Selamat Tinggal Kepo, Selamat Datang Fomo

Konsekuensi dari tumbuhnya penggunaan peranti ponsel pintar adalah penggunaan paket data yang kian menjadi kebutuhan. Peranti ponsel pintar takkan ada artinya, sekalipun memiliki paket data berlimpah, jika tak disertai dengan rutinitas penggunaan sosial media. Sosial media terus memberikan pertumbuhan angka signifikan, khususnya di kalangan pemuda. Dari angka tersebut, penyumbang terbesar berasal dari wilayah kota metropolitan.

Berdasarkan laporan We Are Social yang dilansir dataindonesia.id, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia sebanyak 191 juta orang pada Januari 2022. Jumlah itu telah meningkat 12,35% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 170 juta orang. Penetrasi yang tinggi terhadap penggunaan media sosial, menyumbang animo untuk senantiasa memperbarui informasi. Tingginya upaya untuk memperbarui, membawa pada akibat baru yakni sulitnya memilah mana yang tepat dan sesuai bagi kehidupan seseorang, fenomena tersebut kini menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri, khususnya bagi masyarakat di angka usia produktif. 

Terlebih bagi para remaja, belakangan mereka terjebak dalam FOMO – Fear Of Missing Out. Bila dahulu kita pernah mengenal istilah kepo, untuk terus ingin tahu apa yang terjadi dan berkembang di luaran atau terhadap individu yang kita memiliki kecenderungan minat di dalamnya. Kini FOMO memiliki model lebih mendalam lagi, yakni bukan hanya sekadar ingin tahu, tapi lebih dari itu, mengajak seseorang menjadi pelaku keingintahuan tadi. 

Istilah FOMO diperkenalkan kepada khalayak ramai pada rentang waktu 2010-an. Dalam literatur ilmiah, menurut Elhai JD (2021), FOMO didefinisikan sebagai ketakutan yang berlebihan akan adanya orang lain yang mengetahui sesuatu, lebih dari diri sendiri. Dan kedua diintepretasikan sebagai upaya untuk senantiasa terhubung dengan orang lain, mengikuti perkembangan yang terjadi di sekitarnya, dan terus berinteraksi tanpa pernah putus koneksi. Dua hal tersebut saling berkaitan dan di jembatani oleh adanya kecemasan. Definisi awal menunjukkan angka kecemasan, sedangkan sisi satunya merupakan usaha untuk menghilangkan kecemasan tersebut.

FOMO telah menjadi tren tersendiri, dalam intepretasi budaya, mereka yang menghadapi gangguan atas FOMO akan berupaya untuk terus menjadi orang lain, bukan dirinya sendiri. Penilaian orang lain, dan menanti respon dari pihak di luar diri sendiri (outsider) sebagai sebuah harapan yang diinginkan. Itulah mengapa, menjadi orang pertama yang tahu akan sesuatu adalah pencapaian terbaik. Tak hanya berhenti disitu, bila itu adalah sebuah tren dengan gerakan, maka dirinya harus yang pertama dalam mengunggah gerakan tadi ke sosial media. Jika itu adalah pembukaan restoran atau pusat jajan serta kuliner baru, orang lain tidak boleh lebih cepat atas dirinya. Berlomba-lomba untuk mendapatkan apresiasi dari orang lain, memiliki jumlah pengunjung yang menyukai atas apa yang diunggah pada sosial media merupakan tujuan. Apa lagi bila dikomentari positif dan akhirnya berimbas pada menutup diri atas komentar negatif dari orang lain. Bisa dengan memblokir akunnya, atau minimal menghapus. Walau tak sedikit dijawab dengan penuh pembelaan diri.

Saat terjangkiti oleh FoMO, seseorang takkan mungkin lepas dari peranti ponsel pintar miliknya, perilaku ini dapat dilihat dari rasa bergantung saat bangun tidur, makan, menyetir, sebelum melakukan aktifitas tertentu, menunggu situasi atau keadaan, hingga ingin tidur kembali di malam hari. (Przybylski et al., 2013 dalam Jood., 2017). Hal tersebut merupakan kecemasan tersendiri bagi seseorang, walau kecemasan yang sebenarnya bagi diri sendiri bukanlah karena ada kecemasan dari orang lain. Akan tetapi, bangkitnya nilai kecemaan pribadi itulah, yang membawa seseorang pada rangkaian kecemasan selanjutnya perihal hidup orang lain. Bukan hidupnya.

FoMO akhirnya menjadi sebuah istilah lain untuk latah atas sesuatu. Walau tidak memiliki kesamaan persis dengan latah, FoMO akan lebih memiliki efek psikis bagi seseorang lebih dalam. Jika latah secara umum diartikan sebagai mengikuti gerakan hingga ucapan orang lain atas dirinya, dan secara luas dimaknai dengan usaha ikut-ikutan dalam melakukan sesuatu yang menunjukkan ia tak memiliki sikap serta pendirian atas hal tertentu. FoMO pun sama, namun yang menjadi pembeda adalah, media pembentuknya dan kecepatan perubahan informasi di sekelilingnya. Jika latah memiliki usia panjang, maka FoMO lekas usang sebab akan berganti lagi dengan tren selanjutnya.

Bagaimana Menghentikan FOMO?

Secara tren, FOMO tentu sulit untuk dihindari, karena itu berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia, yang selalu risau akan keadaan orang lain akan sesuatu yang berkembang di luaran. Mereka yang terjangkiti FOMO bukan hanya cemas, tapi klhawatir. Mereka tak ingin menjadi yang kedua apalagi yang terakhir atas informasi penting bagi dirinya atas kehidupan orang lain. Bila sudah demikian rasa FOMO dalam dirinya sudah dapat dikategorikan cukup akut. Ia bisa menjumpai psikolog atau psikiater untuk mengkonsultasikan lebih lanjut.

Akan tetapi, bila masih dalam tahap wajar, FOMO bisa dihentikan dengan berbagai cara, di antaranya adalah:

Pertama, cukupkan diri dengan hal yang paling penting bagi kehidupan kita. Mengenal serta mengetahui secara detail tentang orang lain, hanya membuat lelah kehidupan kita sebenarnya. Sebab yang ada adalah tuntutan agar tak ketinggalan informasi. Padahal saat berita telah didapat, kita hanya memiliki sekian menit kepuasan atas kabar tersebut. Sisanya tentu tak lagi istimewa. Apalagi saat informasi tersebut sudah kita terka kemana arahnya, disebabkan kebiasaan kita atas FOMO dari peristiwa-peristiwa sebelumnya.

Itulah mengapa, mencukupkan diri atas hal yang penting bagi kehidupan kita, akan menjadi poin paling bermanfaat. Sebab, kitalah yang mengerti tentang sebetulnya tujuan hidup ini untuk apa? Proses yang dijalani ini memiliki pencapaian apa? Dan dari informasi tentang orang lain, adakah pentingnya untuk menjadikan diri kita lebih baik? Bila kita sudah tahu jawaban dari pertanyaan tadi, sudah sepantasnya membatasi kadar FOMO dalam diri kita.

Akan sangat menyedihkan, bila tren akan sesuatu kita ikuti, ternyata hal demikian sesaat, bahkan tak berguna sama sekali bagi hidup kita. Bukankah setiap muslim diminta dalam agamanya agar senantiasa mencari hal bermanfaat atas kehidupannya, dan meninggalkan segala sesuatu yang bersifat nir-faidah di dalamnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih).

Kedua, belajar untuk mengurangi intensitas diri di sosial media. Suka atau tidak, bahwa menjadi FOMO-nya seseorang, potensi terbanyaknya muncul dari penggunaan sosial media berlebihan. Herannya hal tersebut tidak berlaku sebaliknya di kehidupan nyata. Saat di sosial media, ia sangat produktif, khususnya dalam urusan mencari tahu tentang tren yang sedang berkembang, masalah kehidupan seseorang, hingga ulasan mengenai tempat wisata maupun pusat kuliner yang sedang digandrungi.

Ada pun saat di kehidupan nyata, ia tak tahu bagaimana kondisi lingkungannya, apakah tetangganya kelaparan, adakah kaum dhuafa di sekitar lingkungan rumahnya, atau apakah tetangganya sedang sakit sehingga perlu dikunjungi serta diperhatikan. Hal-hal ini yang sebetulnya mengundang rasa ironis. Karena rasa penasaran itu hanya muncul saat bersosial media saja. Sebuah kehidupan yang semu dan fana, dan kembali lagi ke poin pertama, tidak benar-benar relevan dengan kehidupan sebenarnya. Akan tetapi kehidupan nyata yang seharusnya diperhatikan dan menjadi pijakan dirinya di masa depan, luput dari pengetahuan.

Oleh karena itu, membatasi produktif di sosial media, mengasah rasa simpati serta empati kita sebagai manusia. Dan hal itu bisa dihadirkan selama seseorang punya batasan dan porsi waktu yang jelas dalam kehidupannya. Bila sulit untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap sosial media, minimal ia bisa mengurangi dengan membuat pembagian waktu yang tepat. Atau bila belum bisa juga, dapat diminimalisir dengan tidak membeli paket data bagi gawainya. Bila butuh untuk terhubung sosial media, cukuplah mengandalkan diri pada jaringan nirkabel (Wi-Fi) di tempat tertentu, yang memiliki keterbatasan untuk di akses dan membutuhkan usaha untuk didapat. Bila sudah demikian, kita akan mampu memanfaatkan akses dengan sebaik-baiknya, sebab adanya rasa paksaan untuk mengoptimalkan penggunaan gawai.

Ketiga, berupayalah untuk berpikir positif pada segala keadaan. Mereka yang terjangkiti FOMO kadang hilang akal sehatnya. Rasa emosi masih bersifat dominan dalam kehidupannya, dan didukung oleh sentimen atau keberpihakan atas sesuatu yang menjadi minat dalam dirinya. Bila sudah demikian, prasangka baik, akan sulit dihadirkan. Dan FOMO akan menjadi wahana berpikir negatif tentang suatu keadaan, bila ternyata ia terhenti tentang adanya nilai positif pada konten tertentu, ia justru tidak cukup untuk berhenti disana, melainkan terus mencari jalan agar berjumpa dengan nilai negatifnya. Sebab hal tersebut bertentangan dengan minatnya selama ini. Tapi bila beriringan dengan niatnya, sekali pun banyak pemberitaan negatif tentang hal tersebut. Ia akan senantiasa mencari sisi positifnya dan menelusuri sumber lain yang dapat mendukung minatnya tersebut.

Keempat, setiap kita memiliki proses dalam kehidupannya masing-masing. Ketahuilah bahwa apa yang kita lihat dan kita ketahui tentang diri orang lain, dan dianggap merupakan sebuah kesuksesan di dalamnya, diwujudkan dari usaha serta proses yang bisa jadi kita tidak melihatnya. Pun juga dengan kehidupan kita, dan bahkan bisa jadi kehidupan kita lebih baik dari orang yang dilihat oleh diri sendiri. Sebab selama ini mungkin kita tidak mengapresiasi pencapain terbaik dalam kehidupan yang telah dijalani. Seseorang lebih sibuk melihat kesuksesan orang lain, padahal dirinya telah berperan menggapai kesuksesan yang lebih hebat dari orang di luar sana. Hanya bedanya, kesuksesan orang lain mendapat apresiasi dari banyak populasi manusia, adapun dirinya? Bahkan pribadinya sendiri alpa untuk mengapresiasi, padahal sekian banyak keberhasilan ditorehkan tanpa disadari.

Melihat diri untuk menikmati proses, dapat mengerem tindakan kita agar tidak terlalu larut dalam kehidupan yang dipenuhi FOMO para soso yang dianggap sebagai influencer atau pemberi pengaruh. Kita adalah pemeran utama bagi kehidupan kita sendiri. Bila orang lain tidak mengapresiasi. Jangan sampai kita alpa untuk melakukannya. Semua orang punya kadar usaha yang sama dalam memenangkan hal tertentu, termasuk sosok yang kita ikuti dan terjebak FOMO di dalamnya.

Dari itu semua, FOMO bisa kita cegah, dan alat pencegahan terbaik, datangnya dari diri kita sendiri. Toh, banyak orang yang tetap bisa hidup tanpa peduli dengan urusan kepopuleran orang lain. Akan ada manusia yang menjalani proses kehidupan walau tak pernah ambil pusing soal tren apa yang berkembang. Hidup ini adalah soal bagaimana kita menjadi diri sendiri, bila harus melihat orang lain, perhatikan batasannya, dan jangan terjebak pada itu semua. Sebab garis takdir seseorang memiliki jalan berbeda. Ada yang sukses setelah puluhan kali terjatuh dan satu kali bangkit lalu semua orang tersita perhatiannya. Akan tetapi tidak sedikit yang ribuan kali tersungkur dan memerlukan ratusan kali untuk bangkit, namun kesuksesan belum berpihak pada dirinya, dan ia tetap sabar berproses. Hidup ini memiliki spektrum luas untuk dipahami, walau kadang kita hanya perlu waktu untuk lebih banyak melihat, memahami, serta mendengar.

Rizki Aji Hertantyo
[Penulis buku “Pengantar Kepengasuhan Lembaga Pendidikan Islam”]

 

Referensi:

  • Elhai JD, Yang H, Montag C. Fear of missing out (FOMO): overview, theoretical underpinnings, and literature review on relations with severity of negative affectivity and problematic technology use. Braz J Psychiatry. 2021;43:203-209. http://dx.doi.org/10.1590/1516-4446-2020-0870
  • Jood, T. Ella. “Missing the present for the unknown: the relationship between fear of missing out (FoMO) and life satisfaction.” University of South Africa, Master Thesis (2017). https://core.ac.uk/download/pdf/95521623.pdf 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *