Piala Dunia, yang Mengejutkan dan yang Semestinya Terjadi

Setiap orang punya cara untuk menghibur diri sendiri. Beberapa orang pergi ke tempat wisata bersama keluarga, yang agak alim mengunjungi pengajian-pengajian terdekat, yang mencintai alam lepas mendaki gunung, yang menyukai film pergi ke bioskop, yang mager duduk-duduk saja di pelataran rumah sambil ngopi, dan yang mencintai sepakbola akan menonton pertandingan-pertandingan sepakbola saban akhir pekan atau tiap turnamen besar diselenggarakan. Saya termasuk satu di antara jutaan orang yang masuk dalam golongan terakhir. Sepakbola, atau menonton sepakbola (secara khusus) adalah hiburan yang memikat. Meskipun sepakbola adalah hiburan, ia tidak selalu menjanjikan kesenangan. Ketegangan, amarah, hingga kesedihan bisa menjalari perasaan manakala menyaksikan pertandingan sepakbola.

Namun, di zaman di mana segalanya lazim disusun dalam bentuk grafis bertaburan angka dan nama-nama, sepakbola tidak bisa disederhanakan sebagai sekadar tontonan. Ada peran sains, matematika, ilmu ekonomi, kesehatan, hingga filsafat di dalamnya.

Opta Sports, sebuah perusahaan berkantor pusat di Inggris bertugas mengumpulkan berbagai macam data mengenai puluhan olahraga (termasuk sepakbola), data-data yang sering unik dan mencengangkan. Transfermarkt, perusahaan yang berkantor pusat di Jerman menyajikan data global nan penting sepakbola semisal harga pasaran pemain, jadwal pertandingan, hingga perjalanan karier pemain/ pelatih yang berguna untuk mengamati perkembangan pesepakbola atau tim tertentu.

Baru-baru ini seorang ahli dari Universitas Oxford mengeluarkan prediksi seputar pemenang Piala Dunia 2022 melalui model matematika tertentu. Belum lagi jika kita mengaitkan kekuatan perusahaan-perusahaan kelas dunia yang bekerja sama dengan tim sepakbola tertentu. Dari mulai Pangeran Arab hingga miliarder Amerika, akrab dengan sepakbola. Dengan kata lain, sepakbola hari ini bukan hanya milik para pencinta sepakbola. Ia milik semua orang dengan kepentingannya masing-masing.

Karena sepakbola telah menjadi milik semua orang (meskipun jelas tidak semua orang menyukainya), tidak ada salahnya kita bicara sedikit tentangnya. Khususnya, tentang Piala Dunia yang tahun ini terlaksana di tanah Arab.

Sejauh ini saya menonton sebagian besar pertandingan Piala Dunia 2022. Dari acara pembukaan yang dihiasi dengan pembacaan ayat Al-Qur’an hingga laga di mana Portugal menjungkalkan Swiss dengan skor telak 6-1 (ketika saya menulis ini, Piala Dunia 2022 baru akan memasuki Babak Perempat Final). Banyak hal mengejutkan dan memorable yang terjadi di Piala Dunia kali ini. Dari sujudnya para pemain Arab Saudi setelah mengalahkan Argentina di babak grup hingga tarian para pemain Brazil saat menaklukkan Korea Selatan. Bicara soal sujud, para pemain tim nasional Maroko juga melakukan selebrasi sujud selepas mengalahkan Spanyol di babak 16 Besar. Rasanya tidak ada Piala Dunia yang dihiasi dengan lebih banyak sujud (dan orang-orang bersorban, dan kibaran bendera Palestina!) daripada Piala Dunia 2022. Tapi itu tidak mengherankan mengingat siapa tuan rumahnya.

Baca juga: Selamat Tinggal Kabar Buruk, Selamat Datang Kabar Baik

Para pengagum sepakbola dibuat terperangah ketika tim-tim kecil atau yang dianggap kecil berhasil mengalahkan tim-tim besar atau yang dianggap besar. Jepang menundukkan Jerman dan Spanyol. Korea Selatan mempermalukan Portugal. Arab Saudi mengandaskan Argentina. Semuanya dengan skor identik: 2-1.  Pada satu titik sepakbola jadi tidak terlihat terlalu jomplang. Tidak ada tim yang terlalu menguasai pertandingan sehingga dijamin menang, tidak ada pula tim yang kalah bahkan sebelum bertanding. Setidaknya begitulah yang terjadi sampai babak grup berakhir.

Sayangnya, kejutan tidak bisa datang terus-menerus. Pada akhirnya, segala hal kembali kepada sebagaimana mestinya, sebagaimana yang biasa terjadi. Atau dalam bahasa Rolf Dobelli di buku The Art of Thinking Clearly: regresi menuju rata-rata. Arab Saudi kembali kalah dan tidak melaju lebih jauh dari babak grup, Jepang dan Korea Selatan terhenti di 16 besar. Satu-satunya “kejutan” yang masih tersisa hanyalah Maroko, satu-satunya negara Arab sekaligus Afrika yang masih mentas di Piala Dunia edisi sekarang. Itu pun sebenarnya bukan kejutan yang benar-benar mengejutkan. Sebelas pemain utama Maroko tidak ada satu pun yang bermain di Liga Maroko atau liga-liga Asia & Afrika. Para pemain utama Maroko berasal dari klub-klub Eropa, dari tempat-tempat di mana sepakbola tumbuh subur dan berdaya. Tapi apa pun itu, Maroko adalah Maroko. Kejutan adalah kejutan. Dilihat dari cara bermain Maroko dengan kekuatan utama pada sisi defensif, pencapaian Maroko menembus perempat final tidak bisa disebut sebagai kebetulan apalagi sebatas beruntung. Maroko memang layak menang dan meskipun peluang untuk mencapai babak selanjutnya apalagi menjadi juara sangat tipis, asa itu tetap ada. Akan sangat mengejutkan sekaligus menggetarkan jika Maroko menjadi juara Piala Dunia, lalu para pemainnya bersujud di tengah lapangan!

Kita semua menyukai kejutan. Meskipun kita harus akui kejutan jarang terjadi. Kejutan hanya menjadi anomali, hanya menjadi semacam pemandangan tambahan agar apa-apa yang biasa kita saksikan tidak kelewat menjemukan dan gampang ditebak. Yang semestinya terjadi dan yang biasanya terjadi adalah hal-hal yang lumrah. Di Piala Dunia ini, jika kita tidak membawa pretensi apa-apa dan harapan-harapan yang kelewat muluk, paling-paling kita akan melihat tim-tim tradisional macam Brazil, Argentina, atau Prancis yang akan angkat piala. Dan itu memang yang semestinya terjadi jika kita mempertimbangkan semuanya dengan hitung-hitungan rasional. Tim-tim itu memiliki banyak pemain kelas dunia yang secara reguler bermain di tim-tim besar dunia. Kejutan memang menyenangkan, tapi kita tidak bisa selamanya mengharapkan hal-hal yang tak lumrah bergulir tanpa henti.

Dalam sepakbola, atau dalam semua lini kehidupan secara umum, sebenarnya tidak ada sesuatu yang benar-benar mengejutkan. Semuanya terjadi melalui proses panjang, bertahap, dan berkelanjutan. Semua orang boleh-boleh saja mengharapkan kejutan. Misalnya, mengharapkan Indonesia lolos ke Piala Dunia atau lebih ekstrem lagi jadi jawara Piala Dunia. Tetapi, toh, kejutan paling kecil sekali pun tidak bisa muncul sekonyong-konyong. Ada rencana-rencana panjang di baliknya, ada trial and error yang musti dilalui, ada jalan-jalan dan tangga-tangga yang harus ditapaki. Hari ini mungkin anda akan menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Meskipun saya yakin sekali, anda akan jauh lebih banyak menyaksikan hal yang semestinya terjadi. Mau bagaimana lagi, begitulah cara dunia bekerja. (*)

Erwin Setia
[Kolumnis di berbagai media online, penulis cerpen, alumni SMA Future Gate]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *