Apakah Konsumsi Cabai Berlebihan Memengaruhi Kognisi Guru?
Published Date: 15 February 2026
Pada suatu Ahad siang Kasmudi dan Warman diundang untuk menghadiri acara di balai desa. Kedua guru SD senior itu belum tahu pasti kegiatan apa yang akan ada di sana, tetapi mereka tetap datang menghormati undangan Pak Lurah.
Mereka janji berangkat bareng. Namun, saat Warman tiba di rumah Kasmudi, dia kaget.
Warman: “Lho, kok masih makan? Ayolah berangkat!”
Kasmudi: “Maaf. Maaf. Ini sambal buatan istriku mantap betul. Kalau kamu gak ke sini kayaknya mau nambah yang ketiga kali.”
Warman: “Buset! Wajah sudah merah gitu, terus ngomong sudah huah-huah masih mau nambah aja. Ayo, cepat! Sudah ditunggu yang lain.”
Setiba di balai desa mereka segera mengambil tempat duduk. Ternyata, di sana sedang ada kelompok peneliti dari universitas yang sedang mengkaji suatu persoalan. Mereka berdua menjadi salah satu responden. Setelah beberapa saat sesi pembukaan dan perkenalan, peneliti memulai.
Peneliti: “…Saya akan membacakan 10 kata. Tugas bapak-bapak dan ibu-ibu cukup mendengarkan, mengingat, dan mengucapkan lagi kata-kata tersebut yah. Saya mulai: rumah, kayu, kucing, meja, malam, jarum, roti, pintu, jembatan, dan kasur.”
Selesai kegiatan tersebut Kasmudi dan Warman pulang. Dalam perjalanan, Warman terus menerus mengejek temannya. Hal itu lantaran setelah dibacakan 10 kata dan diberi waktu 2 menit, Kasmudi hanya mampu mengulang 5 kata. Warman bisa mengulang 10 kata tersebut dengan akurat. Kasmudi bingung dan agak jengkel, tapi Warman tak peduli dan terus mengejeknya.
***
Ilustrasi di atas mungkin pernah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, di mana konsumsi cabai menjadi sesuatu yang tak terhindarkan—kadang-kadang dalam porsi berlebih. Berbagai lapisan masyarakat Indonesia relatif menyukai cabai dan turunannya, tak terkecuali guru.
Nah, dalam ilustrasi di atas juga tersirat perbedaan antara Warman dan Kasmudi dalam kaitannya dengan kemampuan kognitif mereka. Warman yang dalam cerita itu tidak mengonsumsi cabai mampu menghafal lebih baik daripada Kasmudi yang suka mengonsumsi cabai.
Lalu, apakah memang ada kaitan antara tingkat konsumsi cabai dengan fungsi kognitif seseorang? Sebelum sampai ke situ, kita bedah dulu satu per satu.
Fungsi kognitif adalah serangkaian proses mental kompleks pada otak yang melibatkan kemampuan berpikir, daya ingat, pemahaman, perhatian, logika, penggunaan bahasa, dan pemecahan masalah. (Hospitals, 2025) Maka, sangat jelas bahwa fungsi kognitif ini sangat penting. Apalagi bagi orang-orang yang profesinya sangat bergantung pada aspek-aspek kognitif tersebut, seperti guru.
Penurunan fungsi kognitif guru tentu menjadi hal penting untuk diperhatikan. Ini tentu bukan hal bisa dianggap sepele karena fungsi kognitif berhubungan erat dengan performa guru. Jika performa guru kurang maksimal karena konsumsi cabai yang berlebihan, sebagai contoh, bukan tidak mungkin dampak negatifnya juga akan berpengaruh pada para siswanya. Maka, kebiasaan para guru yang suka makan pedas (sambal, misalnya) perlu ditinjau ulang.
Penelitian kohort yang dilakukan oleh Zumin Shi, dkk dari tahun 1991 hingga 2006 menunjukkan bahwa konsumsi cabai (baik segar maupun kering) bisa menurunkan fungsi kognitif. Studi kohort adalah jenis studi observasional di mana sebuah kohort (sekelompok individu) yang memiliki karakteristik tertentu, diikuti dari waktu ke waktu, dan hasilnya diukur pada satu atau lebih titik waktu. (Kattan, 2020) Studi tersebut dilakukan terhadap 4.852 orang dewasa berusia 55 tahun ke atas di sembilan provinsi di China yang tersebar di wilayah perkotaan dan pedesaannya. Hasil penelitian mereka telah diterbitkan di Nutrients pada tahun 2019 (Zumin Shi, 2019). Temuannya menunjukkan bahwa konsumsi cabai (baik segar maupun kering) sebanyak 50 gram per hari berkorelasi dengan penurunan fungsi memori dan atensi. Bahkan, pada orang-orang yang mengonsumsi lebih dari angka tersebut, potensi penurunannya bisa mencapai dua kali lipat.
Dalam penelitian Zumin Shi, dkk., sekelompok orang berpartisipasi dalam China Health and Nutrition Survey (CHNS). Para responden dipantau asupan cabai hariannya secara berkala dan dilibatkan dalam tes kognitif rutin. Dalam rentang 15 penelitian ini (1991-2006), tes kognitif dilakukan sebanyak 4 kali, yakni tahun 1997, 2000, 2004, dan 2006.
Proses penelitiannya adalah sebagai berikut:
Peneliti melakukan kunjungan rumah secara berkala,
Peneliti mencatat makanan selama 3 hari untuk menghitung rata-rata asupan cabai,
Peneliti melakukan uji fungsi kognitif menggunakan metode wawancara tatap muka yang berupa tes kemampuan mengingat 10 kata, menghitung mundur dari angka 20, dan 5 soal pengurangan angka 7 berantai yang dimulai dari angka 100, dan
Peneliti menyesuaikan faktor lain seperti: usia, tingkat pendidikan, BMI, dan lain-lain.
Diketahui bahwa zat utama yang paling memengaruhi penurunan kognitif adalah kapsaisin. Kapsaisin adalah senyawa aktif alami yang ada dalam cabai (genus Capsicum) yang menimbulkan rasa pedas dan panas ketika memakan cabai atau sambal. (Sukamanadi, 2025) Kapsaisin dipercaya mempunyai beberapa khasiat, salah satunya, bisa meredakan nyeri neuropati (gangguan kerusakan saraf) dan arthritis (radang sendi). Namun, konsumsi berlebihan (lebih dari 50 gram/ hari) justru berdampak buruk alih-alih membawa manfaat.
Mengapa kognitif penting bagi guru
Fungsi kognitif, bisa dibilang, merupakan ‘mesin utama’ bagi seorang guru dalam menjalankan pekerjaannya. Sebelum mengajar, para guru perlu mendalami materi yang akan disampaikan. Selain perlu paham betul materinya, mereka juga perlu memahami bagaimana materi tersebut akan disampaikan. Di samping itu, guru perlu mengetahui cara memberikan instruksi dengan baik dan membantu menemukan solusi bagi siswa yang belum menguasai pelajaran yang disampaikan. Fungsi kognitif yang baik membantu guru fleksibel dalam menyesuaikan rencana pembelajaran dengan eksekusi di kelas. (Diamond, 2013)e
Kemampuan kognitif yang baik memungkinkan guru mengelola emosinya dengan baik. Sebagaimana diketahui, dalam kerjanya guru sering berkaitan dengan karakter siswa yang bermacam-macam. Ada yang baik dan penurut, ada juga yang nakal atau bandel. Dalam menghadapi siswa tipe kedua, pengaturan emosi guru lebih dicoba. Studi (Allison H. Friedman-Krauss, 2014) menyebutkan bahwa guru yang mempunyai fungsi kognitif yang baik cenderung lebih tenang dan sabar dalam menghadapi siswa yang berperilaku mengganggu dan tidak pantas. Sementara guru dengan kemampuan kognitif tidak cenderung merespon dengan mengeraskan suara dan refleks melakukan hal yang impulsif.
Dengan fungsi kognitif yang baik, guru condong memiliki konsentrasi yang baik, emosi lebih stabil, dan mampu mengambil keputusan dengan bijak. Memakan sambal agaknya lumrah di sekitar kita. Banyak orang yang suka sensasi pedas yang bisa menggugah selera makan. Bahkan, mungkin ada di antara sekolah-sekolah yang menyediakan makanan harian bagi para gurunya atau sering mengadakan acara makan bareng dengan menu yang diberi sambal yang luar biasa banyak. Nikmatnya!
Namun, sepertinya konsumsi cabai perlu dipertimbangkan lagi. Cabai bukanlah musuh bagi guru. Konsumsi dengan takaran yang tepat bahkan dipercaya memberi maslahat. Maka, mungkin dalil tentang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik perlu kita implementasikan dalam konsumsi makanan kita, mungkin termasuk konsumsi cabai atau sambal.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
Artinya: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf: 31)
Daftar Pustaka
Hospitals, T. M. (2025, Oktober 23). 4 Tahapan Perkembangan Kognitif Anak Menurut Teori Piaget. Retrieved from siloamhospitals.com: https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/tahapan-perkembangan-kognitif-anak
Kattan, X. W. (2020). Studi Kohort: Desain, Analisis, dan Pelaporan. National Library of Medicine.
Sukamanadi, M. (2025, Oktober 13). Capsaicin: Zat Pedas yang Kaya Manfaat di Dunia Kuliner dan Kesehatan. Retrieved from unair.ac.id: https://unair.ac.id/capsaicin-zat-pedas-yang-kaya-manfaat-di-dunia-kuliner-dan-kesehatan/#:~:text=Capsaicin%20adalah%20senyawa%20aktif%20yang,untuk%20dikembangkan%20dalam%20bidang%20kesehatan.
Zumin Shi, T. E.-O. (2019). High Chili Intake and Cognitive Function among 4582 Adults: An Open Cohort Study over 15 years. Nutrients, 1-11.
