Resensi Buku: Segala-galanya Ambyar – Sebuah Buku tentang Harapan

Buku berjudul asli Everything is F*cked (dalihbahasakan menjadi Segala-galanya Ambyar) dengan genre self improvement ini, berisi tentang bagaimana mengajak seseorang untuk meniti harapan dan memiliki kebahagiaan. Untuk mencapai tujuan ini, penulis membukanya dengan menganalogikan pikiran manusia sebagai sebuah “Mobil Kesadaran” yang memiliki dua penumpang yaitu Otak Pemikir yang berbicara tentang pikiran sadar, logika, kalkulasi dan cara mengekspresikan ide melalui bahasa, sementara Otak Perasa berbicara tentang emosi, nilai-nilai.

Menurut Mark, kedua “penumpang” tersebut harus seimbang. Otak perasa tidak boleh dimanja, tetapi tidak boleh pula diabaikan, yang jika diabaikan akan mematikan rasa emosi dan pandangan tentang nilai-nilai dalam masyarakat.

Buku Segala-galanya Ambyar menjadi cukup kompleks. Saat penulisnya menggunakan argumen dan contoh kasus yang ringan, tetapi tak sedikit menggunakan analogi-analogi yang cukup memeras otak saya.
Secara umum, buku ini bagus dalam membangun sebuah kesadaran bagaimana manusia sebagai individu dapat menerima manusia lain dengan tulus. Menjadikan sebuah hubungan sosial sebagai tujuan, bukan sebagai sarana.

Namun demikian, bagi saya (peresensi) yang seorang muslim, buku Segala-galanya Ambyar cukup membuat syok pada bagian tengahnya. Penulis menyentil tentang permasalahan sudut pandang agama, dogma dan bentuk keyakinan individu, yang menurut saya cukup sensitif untuk diangkat sebagai sebuah analogi. Hingga saya menarik kesimpulan, buku ini hanya bersifat hubungan horizontal antar manusia (habluminannas) dan abai terhadap perbaikan hubungan vertikal kepada Tuhan (hablumminallah).

Tetapi, jika dipandang dari nalar psikologi dan ilmu parenting, banyak hal yang dapat dipelajari dari buku ini. Di antaranya, bagaimana menjadikan anak-anak memiliki “resilience value” agar menjadi anak-anak yang tangguh. Karena nyatanya kedewasaan tidak berbanding lurus dengan usia seseorang.
Inilah pandangan peresensi secara pribadi tentang buku ini. Dari buku ini, saya mendapatkan ide dan tertarik untuk menggali lagi tentang: ”Self Serving Bias”. Bagaimana dengan Anda?

Penerbit: Grasindo
Penerjemah: Adinto F. Susanto
Cetakan: V, September 2020
Jumlah Halaman: 346 hlm

Baca juga: Resensi Buku: Insecurity is My Middle Name

Muhammad Aidul Bakri
[Penulis buku “Untuk Apa Aku Hidup?” ini bertugas sebagai staff perpustakaan di SMA Future Gate.]
IG : @muhammaddhri
Tumblr : @muhammaddhri
Twitter : @muhammaddhri

1 thought on “Resensi Buku: Segala-galanya Ambyar – Sebuah Buku tentang Harapan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *