Pijat untuk Penanganan Pertama Cedera Olahraga, Bolehkah Dilakukan?

Manusia perlu melakukan aktivitas fisik dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tujuannya agar organ di dalam tubuh manusia berfungsi dengan baik. Banyak macam dan jenis aktivitas fisik yang dilakukan manusia, yang pertama adalah NEPA (Non-Exercise Physical Activity) dimana aktivitas ini tidak memiliki struktur baku dalam melakukannya semisal, berjalan, menyapu, mengepel dan aktivitas ringan lainnya yang dilakukan oleh manusia.

Selain NEPA, ada pula yang berlatih untuk mencapai kebugaran tersendiri kita atau dikenal dengan istilah exercise. Aktivitas ini perlu memiliki struktur baku tertentu diawali dari pemanasan, kemudian aktivitasnyapun sudah direncanakan: berapa jarak yang ditempuh, beban yang diangkat, maupun durasi yang diperlukan. Beberapa di antaranya bersepeda, jogging, sampai latihan kekuatan otot menggunakan beban seperti dumbbell, barbell, dan weight machine.

Bentuk aktivitas fisik yang terakhir ialah olahraga (sport) bentuk aktivitas ini memerlukan latihan yang tersetruktur, dan diperlombakan dalam ajang olahraga baik bergengsi tingkat kelurahan dan kecamatan sampai ke taraf internasional yang tujuannya untuk memperoleh prestasi. 

Beragam aktivitas tersebut tidak lepas dari yang namanya cedera. Maka ketika seseorang melakukan aktivitas fisik, ia perlu memfungsikan organ dalam tubuhnya dengan baik sehingga otot-otot tadi yang masih kaku kembali fleksibel agar tidak mudah mengalami sobekan yang besar di bagian otot.

Cedera juga sangat banyak ditemukan pada aktivitas fisik seperti memar karena benturan kontak fisik pada saat berolahraga yang bisa disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Olahraga kontak fisik seperti olahraga bela diri memiliki persentase besar terkena cedera pada tubuh manusia biasanya memar. Pada saat cedera biasanya ada yang penanganannya langsung dipijat dengan tenaga yang profesional maupun non-profesional.

Namun apakah penanganan pijat pada cedera dapat efektif pada setiap kondisi? Jawabannya, tidak semua cedera olahraga itu bisa dilakukan metode pijatan setelah mengalami cedera 1×24 Jam. Kita perlu mengetahui seberapa parah cedera tersebut. Jika seseorang mengalami cedera dalam tubuh seperti memar dan lainnya.

Baca juga: Tetap Bugar dengan Olahraga di Bulan Ramadan

Pijat Bukan Solusi Utama

Ada satu metode yang direkomendasikan oleh ahli medis pada saat kita mengalami cedera yang sifatnya ringan sampai sedang dengan waktu ± 48 Jam setelah cedera, yaitu metode R.I.C.E. (Rest, Ice, Compression, Elevation). Metode ini sangat membantu seseorang yang mengalami cedera akibat berolahraga.

Rest, pertama kali yang perlu dilakukan setelah olahraga adalah dengan beristirahat. Jangan langsung berolahraga kembali, apalagi langsung dipijat. Mengapa pijatan pasca cedera tidak boleh dilakukan untuk penanganan pertama? Dikarenakan jika ada pembengkakan pada anggota tubuh, jika dipijat maka akan lebih merusak jaringan pembuluh darah yang rusak tadi. Sehingga pembengkakan dan pemulihan jaringan didalam kulit akan semakin lama pulih.

Kemudian tahap selanjutnya adalah ice yaitu pemberian kompres dingin pada bagian anggota tubuh yang terkena cedera tadi. Tujuannya adalah memulihkan jaringan dibawah kulit yang terkena cedera. Pemberian kompres dingin ini dibutuhkan oleh seorang yang mengalami cedera olahraga pada waktu ± 24 jam. Akan tetapi pemberian kompres dingin tidak perlu berlebihan dikarenakan akan menyebabkan kebakaran di bagian kulit akibat suhu yang rendah. Selain itu, pemberian ice juga sangat dibutuhkan tujuannya untuk mereduksi rasa sakit yang dirasakan oleh manusia yang terkena cedera. Jika rasa sakit masih terasa sampai lebih 24 jam akibat terjadinya inflamasi pada anggota tubuh. Maka pemberian kompres dingin bisa dilanjutkan hingga ±48 jam pertama setelah cedera.

Tahap ketiga adalah compression atau balutan akibat luka luar yang mengakibatkan pembuluh darah manusia jadi robek, sehingga darah terus keluar tubuh. Hal ini perlu dibalut dan ditekan agar perdarahan tidak terlalu berlebihan. Kemudian setelah dibalut menggunakan kain elastis yang bertujuan untuk mengurangi perdarahan.

Tahap terakhir yang perlu dilakukan yakni perlu adanya teknik elevation. Teknik ini digunakan dengan cara melakukan peninggian cedera pada anggota tubuh lebih tinggi daripada jantung. Elevasi atau mengangkat bagian yang cedera dapat membantu untuk mengurangi pembengkakan dengan bantuan gravitasi, Jika memungkinkan, disarankan agar pengangkatan dilakukan lebih tinggi dari jantung untuk memudahkan aliran darah balik ke jantung. 

Kita dapat mencoba mempraktikkannya jika mengalami cedera atau melihat seseorang di sekitar terkena cedera saat beraktivitas. Metode R.I.C.E. ini efektif untuk menangani cedera yang sifatnya ringan dan sedang, seperti keseleo, terkilir, memar, dan cedera lainnya yang terjadi pada jaringan halus. Namun, jika cedera bersifat serius seperti kerusakan parah di jaringan halus hingga patah tulang (fracture), disarankan untuk segera mencari pertolongan medis dan berkonsultasi dengan dokter untuk pengobatan dan terapi lebih lanjut.

Apabila kita mengalami cedera dislokasi pada saat berolahraga, maka sangat fatal jika dilakukan dengan tenaga yang bukan ahli. Maka dari itu kita perlu berkonsultasi dengan tenaga medis dan tidak asal gegabah dalam mengambil keputusan dalam mengatasi masalah pada saat terjadinya cedera dalam beraktivitas fisik.

Ahmad Syauqi Al Fanjari
[Alumni Ilmu Keolahragaan, Universitas Jakarta ini dipercayakan untuk memberikan pengajaran olahraga dan kesehatan (PJOK) bagi para siswa.]

Leave a Reply

Your email address will not be published.