Seni Menunggu di Tengah Dunia yang Terus Bergerak

Dalam sehari, berapa kali kita menunggu? Mungkin satu, dua, tiga, atau tak terkira. Ketika menunggu, bagaimana perasaan orang-orang? Mungkin jengkel, tak sabaran, ingin segera masa penantian berakhir sebab masih banyak hal yang harus dilakukan. Lantas, bagaimana kalau di dunia ini tidak ada lagi ritual menunggu, sebab tidak ada yang kita tunggu dan tidak pernah ada alasan bagi kita untuk menunggu? Mungkin anda punya jawaban untuk pertanyaan itu. Adapun saya memutuskan untuk menyerah. Saya tidak bisa membayangkan sebuah dunia tanpa ritual menunggu, meskipun seperti bagi semua orang, menunggu bukanlah hal yang begitu saya sukai.

Saat kami melewati gerai penjual makanan yang ramai dikerumuni oleh para pelanggan yang sedang mengantre, kakak perempuan saya menceletuk, “Kok orang mau ya ngantre lama-lama kayak gitu?” Sebagaimana kakak saya, saya juga heran sekaligus takjub dengan daya juang orang-orang yang rela mengantre dan menunggu untuk sesuatu yang sebenarnya tidak akan menimbulkan kerugian riil seandainya mereka memutuskan untuk pulang tanpa repot-repot menunggu. Saya bisa memaklumi orang-orang yang rela (atau sebenarnya terpaksa) menunggu antrean di bank atau rumah sakit, sebab memang mereka tidak punya pilihan selain menunggu, sementara pada waktu yang sama mereka sangat membutuhkan jasa pihak bank dan rumah sakit. Namun, ketika melihat barisan orang mengantre dalam antrean yang begitu panjang hanya untuk merasakan sajian makanan tertentu, saya agak sakit kepala. Saya menyukai makanan tertentu—katakanlah pizza dan mi ayam bakso. Tapi, jika saya sedang menginginkan kedua makanan tersebut, lalu mendapati gerainya sedang disesaki oleh orang-orang, saya lebih memilih meninggalkan gerai untuk mencari makanan lain. Saya tidak mau membuang-buang waktu untuk menunggu giliran. Rupanya di luar sana ada banyak orang yang memiliki pikiran berbeda. Merekalah orang-orang yang rela menunggu untuk sesuatu yang mereka sukai. Atau jangan-jangan mereka adalah jenis orang yang mendambakan sensasi menunggu, yang memperoleh kesenangan tertentu ketika menunggu atau mengantre sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kadang-kadang ada jenis orang semacam itu.

Pada masa sekarang ketika kecepatan seakan menjadi tuhan, banyak orang terburu-buru melakukan sesuatu dan benci menunggu. Di stasiun ada orang-orang berpakaian rapi yang berlari-lari seperti anak kecil untuk mengejar kereta supaya tidak terlambat masuk kantor. Di loket pembelian tiket perjalanan dan gerai ATM ada orang-orang yang tanpa malu menyerobot antrean. Di jalan-jalan raya ada pengendara-pengendara yang ngebut dan sebentar-sebentar menyalakan klakson dengan ribut. Kita bisa menyebutkan hal-hal lain sejenis itu dan kita tahu pasti apa yang membuat mereka berkelakuan begitu. Selain perkara pendidikan, ini juga soal menunggu. Banyak orang enggan menunggu, ingin cepat sampai ke tempat tujuan, ingin lekas menggenggam apa yang mereka inginkan, merasa keperluannya sebagai yang terpenting hingga tak menghiraukan keperluan orang lain yang barangkali lebih penting daripada keperluannya.

Sebagian orang suka menunggu, sebagian orang benci menunggu. Tapi boleh jadi ada orang yang masuk ke dalam dua golongan tersebut sekaligus. Pasalnya menunggu bukanlah dimensi tunggal di mana kita bisa menyukainya secara total atau membencinya secara semena-mena. Sering kali perasaan suka dan benci terhadap aktivitas menunggu tergantung dari apa atau siapa yang kita tunggu. Di waktu lain bandul rasa suka dan benci itu juga bisa tergantung pada waktu dan tempat kita menunggu. Beberapa orang benci menunggu tibanya kereta tertentu, tapi rasa benci itu bisa berubah sekonyong-konyong ketika kereta yang ditunggunya membawa serta orang yang ia cintai. Beberapa orang benci menunggu kehadiran seseorang di tempat yang kotor dan panas, tapi rasa benci itu bisa pupus ketika ia menunggu kehadiran orang yang sama di tempat yang bersih, terang, dan rindang.

Dalam cerpen Linguae, Seno Gumira Ajidarma mengatakan: “Aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun berapa lama pun selama aku mencintainya. Menunggu adalah bagian dari pertemuan itu sendiri.”

Dengan demikian menunggu menjadi lebih kompleks daripada yang kita pikirkan. Menunggu tidak sekadar sebuah ruang kosong antara satu kegiatan dengan kegiatan lain, antara satu pertemuan dengan pertemuan lain, atau antara satu garis waktu dengan garis waktu lain. Jika diibaratkan sebagai sebuah lukisan, menunggu adalah lukisan yang memiliki beragam corak dan warna, bukan hanya lukisan berwarna tunggal yang menyisakan kesan itu-itu saja. Ada kalanya menunggu malah lebih mengasyikkan daripada alasan kita menunggu. Paling tidak itulah yang saya rasakan ketika menunggu pertandingan sepak bola tim jagoan saya, di mana ketika pertandingan itu dimulai tim jagoan saya ternyata bermain biasa-biasa saja atau malah buruk. Paling tidak itulah yang rasakan ketika menunggu hasil perlombaan dan ujian, lantas ketika melihat hasilnya jantung saya tidak berdegup-degup sekencang saat menunggu. Seperti mendaki bukit, menunggu bisa membawa kita berada di puncak kesenangan tertentu; tapi manakala apa yang kita tunggu sudah muncul, kesenangan itu perlahan-lahan merosot seperti ketika kita menuruni sebuah bukit.

Saat ini, secepat apa pun dunia bergerak, kita toh tetap tak dapat menghindar dari aktivitas menunggu. Keluhan dan rasa kesal kita tiap kali harus menunggu tidak serta merta membuat kita tidak lagi akan mengalami aktivitas menunggu di masa yang akan datang. Jadi, alih-alih merutuki waktu menunggu yang terasa begitu lama seolah tak akan pernah berujung, ada baiknya kita menyiasati waktu menunggu tersebut dengan hal yang menggembirakan hati. Jika sedang menunggu moda transportasi di tempat pemberhentian, kita bisa membaca buku atau menonton film kesukaan lewat gawai. Jika sedang menunggu kehadiran seseorang di tempat umum, kita bisa mengajak ngobrol orang-orang lain di sekitar kita. Jika sedang menunggu listrik yang tak kunjung menyala di dalam rumah, kita bercengkerama dan menikmati waktu bersama keluarga. Dan jika sedang menunggu akhir hidup diri sendiri, kita bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Atau jika menjadi orang bermanfaat kelihatannya terlalu sulit, setidaknya kita tidak mengganggu orang lain atau melakukan sesuatu yang merugikan pihak lain. Sebab ketika kita sedang menunggu, di tempat lain orang-orang juga sedang menunggu. Dan sesama pihak yang sedang menunggu, hendaknya tak saling mengganggu. (*)

Erwin Setia
[Kolumnis di berbagai media online, penulis cerpen, alumni SMA Future Gate]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *