Kurikulum Tersembunyi

Ketika membicarakan kurikulum sekolah, pikiran kita biasanya hanya terfokus pada hal-hal semacam mata pelajaran atau metode pengajaran yang terlihat secara gamblang. Tentu secara makna memang demikianlah yang dimaksud dengan kurikulum. Tidak salah dan memang penting. Namun, kurikulum yang penting bukan hanya apa-apa yang terlihat atau termaktub secara eksplisit di brosur sekolah. Ada juga “kurikulum tersembunyi”, yang tak kalah penting bagi perkembangan seorang siswa atau pembelajar.

Kurikulum tersembunyi adalah salah satu konsep pendidikan yang sering luput dari perhatian orang tua, padahal inilah unsur yang paling kuat membentuk karakter dan cara berpikir anak. Banyak orang tua kaget ketika mendapati anak pulang sekolah dengan kebiasaan baru yang tidak pernah diajarkan di rumah. Ada yang tiba-tiba takut salah, ada yang justru menjadi lebih mandiri, ada yang lebih sensitif pada aturan, ada yang menjadi lebih berani bertanya. Fenomena ini tidak muncul dari mata pelajaran matematika, sains, atau geografi. Ia muncul dari kebiasaan harian, pola interaksi, dan budaya sekolah yang bekerja secara halus namun konsisten.

Istilah mengenai kurikulum tersembunyi ini dipopulerkan oleh Philip Jackson dalam bukunya Life in Classrooms pada tahun 1968. Dalam pandangannya, sekolah bukan hanya tempat anak mempelajari pelajaran formal seperti matematika, bahasa, atau IPA, tetapi juga tempat mereka menyerap nilai-nilai, norma, dan pola perilaku yang berlangsung setiap hari. Ibarat gunung es, kurikulum formal hanya terlihat di permukaan, sementara struktur besar yang sebenarnya menentukan arah perkembangan anak tersembunyi di bawah permukaan.

Salah satu contoh paling jelas adalah kebiasaan mengangkat tangan sebelum berbicara kepada guru, mengantre di kantin, atau menunggu guru masuk kelas. Rutinitas kecil ini mengajarkan bahwa keinginan pribadi tidak selalu harus diprioritaskan dan bahwa hidup bersama orang lain secara sosial menuntut kesabaran dan kemampuan untuk menahan ego pribadi. Interaksi dengan otoritas juga membentuk pola pikir tertentu, misalnya guru berdiri di depan kelas dan siswa duduk rapi. Hal itu bukanlah sekadar pengaturan ruang ataupun manajemen kelas, tetapi pesan simbolik bahwa ada struktur kepemimpinan yang harus dipahami. Anak belajar kapan harus memimpin, kapan harus mendengar, dan bagaimana menghargai hierarki. Dalam beberapa tradisi pendidikan, termasuk sekolah-sekolah yang menanamkan prinsip siap dipimpin dan siap memimpin, pola ini menjadi pondasi karakter jangka panjang.

Bel sekolah juga menjadi contoh penting lainnya. Setiap kali bel berbunyi, kegiatan harus berhenti, tidak peduli apakah tugas sudah selesai atau tidak, atau permainan yang mereka sedang mainkan sudah selesai atau belum. Banyak yang melihat sistem ini sebagai model disiplin industri. Akan tetapi dari sudut pandang yang lebih bijak justru hal ini menegaskan pentingnya manajemen waktu. Waktu memiliki batas dan fungsi yang jelas. Oleh karenanya, anak dididik bahwa setiap waktu harus dimaksimalkan sebelum berpindah ke pekerjaan berikutnya. Ini sejalan dengan sebuah pepatah Arab bahwa waktu bagaikan pedang yang akan merugikan jika tidak digunakan dengan bijak.

Penelitian Jean Anyon pada tahun 1980 menunjukkan bahwa kurikulum tersembunyi berbeda antara sekolah kelas pekerja dan sekolah elite. Di sekolah kelas pekerja, anak didorong untuk mengikuti instruksi secara ketat dan menekankan hafalan serta ketertiban. Hasil akhirnya adalah mentalitas pelaksana yang patuh aturan. Sebaliknya, di sekolah kelas atas atau elite, guru memberi ruang untuk debat, kreativitas, dan analisis. Anak boleh berbeda pendapat selama pendapatnya dapat dipertanggungjawabkan dan logis. Lingkungan seperti ini membentuk pola pikir pemimpin dan pengambil keputusan. Karena itu, memilih sekolah bukan hanya soal fasilitas atau kualitas akademik, tetapi soal mentalitas apa yang ditanamkan apakah mentalitas buruh atau mentalitas pemimpin.

Kurikulum tersembunyi membawa dampak psikologis yang bisa positif maupun negatif. Jika sekolah terlalu menekankan kompetisi dan memajang ranking secara terbuka, anak belajar bahwa harga diri ditentukan oleh angka dan teman adalah pesaing. Demikian juga jika bullying fisik atau verbal dibiarkan tanpa penanganan, anak-anak secara insting menyetujui bahwa kekuatan fisik atau dominasi sosial secara jabatan atau kekayaan adalah jalan untuk menang. Akan tetapi ketika sekolah memiliki budaya inklusif, maka anak belajar empati tanpa perlu diajarkan secara formal. Ketika kerja kelompok dijalankan dengan baik, anak belajar bernegosiasi, berdiskusi, dan menyelesaikan konflik antar sesamanya. Di sinilah kualitas budaya sekolah menjadi faktor penentu apakah kurikulum tersembunyi akan memperkuat anak atau justru merusaknya.

Orang tua seringkali terfokus hanya pada brosur sekolah yang menarik, baik dari segi fasilitas ataupun kurikulumnya, padahal kurikulum yang di brosur hanya memuat kurikulum formal. Untuk memahami kurikulum tersembunyi, orang tua perlu mengamati suasana nyata sekolah. Dinding kelas dapat menjadi salah satu indikator: apakah hanya karya dengan nilai sempurna yang dipajang atau karya unik dan beragam yang menunjukkan penghargaan terhadap proses dan kreativitas. Interaksi guru dan murid juga menjadi sinyal kuat. Jika murid tampak tegang dan takut salah, mungkin ada budaya otoriter. Jika mereka aktif menyapa, bercengkrama, bertanya dan berdiskusi, berarti sekolah menumbuhkan budaya yang dialogis dan egaliter. Suasana waktu istirahat adalah cermin paling jujur yang bisa kita perhatikan, Apakah anak diawasi dengan larangan ketat atau difasilitasi untuk bermain, berinteraksi, dan belajar sosial secara alami tapi tetap terawasi dengan baik. Semua ini menunjukkan pola pendidikan yang jauh lebih berpengaruh dibandingkan sekadar materi pelajaran.

Pada akhirnya, aspek terpenting dalam pendidikan anak justru hal-hal yang tidak tertulis dalam dokumen resmi sekolah. Kurikulum tersembunyi bekerja setiap hari, membentuk cara anak memandang diri, orang lain, otoritas, dan juga dunia. Ketika kita memilih sekolah, maka pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan hanya tentang apa yang akan dipelajari anak, tetapi pertanyaan yang paling pas adalah akan menjadi pribadi seperti apa ia nantinya. Sekolah tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga mentalitas hidup. Dan mentalitas itulah yang akan mereka bawa jauh melewati bangku sekolah mengarungi kehidupan selanjutnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *