena saya seorang muslim”. Tentunya kalau kita lihat, ini adalah jawaban yang sangat umum, namun sebenarnya jawaban ini sangat cukup untuk menjadi alasan bagi kita agar mempelajari bahasa Arab. Jika ingin bertanya lebih rinci lagi, tentu kita akan masuk ke poin berikutnya, “Memangnya kenapa kalau orang islam?”

  • Pedoman Kaum Muslim dalam Bahasa Arab

Menjawab pertanyaan pada poin pertama, karena pedoman umat Islam adalah Al-Quran dan hadis. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan kedua hal ini. Sebagaimana yang disabdakan oleh beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Aku tinggalkan sesuatu bersama kalian, jika kamu berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitabullah dan sunnahku.” (HR. Imam Malik)

Allah menurunkan Al-Quran dengan berbahasa Arab, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam surat Yusuf ayat ke-2 :

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّٗا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Quran berbahasa Arab, agar kamu mengerti.”

Begitu juga dengan hadis, yaitu perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dimana beliau berbicara dengan bahasa Arab. Dua sumber utama kita dalam memahami syariat Islam ini berbahasa Arab. Tidakkah kita ingin memahami agama yang benar ini langsung dari sumbernya, sebagaimana kita meminum air secara langsung dari mata air yang murni lagi jernih. Tentu sangat menyegarkan tenggorokan kita. Begitu juga dengan belajar bahasa Arab, maka Insya Allah itu adalah salah satu jalan bagi kita untuk dapat memahami syariat islam ini langsung dari sumbernya, Islam yang murni.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Iqtidha’ Shirotil Mustaqim, “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab. Maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah Ta’ala dan menegakkan syiar-syiar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.”

Beliau rahimahullah juga berkata, “Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama. Hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Quran dan As-Sunnah itu wajib, dan keduanya tidaklah bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah di dalam ilmu ushul fikih: sebuah kewajiban yang tidak akan sempurna (pelaksanaannya) kecuali dengan melakukan sesuatu (yang lain), maka sesuatu yang lain tersebut hukumnya juga menjadi wajib. Namun di sana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah.

Baca juga: Menggali Faidah Surat Al-Mulk Ayat ke-2

  • Bahasa Arab Merupakan Bahasa Penduduk Surga

Jika kita belajar sejarah Islam, tentu kita tidak asing dengan para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

Mereka adalah sepuluh sahabat Nabi yang Allah berikan jaminan surga bagi mereka. Apakah bahasa yang mereka gunakan? Tentu bahasa Arab karena mereka orang Arab dan hal ini menunjukkan orang-orang yang masuk kedalam surga adalah orang-orang yang menggunakan bahasa Arab, begitu juga dengan sahabat-sahabat Nabi lainnya rahimahumullah.

  • Generasi Terbaik Setelah Nabi Berbahasa Arab

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ…”

“Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka…”

Generasi setelah beliau shalallahu alaihi wa sallam dan yang setelahnya lagi disebut dengan generasi Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Mereka adalah generasi-generasi terbaik setelah generasi Rasulullah dan para sahabatnya. Orang-orang di kedua generasi tersebut juga menjadi rujukan kita dalam memahami Al-Quran dan Hadits yang merekapun berbahasa Arab. Tidakkah kita ingin mempelajari bahasa yang digunakan oleh orang-orang yang berada di generasi terbaik?.

  • Para Ulama Mewariskan Ilmu dalam Bahasa Arab

Ulama adalah pewaris para Nabi, mereka tidak mewarisi harta berupa dinar ataupun dirham, tetapi mereka mewarisi ilmu-ilmu yang dimiliki oleh para Nabi. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini:

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadis ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Hadisnya sahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih At-Targhib, 1/33/68)

Begitu pula ulama-ulama kita, para salafus shalih, mereka mewarisi ilmu-ilmu yang disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam secara bersanad kepada seluruh manusia hingga saat ini. Mereka menulis buku-buku mereka hampir sebagian besar dengan bahasa Arab. Mereka menyampaikan serta menjelaskan ilmu-ilmu Allah dan Rasul-Nya dengan bahasa Arab.

Memang, saat ini sudah banyak sekali buku-buku para ulama yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, akan tetapi rasanya akan berbeda ketika kita membaca tulisan-tulisan mereka secara langsung, karena sejatinya buku-buku terjemahan tersebut terkadang diterjemahkan sesuai dengan pemahaman dari masing-masing penerjemah dan bukan sesuatu hal yang tidak mungkin akan terdapat terjemahan-terjemahan, yang menggiring para pembaca untuk mengikuti pemahaman mereka. Bukan bermaksud untuk merendahkan buku-buku terjemahan, tetapi lebih kepada memotivasi kita untuk membaca  dari sumbernya serta memahaminya secara langsung, tentunya hal ini tidak akan dicapai kecuali kita mempelajari bahasa Arab.

Demikianlah lima poin yang dapat menjadi pegangan kita serta menjawab pertanyaan kita mengenai alasan untuk mempelajari bahasa Arab. Tentunya belajar bukan hal yang mudah, perlu usaha yang maksimal dalam menjalankannya. Ketika kita belajar bahasa Arab tetapi belum mampu juga memahami Al-Quran, hadis, maupun penjelasan-penjelasan para ulama, maka yakinlah Insya Allah, Allah akan tetap mengganjarkan pahala atas segala proses serta perjuangan kita dalam mempelajari bahasa Arab, selama kita meluruskan niat ketika mempelajarinya.

Abdillah Muqita Raminja
[Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Negeri Jakarta]

Referensi

https://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/manhaj/467-ulama-pewaris-para-nabi.html?pid=kondate_bangohan_detail

https://muslim.or.id/31097-pentingnya-mempelajari-bahasa-arab.html 

Leave a Reply

Your email address will not be published.