Ritus Kondangan

Malam itu kita pergi kondangan

Naik andong kehujanan,

kudanya lari kencang:

kling klong kling klong

Sajak Joko Pinurbo

 

Selaku orang kampung, maksudnya tidak tinggal di Kebayoran Baru, Pondok Indah atau Kelapa Gading. Menghadiri kondangan, adalah semacam kewajiban. Kewajiban sosial lebih tepatnya. Meski tidak mengenal betul pihak yang mengundang –lantaran masih ngontrak- hadir di kondangan bisa jadi merupakan kesempatan untuk mengakrabkan diri dengan warga sekitar.

Kesempatan nyambung bersama warga itu tidak terjadi setiap saat melainkan pada momen-momen tertentu; saat tiba giliran ronda, ketika bersama-sama kerja bakti (kecuali lagi malas), arisan (tidak diajak), kematian (pengurusan jenazah sampai dikubur) dan kondangan alias walimah pernikahan.

Tidak diundang kondangan rasanya seperti menjadi ‘the other’. Sementara yang mengundang juga serba salah: diundang tidak kenal, kurang akrab, bukan penduduk asli, orang kontrakan–kalau diundang jangan-jangan keberatan datang. Apalagi yang diundang benci sama musik dangdut atawa organ tunggal yang diisi oleh biduan. 

Sementara itu di segmen kampung yang lain, kondangan menjadi kewajiban sosio-finansial tersendiri. Nah lho, maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Kalau suatu saat tamu kondangan kasih amplop dan amplopnya itu berisi uang dua puluh ribuan, maka bila si tamu tersebut mengadakan hajatan di masa mendatang, umpamanya menikahkan putranya, maka kita punya kewajiban mengembalikan  uang dua puluh ribu itu dalam amplop yang kita kasih. Semua besaran rupiah dari setiap tamu kondangan dicatat oleh petugas khusus. 

Bisalah dibayangkan, betapa repotnya menunaikan kewajiban alias ‘hutang’ sosio-finansial itu. Jika tamu yang hadir ada 200 orang, maka ada 200 event hajatan di mana kita harus mengembalikan besaran uang kondangan itu kepada masing-masing penyelenggara. Ini bisa jadi kewajiban seumur hidup alias sampai mati. 

Kondangan model demikian adalah semacam arisan terselubung. Akan tetapi kalau kita husnuzon, mungkin itu cara orang kampung membangun kohesi sosialnya. Orang harus terus menghadiri kondangan supaya silaturahmi berlanjut dan jangan sampai putus bahkan sampai ke anak cucu.

Cobalah bayangkan, suatu masyarakat kampung yang guyub – di mana seseorang mengenal orang lain, teman satu kampungnya- sedari kecil sampai tua bangka, ternyata menyelenggarakan kegiatan komunalnya -yakni kondangan- berdasarkan asas hitung-hitungan semacam itu. 

Maka, hanya ada dua kemungkinan penyebab: pertama, masyarakat itu mayoritasnya miskin, sangat membutuhkan uang, hingga jadi pelit dan benar-benar perhitungan. Atau kedua, pada dasarnya paguyuban itu sendiri tidak menafikan individualisme: semacam sikap mementingkan diri sendiri. Kemungkinan kedua ini bila kita memakai pendekatan baik sangka (husnuzon approach) di atas, gugur dengan sendirinya.

Itulah keluhan emak-emak dan babe-babe gaul: anggaran belanja rumah tangga seringkali tersedot untuk menghadiri kondangan ke kondangan. Khususnya dalam konteks hutang sosio-finansial tadi. Seiring dengan banyaknya kenalan, banyak rekan satu pengajian atau kumpulan, teman arisan, karib kerabat yang dekat maupun jauh, baik karena hubungan darah (keturunan) atau hubungan kawin-mawin di satu kampung, kondangan seakan merupakan rutinitas yang tiada habisnya.

Menghadiri kondangan juga menjadi alamat solidaritas dan kedekatan emosional antar teman. Luput menghadiri undangan pernikahan teman atau teman yang ngawinin anaknya misal, bisa menghadirkan perasaan bersalah. Seakan-akan kita tidak peduli dan tidak support selaku teman di momen terpenting kehidupannya. Padahal, bisa jadi nama kita adalah sebagian kecil saja dari sekian daftar nama undangan lain yang justru lebih penting: para tokoh masyarakat, pimpinan perusahaan tempatnya bekerja atau para calon pejabat yang sedang kampanye.

Lagi pula, tidak bisa dipungkiri ada orang yang hadir kondangan dengan semangat mengisi presensi. Tampaknya seakan mengisi formalitas saja, padahal demikianlah senyatanya. Habis makan, kasih amplop, jabat tangan, lantas pulang. Masak kita mau nambah sepiring lagi atau ngopi barang sejam-dua jam, ya tidak sepantasnya. Kecuali jika kita ditunjuk sebagai petugas keamanan atau jadi pagar ayu (pagar ambruk, kali?).

Usai lebaran haji kita memasuki musim hajatan lagi. Kalau tidak diundang kondangan maka semua kemungkinan bisa saja dihadirkan; kita memang the other, pihak pengundang kasihan karena mungkin kita tidak punya uang buat ngamplopin, kasihan karena jaraknya jauh, atau, kemungkinan besar adalah ini: yang mengundang tahu bahwa kita benci musik dangdut. 

Deny Firmansjah
[Pendidik sekaligus blogger]

1 thought on “Ritus Kondangan

Leave a Reply

Your email address will not be published.