Menjadi Guru Berdaya di Era Post-Truth

Kemajuan teknologi adalah pisau bermata dua, yang nahasnya, bagian lebih tajamnya seringkali mengarah kepada para pengguna. Beberapa penelitian sudah membuktikan bahwa perkembangan teknologi—khususnya eksistensi media sosial—membawa sejumlah dampak tidak mengenakkan: penurunan konsentrasi & fungsi kognitif, munculnya bias kognitif & emosi negatif, serta meningkatnya masalah kesehatan mental.[1]

Masifnya penggunaan teknologi dan media sosial tak ayal dapat memberikan dampak signifikan terhadap pola pikir dan perilaku penggunanya. Derasnya paparan informasi tidak dapat dibendung. Kini pengguna media sosial tidak hanya mendapat apa yang mereka butuhkan dari sana, mereka juga dijejali apa yang sebetulnya tidak perlu. Alhasil, mereka tercebur ke tengah lautan yang tidak selalu berisi fakta. Ada banyak opini yang justru sering menenggelamkan mereka ke dalam kegelapan realitas.

Salah satu kelompok yang turut merasakan dampak tersebut ialah para siswa di sekolah menengah yang mulai memasuki fase peralihan di usia remaja. Para siswa menjadikan media sosial dalam dunia maya sebagai acuan bagi mereka dalam berpikir serta berperilaku di dunia nyata. Pola pikir mereka dibentuk dari melihat dan mendengar konten media sosial yang kemudian mereka yakini kebenarannya. Begitu juga dalam berperilaku yang sering menjadi refleksi dari paparan visual di sana.

Media sosial pula yang kemudian turut andil pada lahirnya fenomena yang disebut sebagai post-thruth. Istilah yang dikekalkan dalam Oxford Dictionary pada 2016 tersebut semakin terasa terjadi di sekitar kita. Pengguna media sosial aktif, termasuk siswa di sekolah, mulai terjerembab dalam situasi di mana fakta objektif tidak serta merta dianggap realitas apabila berseberangan dengan keyakinan. Sedangkan opini justru bisa dianggap fakta apabila selaras secara emosional.

Masalah kemudian muncul ketika para siswa menjadikan media sosial (atau informasi di internet secara umum) sebagai sumber belajar utama menggantikan peran orang tua hingga guru di sekolah. Seketika mereka dapat berubah seolah sudah menguasai suatu ilmu hanya bermodalkan bahan tontonan di media sosial. Proses belajar pun tidak lagi runut mengikuti tahapan semestinya karena apa yang diberikan dalam media sosial biasanya sudah berupa kesimpulan akhir.

Situasi itu tentu tidak baik jika dibiarkan, terutama dalam bidang pendidikan, dan khususnya bagi para guru di sekolah. Peran mereka seolah tergantikan lewat sajian para kreator konten dan narasumber yang muncul di media sosial untuk berbagi informasi. Padahal konten itu hadir dari orang yang tidak punya kapasitas untuk memberikan informasi yang benar. Dan hanya mengejar kebutuhan viral serta meraih cuan banyak.

Tantangan Post-Truth

Post-Truth merupakan istilah yang baru mendunia sejak peristiwa Brexit dan Pemilihan Presiden Amerika Serikat di tahun 2016 lalu. Istilah ini kemudian dimasukan dalam kamus Oxford Dictionary di tahun yang sama, bahkan dinobatkan sebagai “Word of The Year”, mungkin karena etimologinya yang unik.

Singkatnya post-truth dalam languages.oup.com didefinisikan sebagai ‘relating to or denoting circumstances in which objective facts are less influential in shaping public opinion than appeals to emotion and personal belief’ . Jika diterjemahkan secara makna kurang lebih berarti, sebuah keadaan yang, “mengacu pada situasi di mana fakta yang sebenarnya (objektif) kalah pengaruhnya dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi dalam membentuk opini publik.”

Diksi post-truth hadir karena warga yang turut terlibat dalam kedua peristiwa besar tersebut lebih mengedepankan emosi dan keyakinan pribadi dalam membuat keputusan. Baik Brexit maupun Pilpres AS memang membutuhkan aksi nyata berupa voting untuk mendapatkan solusi final. Kala itu, banyak informasi bertebaran di dunia maya dan media sosial. Baik opini maupun fakta. Hanya saja masyarakat memang condong memutuskan berdasarkan pada apa yang sudah mereka yakini kebenarannya.

Dapat dibayangkan betapa sulitnya memaparkan sebuah informasi atau bahkan pengetahuan saat ini. Ketika kondisi audiensnya lebih mengedepankan perasaan dan emosi, alih-alih berusaha melakukan verifikasi informasi yang datang. Setiap orang bisa memiliki versi ‘truth’ mereka sendiri-sendiri.

Ditambah lagi sistem algoritma media sosial yang membentuk sebuah echo chamber (ruang gema). Yakni penyesuaian konten yang muncul di media sosial pengguna berdasarkan pada kebiasaan pencarian, komentar, dan interaksi yang terjadi. Pengguna hanya akan terpapar segala informasi dan konten yang sesuai dengan perilaku mereka selama menggunakan media sosial saja. Apalagi perusahaan-perusahaan pengembang media sosial punya kepentingan untuk menjaga ekosistem pengguna agar berlama-lama menggunakan aplikasi buatan mereka. Caranya ya dengan menyajikan informasi yang digemari setiap pengguna. Tidak jadi soal apakah informasi tersebut tidak memberi manfaat lebih jauh.

Dan lagi-lagi, ruang gema setiap orang akan sangat berbeda. Bahkan kecenderungan tersebut dapat ‘menular’ melalui paparan aktivitas disebabkan pertemanan dan saling follow antar pengguna satu sama lain. Menyebabkan ruang berpikir kritis menjadi semakin sempit, karena kita hanya akan dipertemukan dengan sesama pengguna yang punya minat serupa. Tidak heran apabila kemudian seorang guru menemukan bahwa sebuah informasi bisa dengan mudah menyebar di antara siswanya. Hal tersebut sangat mungkin terjadi karena tentu saja para siswa saling berteman di media sosial. Saling memberikan informasi satu sama lain.

Sementara seorang guru bisa jadi tidak punya waktu untuk menelusuri aktivitas siswanya di media sosial. Guru yang berfokus pada materi pelajaran di kelas atau administrasi sekolahnya berpotensi tidak punya konektivitas secara virtual dengan siswa. Menjadikannya tidak ‘up to date’ dan bisa tetap relevan ketika berhadapan dengan siswa. Guru jadi punya tantangan baru untuk dihadapi di tengah kesibukannya yang telah ada selama ini.

Menjalankan Peran Guru Pendidik

Guru punya banyak pengertian dan arti. Dalam bahasa Sansekerta guru secara harfiah diartikan sebagai ‘pemusnah kegelapan’ atau ‘pembawa cahaya’. Sementara dalam bahasa Indonesia secara umum, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Dini Kristianty Wardani (2016) menyebut guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Secara umum guru bermakna seorang pengajar dan pendidik di sebuah insitusi pendidikan. Meski belakangan kita mendapati bahwa seorang guru hanya menjalani peran sebagai seorang pengajar saja. Dengan mengesampingkan peran sebagai pendidik. Hal itu bisa terjadi karena guru hanya merasa perlu menyampaikan materi ajar di kelas, di hadapan para siswa, memberi latihan, evaluasi, lalu selesai.

Sementara jika mengharapkan guru menjadi pendidik, maka perlu usaha ekstra dengan menjadi contoh yang baik di hadapan siswanya. Belum lagi perlu turut mendampingi siswanya meski tidak di dalam kelas. Proses pendidikan memerlukan waktu dan terkadang tidak bisa selesai hanya di area sekolah saja.

Padahal situasi saat ini tidak memungkinkan guru hanya menjadi sekadar pengajar. Guru harus menghidupkan peran sebagai pendidik di hadapan siswanya. Sosok guru pendidik dapat menjadi solusi bagi siswa yang sudah terpapar paham post-truth dalam dirinya. Siswa yang hanya percaya pada kebenaran berdasarkan pada keyakinan dan emosionalnya saja, perlu dibimbing oleh guru semacam itu. Siswa perlu memahami bahwa proses mendapatkan ilmu pengetahuan itu perlu waktu. Ditambah pemahaman bahwa adanya proses verifikasi terhadap informasi yang didapat agar dapat dipertanggungjawabkan di kemudian hari.

Transformasi Menjadi Kurator Ilmu

Seorang guru menjadi teman bagi siswa bukanlah gagasan baru. Praktik semacam ini sudah jamak dilakukan, malah terkadang berlebihan di era modern ini. Guru malah sering mengeksploitasi siswanya dalam konten untuk dibagikan kepada publik. Bukan soal senang atau tidaknya, tapi lebih kepada kepantasan dalam interaksi yang dibangun saja. Maka fungsi pertemanan antara guru-siswa diperlukan karena adanya kebutuhan untuk membuang sekat komunikasi agar lebih terbuka.

Dalam era post-truth, guru tidak lagi menjadi sumber utama dalam ilmu pengetahuan, apalagi informasi-informasi ringan yang banyak bertebaran. Siswa kini sudah punya banyak sumber lain yang dapat mereka akses kapanpun mereka mau. Kesalahan informasi dari seorang guru dapat berdampak pada proses pembelajaran bila tidak diketahui sang guru. Di sisi lain, siswa yang tidak terbiasa berinteraksi dengan gurunya mungkin akan diam saja meski gurunya salah. Perilaku itu bisa terus berkembang menjadi sikap skeptis apabila tidak diklarifikasi. Siswa akan mencari sumber lain yang dianggapnya lebih kompeten. Dan salah satunya lewat media sosial.

Derasnya arus informasi saat ini, membuat guru tidak bisa lagi menjadikan dirinya sebagai puncak sumber utama informasi dan pengetahuan seperti dulu. Situasinya sudah berbeda. Guru harus membaur bersama para siswa, mengajak mereka diskusi, membuka peluang dikritisi, membuat sesi tanya-jawab dan berbagi. Pada akhirnya gurulah yang harus beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi.

Guru tidak lagi sebagai penjegal ilmu (yang dianggap tidak pantas) bagi siswa. Guru kini bertransformasi sebagai seorang kurator ilmu pengetahun dan informasi. Guru harus lebih giat lagi mendorong diri mendapatkan pengetahuan di luar materi yang biasa dibacanya. Guru perlu meluangkan waktunya untuk mengintip apa-apa saja yang sedang populer di kalangan siswa saat ini. Guru setidaknya tahu siapa saja orang yang tengah viral, yang dijadikan panutan di tengah siswa saat ini. Antara guru perlu berkolaborasi dan saling berbagi informasi, karena hal itu tidaklah mungkin dilakukan seorang diri. Akan sangat banyak waktu dan tenaga dibutuhkan, sebab banyak siswa dan kebiasaan berbeda pula, yang perlu diberi pendidikan.

Namun sebelum itu semua dilakukan, pastikan dulu bahwa seorang guru memang benar-benar ingin menjadi guru, yang tidak hanya mengajar tapi juga memberi pendidikan. Sebab usaha dalam mendampingi para siswa selaku generasi penerus, membutuhkan banyak pengorbanan yang kadang kala tidak sebanding nilainya dengan apa yang didapatkan.

Salam sehat untuk para guru!

 

[1] Cek beberapa paper berikut: 1) Chiossi, F., et al. (2023). Short-Form Videos Degrade Our Capacity to Retain Intentions: Effect of Context Switching on Prospective Memory. arXiv., 2) Liu, J. J., et. al. (2024). Social media positive feedback and its impact on adolescents’ health risk behaviors: the chain mediation role of cognitive bias and emotions. PubMed., dan 3) Park, N., & Teixeira, P. E. (2025). Influencing factors of social media’s negative impacts on adolescents’ mental health: A systematic review. Journal of Student Research, 13(2), 2460.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *