Senjakala Citayam Fashion Week

Akhirnya riuh-rendah Citayam Fashion Week berakhir, setelah sempat ramai perbincangan selama dua pekan memenuhi lini masa media sosial, mulai dari sensasi, kerumunan aksi, sampai pemberitaan di media massa tentang beragam sudut pandang. Selain karena kehidupan kembali normal, pembatasan tempat dari masa Covid perlahan teruraikan, beberapa lokasi yang memungkinkan potensi keramaian dibuka, semisal tempat wisata dan pusat perbelanjaan.

Maka, orang-orang yang tertahan selama dua tahun untuk tidak keluar rumah, kembali memadati ruang publik. Para artis dadakan tersebut hadir dari tempat yang jauh, menuju pusat kota, menampilkan eksistensi terobosan budaya, menggeser tagar sebelumnya yang pernah ada, mulai dari #MbakMbakSCBD hingga fenomena lanyard para pekerja.

Fenomena Citayam Fashion Week, tentu bukan hal baru, dari masa ke masa, selalu ada perubahan saling bersusulan. Senantiasa ada pergantian dalam tren bergaya, akan muncul ruang untuk saling menumpahkan ekspresi. Bila menilik lebih jauh, di tahun 80-an kita tentu tahu tentang Lintas Melawai dan menempatkan Hari Mukti menjadi penyanyi yang mengangkat tema tentang tren di daerah tersebut. Bergeser ke tahun 90-an, muncul kafe tenda Semanggi, sebuah barisan gerobak makanan beraneka menu yang menanti dicicip penikmati kuliner dan belakangan berubah menjadi ajang pamer gengsi, baik berpakaian maupun pergaulan.

Di tahun 2000-an, fenomena munculnya tempat nongkrong seperti Parkir Timur (Parkit) di Senayan, kawasan Tebet yang dipadati gerai busana anak muda dengan berbagai merek lokal, hingga masih segar diingatan tentang tempat berkumpul sekadar aktualisasi diri diselingi minum-minum kopi yang menjamur di banyak kota besar Indonesia. Tak ketinggalan pula, sempat ada fenomena tumbuhnya gerai Seven Eleven sebagai tempat menghabiskan waktu sebelum pulang ke rumah saat kepadatan jalan menyergap pekerja, lalu berubah fungsi menjadi tempat tongkrongan paling edgy, hingga akhirnya redup tak tersisa.

Rekaman peristiwa di atas, senantiasa berulang dari masa ke masa, hanya menempatkan subjek berbeda, tapi tak menggeser makna perihal eksistensi. Dalam sosiologi, apa yang hadir berganti ini disebut dengan peredaran sosial. Proses sosial tersebut menurut Sztompka (2005: 7), ditandai oleh dua ciri: (1) mengikuti pola edaran: keadaan sistem pada wkatu tertentu kemungkinan besar muncul kembali pada waktu mendatang dan merupakan replika dari apa yang telah terjadi di masa lalu; dan (2) perulangan ini disebabkan kecenderungan permanen di dalam sistem karena sifatnya berkembang dengan cara bergerak kesana kemari.

Citayam Fashion Week dan gejala perubahan yang menyertainya, tak hanya terjadi di Indonesia, beberapa negara pun pernah menghadapi demam serupa. Mulai dari Jepang dengan Harajuku Street-nya, termasuk Australia dengan fenomena bodgies and widgies di tahun 1950 sampai 1959. Bodgies and widgies menurut White (2008:36) ialah para lelaki dan perempuan muda yang bisa dikenali dari gaya visual mereka dan kegiatan mereka dengan titik berat pada penampilan (gaya rambut panjang untuk anak laki-laki, kaus gabardin untuk anak-anak perempuan), muncul di jalanan, menari-nari, dan musik rock and roll. Mereka adalah anak-anak muda kelas pekerja yang menciptakan budaya tersendiri dari budaya remaja berorientasi konsumen. Ketika melakukan itu, mereka menunjukkan ancaman bagi nilai-nilai dan budaya kelas menengah, dan banyak dari hujatan media dipusatkan pada penggunaan alkohol, seks, serta kegagalan rumah tangga. 

Hal-hal di atas sebagian di antaranya tentu memiliki relasi yang kuat dalam sub kultur Citayam Fashion Week bila tak diatur dan dibiarkan berlarut-larut. Bila di Australia kekhawatiran saat itu berputar pada penyimpangan norma, di Indonesia pun demikian. Para pendukung penertiban beranggapan akan terbuka pintu pergaulan bebas seperti pacaran, dan hal tersebut terbukti dari konten yang terus dipopulerkan, sekali pun mungkin rekaan atas sebatas keperluan penambahan subscriber. Belum lagi tentang jadwal kereta yang tak tersedia untuk pulang hingga menyebabkan anak muda tadi terlantar di stasiun atau halte demi menunggu pagi. dan ancaman yang paling menggelisahkan adalah menjamurnya kampanye LGBT!

Tak dapat dipungkiri, bahwa sub-kultur akan terus tumbuh, dari Citayam Fashion Week, melahirkan banyak ide kreatif dan tentunya mendobrak kemapanan. Pakaian bekas atau disebut dengan thrifting yang pasarnya kembali naik, menggerakkan sektor kecil dalam perdagangan semisal starling, meluaskan pergaulan, termasuk membuat risih para pembuat konten arus-utama. Kreatifitas memang harus segera disambut, ketika peluang itu terbuka, maka anak muda yang paham akan popularitas segera memanfaatkan. Ini tentu bersesuaian dengan ungkapan Remy Sylado dalam pengantar Budi Irawanto di Questioning Everything (hal. xi), bahwa “Karena ada orang lain yang tidak kreatif, maka saya ingin jadi kreatif. Saya mau menjadi produktif dan kreatif.” Menarik dicatat, produktifitas tidaklah sebangun dengan kreatifitas. Ini karena produktifitas hanya berurusan dengan akumulasi karya, sementara kreatifitas adalah ikhtiar tanpa henti menemukan otensitas dalam berkarya. Karenanya kondisi yang terlampau nyaman bisa menjadi musuh bebuyutan kreatifitas.

Sehingga wajar bila Citayam Fashion Week adalah ledakan kreatifitas, dan tentu harus memiliki catatan tersendiri dalam konteks pandangan keagamaan. Namun hal penting untuk digarisbawahi ialah, ekspresi atas kemapanan yang telah ada, seakan menjadi jawaban dari kenyamanan yang diikuti beberapa tahun belakangan. Bisa jadi, para subjek pelaksana gaya dalam Citayam Fashion Week adalah penonton pasif YouTube melalui artisan tertentu, tak heran bila mereka beranggapan, bahwa dengan adanya media sosial memungkinkan mereka untuk turut berkarya, soal cibiran urusan lain, tentang hinaan itu ada perhitungannya.

Namun bicara eksistensi, mereka perlu menunjukkan itu. Dan ternyata memang sampai pada puncak keabsurdannya sendiri, selain kegiatan yang akhirnya dibatasi sebab perlahan ditiru oleh wilayah lain sedangkan konteks budayanya berbeda, hingga pengakuan paten atas penamaan oleh pemilik modal demi perhitungan untung dikemudian hari.

Apapun itu, Citayam Fashion Week telah menjadi akomodasi budaya tersendiri bagi arus bawah saat menyuarakan eksistensi. Keberadaannya, bisa jadi membuat bahan tawa, tapi tentu tak sedikit memandang geli, aneh, tak wajar dalam berbusana, sampai ujaran tak mengerti gaya.

Namun satu hal yang bisa jadi luput, bahwa setiap masa, ada manusianya. Bila demikian halnya, tak disangsikan bahwa masyarakat yang terus berubah akan tetap menghasilkan kebudayaan pop. Dan media senantiasa menyerap kebudayaan pop demi kepentingan isi dan bentuknya. Budaya tersebut tercermin dalam media dan terkadang ditampilkan dalam bentuk yang disesuaikan oleh masyarakat sendiri. Ciri utama kebudayaan ini ialah orisinalitas yang spontan, eksistensinya yang berlangsung terus dalam kehidupan sosial dengan perniknya yang beraneka-dalam wujud bahasa, busana, musik, tata cara, dan sebagainya. Sebagaimana diutarakan oleh Idy Subandi Ibrahim dalam Ecstasy Gaya Hidup, hal. 21.

Rizki Aji Hertantyo
[Penulis buku “Pengantar Kepengasuhan Lembaga Pendidikan Islam”]

1 thought on “Senjakala Citayam Fashion Week

Leave a Reply

Your email address will not be published.