Memacu Diri di Kala Manusia Lalai

Kurang dari sebulan lagi kita akan memasuki Ramadan, salah satu bulan mulia dalam Islam. Ada banyak momen penting dalam Ramadan, antara lain sebagai waktu turunnya Al-Qur’an serta sepuluh malam terakhirnya merupakan sepuluh malam terbaik bagi kaum muslimin sedunia. Ramadan juga menjadi momen penggemblengan seorang muslim dalam menahan hawa nafsu. Sepanjang Ramadan kita dituntut untuk bisa lebih giat beribadah dan memanfaatkan detik demi detik semaksimal mungkin.

Namun, bukan hanya Ramadan yang penting. Ada satu bulan yang kadang-kadang kita abaikan karena terlalu fokus menunggu Ramadan. Bulan itu tak lain adalah bulan Syakban. Bulan yang hadir setelah bulan haram Rajab ini, disebutkan sebagai salah satu bulan yang melalaikan. Lalainya manusia di bulan Syakban juga disinggung dalam sebuah hadis. Padahal amalan seorang hamba diangkat di bulan ini. Pada bulan Syakban juga diriwayatkan Nabi Muhammad SAW banyak melakukan puasa sunah.

Selain lantaran fokus mempersiapkan diri hanya untuk bulan Ramadan, kelalaian manusia di bulan Syakban juga bisa terjadi karena hasrat untuk memenuhi hawa nafsu sebelum kemudian dibelenggu di bulan setelahnya. Kita jadi terdorong untuk ‘puas-puasin’ dulu selama sebulan, sampai nanti bisa lebih tenang menjalani puasa dan ibadah Ramadan karena segala nafsu sudah dilepaskan selama Syakban.

Tentu pemikiran semacam itu tidak mencerminkan perilaku dan adab baik dari seorang muslim. Apalagi bila kita menyadari punya role model terbaik pada sosok Nabi kita. Alangkah baiknya bila kita pun berusaha menjalani bulan Syakban sebagaimana beliau menjalaninya. Bila belum mampu serupa seperti beliau, setidaknya ada usaha menuju ke arah itu.

Penulis coba merangkum beberapa kiat yang dapat ditempuh agar bulan Syakban tidak dijadikan momen penuh kelalaian seperti dikabarkan dalam hadis. Sebab pengabaran itu sejatinya menjadi pesan agar kita lebih mawas diri sehingga bisa menempuh jalan sebaliknya, yakni bersegera dalam kebaikan dengan beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla.

 

Menjadi Anti Mainstream

Ada waktu-waktu di mana manusia menjadi lalai dari ibadah dan mengingat Allah karena keadaan membuatnya demikian. Bulan Syakban adalah contohnya. Waktu lainnya ialah kala malam hari ketika orang tertidur. Oleh karena itu, menjadi sebuah keutamaan apabila kita bangun dari tidur lalu mendirikan salat malam. Atau ketika waktu berbuka puasa, ketika orang begitu lahap menyantap makanan dan minuman. Maka dianjurkan untuk memperbanyak doa di waktu berbuka. Sementara hal-hal lain seperti kesehatan dan keluangan waktu juga bisa membuat kita mudah lalai.

Lalai di sini menerpa kebanyakan manusia. Sehingga menjadi berbeda dari kebanyakan mereka merupakan sebuah kebaikan tersendiri. Para ulama pun menganjurkan agar kita memperbanyak mengingat Allah ketika kebanyakan manusia sedang lalai.

Menjadi berbeda, dengan tidak berbuat lalai, boleh jadi sulit dilakukan. Karena berarti kita melakukan perbuatan yang berlawanan dengan kebanyakan manusia. Apalagi jika perbuatan itu bersifat mubah dan mengandung kesenangan di dalamnya. Perlu tekad kuat agar kita bisa melakukan hal tersebut.

 

Memahami Tujuan

Tekad yang kuat dalam melakukan sesuatu hadir dari tujuan yang terang benderang. Rasanya tidak ada manusia yang punya tekad besar apabila tidak tahu apa yang ingin dia capai. Tidak akan ada keteguhan dalam menjalani setiap aktivitas. Tidak ada dorongan dari jiwa yang kemudian menggerakan raga. Tidak adanya tujuan membuat tubuh dan pikiran berada di mode ‘tidur’. Maka pahamilah tujuan paling mendasar bagi kita selaku manusia.

Al-Quran sebagai ‘buku manual’ di kehidupan dunia telah memuat apa tujuan dari diciptakannya manusia. Dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56, Allah berfirman (yang artinya),”Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Itulah tujuan paling mendasar dari hadirnya kita dalam kehidupan ini, yakni untuk beribadah kepada Allah. Ketika kita sudah memahami dengan baik tujuan hidup tersebut, niscaya menjadi lebih mudah dalam membangun tekad agar hal itu bisa tercapai.

Salat tentu menjadi ibadah paling mulia dan utama bagi seorang hamba. Tapi salat bukan satu-satunya ibadah yang dapat kita lakukan kepada Allah. Ada ibadah hati, selain ibadah fisik, yang dapat ditunaikan. Mengingat Allah dalam setiap kondisi merupakan salah satu bentuk ibadah hati. Dari terus mengingat Rabb Semesta Alam, menjadi sedikit kemungkinan atau bahkan tidak mungkin bagi kita melakukan perbuatan yang bertentangan dengan larangan-Nya. Sebaliknya, dengan mengingat Allah, kita jadi terpacu untuk berbuat hal-hal yang disukai-Nya. Di antaranya dengan mengingat Allah di kala banyak manusia lalai.

Hidup yang dijalani dengan tujuan jelas akan lebih memudahkan bagi kita. Kita tahu apa yang harus diraih ketika terombang-ambing dalam terpaan realitas. Kita pun jadi lebih mudah memupuk tekad untuk terus bertahan dan melangkah maju, karena yakin ada di atas jalan yang benar.

 

Mengesampingkan Urusan Dunia

Jika mau sedikit ditelisik, perkara yang melalaikan seringnya berasal dari hasrat pada dunia. Baik berupa harta benda maupun segala kesenangan yang menyertai di dalamnya. Lalai di malam hari karena kita begitu menikmati waktu tidur di atas kasur yang nyaman. Lalai ketika berbuka puasa karena kita menggebu menyantap segala hidangan setelah menahan diri seharian. Begitu juga lalai di bulan Syakban, bisa jadi karena sebab dunia seputar persiapan Ramadan sampai Lebaran, seperti memikirkan waktu buka bersama kolega, bisa couple-an baju dengan keluarga, wisata masjid untuk cari takjil, dan sebagainya.

Perkara dunia memang bisa jadi bekal akhirat kita asalkan diniatkan karena Allah. Tapi seberapa sering kita bisa membuat niat itu muncul dan konsisten menjalaninya? Apakah betul persiapan baju gamis untuk salat itu memang karena ingin tampil indah di hadapan Allah? Atau sebenarnya hanya ingin mengikuti tren berpakaian yang sedang marak? Daripada muncul kerancuan dalam diri, kenapa tidak kita kesampingkan saja hal-hal yang masih bersifat keduniawian. Abaikan soal baju baru, jauhi kesibukan memilih menu berbuka, abaikan soal agenda buka bersama, fokuskan pada macam-macam ibadah apa yang hendak kita jalani.

Momen ibadah di bulan Syakban disebut sebagai waktu pemanasan sebelum kita berlomba-lomba meraih ampunan di Ramadan. Puasa yang banyak dilakukan Nabi di bulan Syakban sangat layak kita ikuti. Dengan berpuasa di bulan tersebut, maka tubuh jadi sudah terbiasa menahan lapar dan dahaga tatkala Ramadan tiba. Berpuasa di bulan Ramadan tak lagi menjadi beban berat yang mudah membuat kita lemas dan malas.

Mulai membaca Al-Quran secara rutin dengan halaman lebih banyak pun bisa dimulai kala bulan Syakban. Jadi, ketika Ramadan tiba, kita bisa semakin rileks menjalani aktivitas itu dan mengkhatamkan bacaan lebih cepat. Bahkan bisa berulang-ulang khatam apabila kita punya kekuatan tekad. Sebagaimana ulama yang bisa khatam sampai 30 kali bahkan lebih selama bulan Ramadan.

Tentu saja tidak mudah untuk memulai sebuah kebiasaan baru. Bulan Syakban dapat dijadikan momentum untuk melakukan hal tersebut. Memacu diri lebih jadi lebih baik di kala banyak manusia lalai. Dari sebelumnya jarang berpuasa menjadi lebih rutin lagi, semata-mata karena ingin mencontoh Nabi SAW. Tentu dengan harapan amalan tersebut akan menjadi ladang pahala bagi kita di akhirat kelak. Terlebih kalau amalan itu menjadi pemantik bagi manusia lain melakukan hal serupa.

Allah berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 21 (yang artinya), “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allâh.”

Semoga Allah mudahkan urusan kita semua.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *