Recovery Karakter dalam Pendidikan Berbasis Fitrah

Ketidaktahuan, kebodohan dan kelalaian adalah bencana. Lalu patut dipahami bahwa, setiap bencana membutuhkan pemulihan. Untuk sampai pada pemulihan paripurna dari ragam bencana individual yang disebutkan di awal, perlu adanya tahapan. Tahapan-tahapan tersebut dibangun atas beberapa keadaan di antaranya:

Pertama, diperlukan adanya identifikasi (rekognisi) masalah. Kedua, perlu ada keprihatinan dan penyesalan mendalam akan bencana yang terjadi. Ketiga, ada tekad kuat untuk meninggalkan kesalahan dan menempuh jalan hidup yang baru. Keempat, harus ada usaha optimal dalam menempuh langkah-langkah positif yang kelak mengembalikan kondisi rusak sebelumnya menuju normalitas semula.

Jangan dilupakan bahwa pemulihan itu dilakukan dalam kerangka ruang dan waktu. Pemulihan membutuhkan ruang yang kondusif dan rentang waktu tertentu, mungkin juga fase-fase yang dirancang secara sadar dan terencana.

Ruang adalah lingkungan. Orang yang hendak melakukan pemulihan harus bermigrasi ke ruang pemulihan yang lebih kondusif. Komunitas yang dihadapi sehari-hari: wajah-wajah manusia, dengan segala perilaku dan perlakuannya ternyata ‘berpengaruh’ menyeret seseorang ke arah yang positif atau sebaliknya.

Waktu adalah obat. Trauma perlu dilupakan. Memori-memori buruk yang semestinya terhapus juga membutuhkan waktu. Sebaliknya, memulihkan yang hilang agar tumbuh kembali juga memakan waktu. Proses dan transformasi pada dirinya sendiri membutuhkan durasi.

Dalam bingkai pendidikan, rentang usia manusia ternyata memiliki fase-fase fitrati dengan karakteristik perkembangannya masing-masing. Dan memang demikianlah yang disaksikan pengalaman: tiap tahapan usia mempunyai gejolak dan konfliknya sendiri-sendiri. Jika terlewatkan akan ada risiko yang harus diterima: rasa tidak percaya kepada orang lain, sikap malu dan ragu, alienasi dan rasa bersalah, inferioritas, kebingungan peran dan kelemahan jiwa, kesepian, apatisme dan keputus-asaan, sebagaimana dinyatakan teori perkembangan Erik Erikson.

Bagaimana Pemulihan Bisa Berjalan Optimal?

Dalam ‘Fitrah Based Education’ Harry Santosa yang kemudian dimodifikasi menjadi ‘pendidikan karakter nabawiyah’ oleh Abdul Kholiq Djunaidi, orang yang telanjur luput dari fase fitrahnya membutuhkan ‘pemulihan’ alias ‘tashlih’ atau bisa juga disebut ‘recovery’. 

Ini berarti mengulang fase yang terluput itu dengan mengisi ‘kebutuhan’ jiwanya yang melompong pada taraf usia yang terlewat. 

Seorang dewasa yang masa kanaknya kurang bahagia akan menampakkan gejala ‘inner child’: sikap emosional kekanak-kanakan yang tidak sejajar dengan kapasitas usia dan kapasitas intelektualnya. Ini karena egosentrisme, kepekaan dan kebutuhan emosinya tidak terpenuhi pada masa emasnya (0-7 tahun).

Seorang remaja yang tidak terpenuhi naluri egosentrismenya (di masa kanak 0-7 tahun) akan menampakkan gejala-gejala penyimpangan yang justru membutuhkan perhatian lebih besar. Remaja ini mengaku ‘terkekang’ –mungkin oleh sebab perintah-larangan-kemarahan dari luar (dalam hal ini orang tuanya) atau oleh ‘pengetahuannya’ sendiri.

Pengetahuan itu ternyata hadir bukan sebagai hasil dari suatu dialog yang mematri kesadaran nuraninya. Pengetahuan yang dirasakannya ‘menuntut’ dan ‘membebani’, bukannya memantik tindakan dan perilaku yang lahir dari keinginan dan kerelaan dirinya.

Dalam metode Sentra -salah satu metode pembelajaran pendidikan anak usia dini yang fokus pada pengembangan karakter – guru dilarang melakukan 3M: memerintah, melarang dan marah. Agaknya  hal ini sejajar dengan pendidikan karakter nabawi yang mengakui tiadanya taklif (pembebanan syariat) pada anak-anak usia di bawah 7 tahun. Yang jarang diketahui orang adalah bahwa Rasulullah tidak mendidik dengan kemarahan. Seperti ditegaskan Abu Ihsan Al Atsary:  tidak ada satu pun riwayat yang mengisahkan Rasulullah marah dalam mendidik. Terutama terhadap orang kafir yang sedang dilunakkan hatinya, terhadap anak kecil dan orang-orang jahil (tidak mengerti ilmu).

Sifat mudah marah akan menjauhkan hati anak dari ayah dan bundanya. Dampak buruk lain adalah anak akan merasa aman ketika berbuat salah, ia akan terus melanggar dan menunggu sampai orang tuanya benar-benar marah. Anak yang terbiasa dididik dengan kekerasan dan kemarahan akan kebal dengan nasehat dan gamang dengan kelemahlembutan. (Ummu Ihsan Choiriyah & Abu Ihsan Al Atsary, Mendidik Anak Tanpa Amarah, 2022, halaman 13).

Rasulullah hanya marah kepada orang yang memang fondasi keimanannya sudah kuat, yang jika dimarahi dia akan tetap istiqamah dan imannya tidak goyah. Marahnya itu pun karena Allah, karena alasan agama, bukan alasan pribadi.

Bila mengikuti tahapan dalam pendidikan karakter nabawiyah: usia 0-7 tahun masa penumbuhan karakter iman, 7-10 tahun masa penumbuhan karakter belajar, dan 10-aqil baligh masa penumbuhan karakter bakat, maka betapa banyak yang terluput dalam sistem pendidikan konvensional kita. Orangnya sudah dewasa namun ternyata iman tidak tumbuh, semangat belajarnya nihil dan bakatnya tidak tersalurkan. Tidak ada pembimbingan bakat secara terarah sehingga terjadi mismatch antara dunia pendidikan dan lapangan kerja. Tidak ada pemetaan bakat dan bimbingan karir yang efektif. Yang berarti pula: banyak manfaat sosial yang hilang. 

Kompetensi dan karakter (karakter iman, moral dan kinerja) tidak tercapai, sehingga diperlukan upaya recovery yang memakan waktu dan membutuhkan penataan ruang yang kondusif. Selain menyerap anggaran yang lebih besar, juga ada ‘biaya sosial’, ‘biaya psikologis’ yang mesti ditanggung. Keterlanjuran membuat perkembangan karakter iman, karakter belajar dan karakter bakat manusia tidak tumbuh secara semestinya. Iman tanpa belajar menghasilkan pribadi yang agamis, namun tidak kreatif. Iman tanpa bakat membuat orang religius namun sedikit kemanfaatan sosialnya. Punya daya belajar tetapi tanpa iman melahirkan kreativitas yang merusak. Belajar tanpa bakat melahirkan pribadi pembelajar yang minim manfaat secara sosial. Bakat tanpa iman berarti produktif tapi merusak.  Bakat tanpa belajar, produktif tapi tidak kreatif.

Jika suatu generasi punya karakter iman, karakter belajar dan karakter bakat namun tanpa disertai ‘perkembangan’ yang berarti maka ia menjadi generasi yang tidak matang dan utuh. Jika suatu generasi berkembang tanpa iman, belajar dan bakat maka ia menjadi generasi yang bodoh, tidak kreatif dan merusak. Yang kita maukan adalah generasi yang karakter iman, belajar dan bakatnya berkembang dengan baik sehingga menjadi generasi yang kreatif, produktif dan berakhlak mulia. (Abdul Kholiq, Recovery Karakter Berbasis Fitrah, 2018, dari Gambar 4.1. di halaman 117) 

Kesadaran akan pentingnya materi esensial dalam pembelajaran, penguatan karakter dan budi pekerti, literasi-numerasi, dan sejumlah keterampilan hidup abad XXI (komunikasi, kolaborasi, kritisisme, kreativitas) dalam ‘Kurikulum Merdeka’ sesungguhnya membuka ruang yang lebih luas bagi sekolah-sekolah untuk menerapkan otonominya. 

Sekolah-sekolah menghadapi pekerjaan rumah saat menerima ‘input’ peserta didik yang karakter iman, karakter belajar dan karakter bakatnya tidak tumbuh dan berkembang dengan baik. Karakter iman membutuhkan pendidikan hati. Apakah sekolah beritikad menyediakan ruang dan waktu yang cukup untuk menyelenggarakan pendidikan hati yang bertujuan me-recovery iman para peserta didiknya? 

Di dalam rumah, terhadap pemuda yang membutuhkan recovery orang tua perlu melakukan strategi yang juga membutuhkan ruang, waktu dan biaya. Anak membutuhkan emotional approach yang tersimpul dalam bentuk perhatian, dukungan, kebersamaan (quality time), apresiasi, interaksi fisik dan pelayanan (act of service) yang luput dari masa emas (0-7 tahun) dan masa penumbuhan karakter belajar serta bakatnya (7-15 tahun).

Satu solusi mungkin tidak mencakup semuanya. Dibutuhkan kerja sama rumah-lingkungan-sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan karakter dan recovery karakter yang berhasil.  Langkah recovery yang komprehensif hanya bisa didukung oleh kemudahan takdir dan hidayah taufik dari Allah Yang Maha Kuasa melalui ikhtiar dan doa yang ikhlas lagi tanpa putus dari para pendidik dan orang tua.

Wallahu a’lam bis-shawab.

Deny Firmansjah
[Pendidik sekaligus blogger.]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *