Ruang Belajar Ideal untuk Meraih Hasil Maksimal

Dalam proses belajar, tidak jarang kita mendapati kondisi di mana merasa kesulitan dan kesulitan untuk mencapai target belajar atau bahkan mengumpulkan mood untuk belajar. Contoh sederhana, ketika kita belajar untuk ujian, membaca buku teks dengan konsentrasi penuh itu seringkali hanya bertahan dalam waktu di bawah satu jam, bahkan studi menyatakan kapabilitas mempertahankan fokus pelajar hanya dalam rentang waktu 10-15 menit. Tak jarang pula kita mendapati saat mempersiapkan presentasi, kita merasa ide-ide sulit datang, monoton, kurang kreatif atau bahkan stuck sama sekali.

Neuroscience, ilmu yang mempelajari sistem saraf (nervous system), menjelaskan bagaimana fungsi otak kita bekerja serta dampaknya dalam proses kita belajar. Seperti halnya kondisi emosional kita saat belajar, kemampuan serta pengetahuan yang telah dikuasai sebelumnya dengan topik yang kita pelajari, dan keikutsertaan indra yang kita gunakan di saat belajar. Mungkin di antara kita sudah tidak asing lagi dengan istilah pembelajar auditori, visual atau kinestetik.  

Kondisi-kondisi tersebut, bila diperhatikan dengan seksama, bersifat internal atau bergantung dari dalam tiap individu dalam belajar. Bagaimanakah dengan faktor-faktor yang bersifat fisik dan eksternal, seperti ruang belajar, suasana sekitar saat belajar dan posisi tubuh di saat kita belajar? Telah dilakukan beberapa studi terkait lingkungan belajar yang bersifat fisik dapat memengaruhi daya kognisi seseorang, meskipun kasus studi yang diambil condong pada pembelajar desain atau arsitektur. 

Studi tentang lingkungan belajar (learning environment), khususnya ruang belajar [learning space], berdampak pada efektivitas daya belajar seseorang. Hal ini diyakini tidak berbatas untuk pembelajar desain, namun juga berlaku untuk pembelajar secara umum. Pada tulisan kali ini, kita akan lebih berfokus kepada ruang belajar. Mengapa demikian? Karena, ruang belajar (learning space) merupakan lingkungan yang bersifat fisik atau tempat dimana kegiatan belajar dan mengajar berlangsung.

Baca juga: Matematika di Sekitar Kita

Tipe Ruang Belajar

Ruang belajar dapat dikategorikan menjadi lima tipe dengan lima kualitas ruang (Thoring, dkk. 2012). Kelima tipe tersebut adalah : ruang pribadi (personal space), ruang kolaborasi (collaboration space), ruang pembuatan (making space), dan ruang transisi (transition space). Sedangkan, lima kualitas ruang adalah space as a knowledge processor, space as an indicator of (organizational) culture, space as a social dimension, space as stimulation, dan space as infrastructure. Berikut ilustrasi yang diberikan untuk memudahkan pembaca:

Ruang belajar seperti apa yang cocok untuk kita?

Kecocokan ruang belajar bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan dan tugas yang kita kerjakan atau pelajari. Tentunya sangat banyak ruang belajar yang bisa dibentuk, mengingat bervariasinya pembelajaran yang mungkin kita lakukan. Berikut beberapa saran ruang belajar yang mungkin cocok untuk kita berdasarkan jenis pekerjaan atau tugas belajar yang kita lakukan secara umum: 

  1. Tugas yang berkaitan dengan kebebasan ide, butuh kreativitas dan bersifat mandiri, seperti tugas mendesain, menggambar, brainstorming ide, atau tugas kesenian. Ruang yang terbuka yang membentang dan lingkungan bisa menjadi pilihan, seperti pegunungan atau bukit, pantai, lanskap alam, atau bahkan rooftop pencakar langit.  
  1. Tugas yang membutuhkan fokus, konsentrasi dan bersifat mandiri seperti pekerjaan rumah sekolah atau menulis kode programming. Ruang belajar baiknya dibuat terisolasi untuk menghindari distraksi atau gangguan di sekitarnya seperti ruang belajar yang menggunakan sekat, meja belajar sendiri, ruang yang relatif kedap suara dan tidak terbuka seperti studio.
  1. Tugas yang membutuhkan interaksi, kolaborasi dengan pihak lain ataupun bersifat komunal seperti keperluan rapat, konferensi ataupun pertunjukkan. Ruang belajar yang dibentuk biasanya bersifat “melingkar” dengan adanya titik fokus, tidak terisolasi dan bisa saling berhadapan. Contohnya adalah ruangan meeting, coworking space, amphitheatre atau jika skala besar seperti stadion.  

Bagaimana jika ruang belajar yang ideal untuk saya tidak tersedia di lingkungan ataupun sekolah saya?

Pengimplementasian ruang belajar ini tidaklah bersifat kaku dan saklek. Untuk mudahnya, ruang belajar ini seperti “alat” bantu kita dalam membangun mood ataupun suasana belajar yang nyaman dan fokus. Jadi penyesuaian ruang belajar tidaklah bersifat wajib dirpenuhi untuk belajar. Bahkan ruang belajar ideal masih terus dikembangkan dan dipelajari.

Namun jika dihadapkan dengan kondisi yang tidak sesuai, kita dapat melakukan “ilusi” serta mengakali bahwa kita seakan-akan memiliki ruang belajar ideal yang kita butuhkan. Di antaranya dengan pemanfaatan ilusi optik baik dengan warna, suara, bentuk, pengaturan keterangan cahaya, dan faktor lainnya. 

Hal ini juga bisa menjadi pemantik kita untuk menyelami lingkungan baru yang belum kita jelajahi sebelumnya yang tentunya terbatas pada lingkungan yang baik untuk diri kita. Keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang namun terkadang bisa juga menjadi ground-breaking solution yang memberikan manfaat kepada orang lain.

Semoga tulisan ini memberikan manfaat dan silakan coba ekplorasi juga ruang belajar seperti apa yang cocok dengan kita dengan faktor lain sehingga memaksimalkan kita dalam belajar, baik yang bersifat akademik ataupun nonakademik.

Raihan Dwianto
[Alumni Universitas Gadjah Mada Program Studi Matematika & Pengajar Matematika di SMA FG.]

Referensi:

Leave a Reply

Your email address will not be published.