Piala Dunia Qatar 2022 Jadi Ajang Mengenal Islam

Dalam 30 hari (November – Desember 2022) perhatian warga dunia teralihkan ke perhelatan besar bertajuk Piala Dunia 2022. Event olahraga empat tahunan yang memantaskan sepakbola sebagai olahraga paling digemari ini, berlangsung di Qatar, sebuah negara di Timur Tengah. Dibandingkan perhelatan sebelumnya di negara lain, kali ini Piala Dunia digelar pada akhir tahun menyesuaikan iklim yang sedikit lebih sejuk di Qatar. Ada beberapa kontroversi menarik disekitar pemilihan Qatar dan prosesnya sebagai tuan rumah kali ini. Beberapa kontroversi tersebut adalah, pertandingan piala dunia dilakukan saat liga mayor di Eropa masih melaksanakan jadwal pertandingannya.

Kontroversi lain yang diangkat media global adalah isu tentang banyak buruh kerja meninggal dalam proses persiapan membangun stadion baru. Ditambah lagi larangan bagi kaum ‘pelangi’ yang dilarang memperlihatkan eksistensinya di negara milik raja tersebut. Bahkan para pemain pun dilarang untuk menggunakan ban kapten pelangi di lengan mereka. Aturan yang didukung oleh Presiden FIFA Gianni Infantino yang pernah main sepak bola bersama Ketua PSSI, Iwan Bule. Bahkan Infantino turut mendukung larangan minum alkohol bagi pendukung yang hadir ke stadion.

Sulit membayangkan pendekatan macam apa yang dilakukan delegasi Qatar ketika melobi tim FIFA hingga meloloskan aturan-aturan yang terasa janggal diterapkan dalam ajang sebesar Piala Dunia. Namun kita pun boleh berasumsi bahwa hal tersebut bisa terjadi lewat pendekatan uang yang sangat besar. Sebagai gambaran saja, Piala Dunia Qatar 2022 menjadi gelaran paling mahal sepanjang sejarah. Qatar menggelontorkan dana sebesar US$220 miliar untuk mewujudkan perhelatan akbar ini! Bandingkan dengan Brasil di posisi kedua, yang ‘hanya’ mengeluarkan dana US$15 miliar untuk menggelar Piala Dunia 2014 lalu.

Dalam pelaksanaannya, Piala Dunia kali ini memang berhasil mencuri perhatian dunia. Mulai dari acara pembukaan yang menghadirkan pembacaan ayat Quran hingga keramahan yang didapatkan pengunjung. Bagi warga jazirah Arab, perhelatan kali ini sekaligus dimanfaatkan sebagai etalase budaya mereka di hadapan warga dunia. Memperlihatkan betapa indahnya kultur bangsa Arab yang sering dianggap primitif dan ketinggalan zaman. Qatar telah berhasil mengubah persepsi dunia yang sering memandang wilayah Timur Tengah sebatas arena konflik, tempat pertempuran perebutan kekuasaan atas sumber daya minyak di bawah tanah mereka.

Hadis Nabi dalam Ajang Piala Dunia

Qatar merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Berada di deretan jazirah Arab, negara monarki ini bertetangga dengan Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi dengan sistem pemerintahan yang sama. Negara-negara tersebut dikenal sebagai negara kaya tempat para sultan dan emir bermukim. Wilayah mereka memiliki sejarah panjang, di mana tanahnya pernah menjadi saksi sejarah atas tapak kaki para orang mulia seperti Nabi dan Rasul di masa lalu. Maka masuk akal ketika ada yang mengatakan bahwa perhelatan Piala Dunia kali ini merupakan sebuah pertaruhan.

Piala Dunia kali ini dianggap dapat menjadi jembatan bagi masyarakat barat untuk dapat lebih mengenal kultur bangsa Arab. Selain itu, diharapkan pula dapat menghilangkan mispersepsi tentang keyakinan mayoritas di Timur Tengah yakni agama Islam. Dalam pencarian Google, kita dapat menemukan usaha Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia untuk memperkenalkan Islam kepada dunia. Mereka memasang kaligrafi kutipan hadis Nabi shalallahu alaihi wa sallam di beberapa tempat publik. Seperti hadis (yang artinya), “Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” Atau poster bertuliskan, “Barang siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” Masih ada beberapa kutipan hadis lain terpampang di beberapa tempat selama pergelaran Piala Dunia.

Pendekatan ala Qatar kepada masyarakat dunia untuk memperkenalkan Islam mungkin menimbulkan pertentangan bagi sebagian kaum muslimin. Sebab tidak dipungkiri dalam sebuah pertandingan sepakbola dan faktor pendukungnya, sangat mungkin muncul pelanggaran syariat di dalamnya. Semisal campur baur antara pria dan wanita, serta terpampangnya aurat dari sebagian orang yang terbawa euforia. Belum lagi perkara melalaikan waktu beribadah yang bisa saja terjadi ketika melihat serunya pertandingan sepakbola.

Di sisi lain, apa yang Qatar lakukan untuk memperkenalkan Islam melalui poster dan keramahtamahan mereka kepada turis asing mungkin saja beroleh pahala di sisi Allah. Ditambah dengan sajian kemewahan negara tersebut dalam penyelanggaran Piala Dunia kali ini. Secara psikologis orang memang lebih mudah luluh dengan pendekatan duniawi. Seperti halnya netizen yang mendadak bungkam dalam usaha menghujat seorang artis ketika ditawari uang tunai gratis. Bisa saja para turis asing dari Eropa maupun Amerika Latin bisa luluh hatinya, andai pun tidak mendapat hidayah dari Allah, minimal bisa lebih imbang dalam melihat Islam dan kaum muslimin yang kadang disajikan negatif oleh media di negara mereka.

Plus minus Piala Dunia Qatar dalam perspektif keislaman memang menarik untuk kita ikuti bersama. Terutama karena kita hidup di negara dengan mayoritas muslim, bahkan dengan kuantitas penduduk muslim terbesar di dunia. Terkadang kita perlu untuk melihat apa yang juga terjadi di negara ini. Ketika kita terkadang malu dalam mempraktikan syariat Islam di ruang publik. Ketika kita bahkan lebih menyukai pola pikir barat dibandingkan ajaran Nabi yang mulia, semata-mata karena terdisrupsi dengan pemikiran bebas ala mereka.

Bila suatu saat nanti Piala Dunia digelar di Indonesia, mampukah kita memperlihatkan ajaran Islam di hadapan publik dunia sebagaimana Qatar melakukannya? Ketika sekelas balap Moto GP saja, penyelenggaranya masih mengandalkan seseeorang yang dianggap dapat memindahkan hujan dengan mantra, semata-mata karena khawatir acara tidak berlangsung lancar.

Dimas Ronggo
[Magang di Ufukmedia.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *