Menyiasati Resah Orang Tua untuk Masa Depan Anak yang Tanpa Kepastian

Beberapa orang tua dihinggapi rasa resah, bukan karena soal dengan apa mereka akan memberi makan anaknya, atau harus dibawa kemana sekolah lanjutan anak-anak nantinya. Tetapi keresahan yang dialami para orang tua dari kelas ekonomi menengah, orang tua dengan gaji satu hingga dua kali di atas UMR daerahnya menganggap bahwa anak-anak mereka tidak memiliki mental seperti orang tuanya dahulu saat berada di usia persis seperti anak-anak mereka hari ini.

Cerita dari satu orang tua ke orang tua lain, dihinggapi kecemasan, apakah anak-anak mereka dapat bertahan hidup, memiliki agility yang sama dalam menghadapi tempaan era mendatang penuh ketidakpastian. Kecemasan datang berganti dikeluhkan, mana kala anak-anaknya lebih banyak menatap layar gawai hingga nanar, itu pun masih belum dianggap lelah untuk usia mereka hari ini. Sedang bila dibandingkan orang  tuanya dahulu, usia seperti mereka hari ini. Adalah fase menghabiskan waktu menjadi mandiri, mencoba bekerja agar mampu meringankan beban keluarga, atau rela menjeda pendidikan demi adik-adiknya.

Hidup memang memiliki keprihatinannya masing-masing. Malcom Gladwell dalam bukunya yang Outlier memberikan gambaran bahwa di Amerika Serikat pun memiliki kecemasan yang sama pada banyak negara berkembang lain, tak terkecuali Indonesia. Gladwell menyebut bahwa hari ini dunia dihadapkan pada sebuah generasi yang lebih terdidik, namun memiliki taraf hidup lebih buruk dibanding generasi sebelumnya yang notabene tidak sekolah sama sekali. Ia memberi jawaban, bahwa kedua generasi tersebut lahir dalam kondisi berbeda, dihadapkan pada batasan yang berbeda dan kesempatan tak sama.

Aditya Mulya dalam Parents Stories mengetengahkan, generasi sebelumnya mungkin tidak sekolah, tetapi mereka lahir di masa saat pendidikan tidak terlalu penting dan regulasi tidak ketat. Yang terjadi adalah, pada generasi sebelumnya, sang ayah membuka usaha, bekerja siang-malam dan mempekerjakan anak-anaknya sebagai karyawan untuk membantu produksi. Generasi berikutnya lahir di alam saat pendidikan sangat penting dan regulasi sangat ketat. Membuka usaha tidak mudah, mencari kerja banyak syaratnya, apalagi membuka usaha dan mempekerjakan anak kecil. Generasi sebelumnya dihadapkan pada masa industrialis, saat semakin banyak buruh, semakin banyak output pabrik. Generasi sekarang lahir di masa industri kreatif. Mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan kreatifitas tinggi yang mendapat pekerjakan dengan penghasilan tinggi.

Setidaknya dua fenomena di atas menjelaskan pada kita, untuk benar-benar paham waktu serta tempat. Orang tua tak bisa lagi senantiasa memberikan pola-pola instruksional pada segala keadaan. Arahan-arahan dan pengalaman, namun dikemas dengan bahasa serta realita kekinian, justru itu yang kini dibutuhkan. Orang tua, bukan lagi memberi bimbingan terus, tapi hari ini diminta untuk mengisahkan pengalaman. Itu baru sebatas gambaran besar untuk menguatkan mental anak-anak di masa nanti. Masa yang orang tuanya hari ini merasa khawatir, tapi ternyata anak-anak sudah membaca strategi dengan pasti. Selain beberapa hal di atas, setidaknya ada beberapa perhatian penting untuk menjadi catatan.

Pertama, para orang tua harus sadar, bahwa keadaan hari ini menuntut penguasaan skill yang lebih dibutuhkan. Spesifikasi atas satu atau dua keterampilan menjadi nilai penting untuk anak dapat bertahan hidup. Hari ini, di saat lapangan kerja bebas dimasuki oleh beragam latar belakang lulusan. Para pewawancara juga menanyakan, skill lain apa yang dimiliki oleh seseorang di luar ijazah pendidikan. Kesadaran akan konteks juga harus dipahami dengan baik sebagai contoh pada masa orang tua tumbuh besar mandiri, ia dibesarkan oleh orang tua sebelumnya atau kakek dari anak-anak mereka. 

Kehidupan pertanian pernah menjadi sumber daya utama negeri agraris seperti Indonesia. Hingga saat itu sekolah tinggi tak lebih penting dibanding menjadi petani. Masa berganti di usia para orang tua hari ini ketika eksplorasi tambang minyak dibuka pada banyak tempat, perkuliahan paling bergengsi selain profesi adalah jurusan berbau perminyakan. Bisa pertambangan atau teknik kebumian. Satu pikiran yang ada ialah, minyak di negara ini masih melimpah, pengolahannya masih butuh banyak sumber daya khusus serta terampil. Pundi-pundi rupiah bisa menjadikan kaya walau tak jarang harus sering berpisah dengan keluarga, demi menuju sumur-sumur pengeboran. Selain itu juga sarjana-sarjana elektro dan telekomunikasi masih perlu di tengah maraknya infrastruktur pembangunan jaringan listrik serta telekomunikasi. Masa itu adalah masa merintis. Membuka wilayah baru artinya menanam pohon uang berjangka panjang.

Tapi kini, segala sesuatu telah berubah, seperti kolam yang diisi oleh banyak pemancing. Ikan bukan bertambah banyak, akan tetapi para pemancing terus bertambah tanpa pemancing sebelumnya yang telah mendapat banyak bagian meninggalkan kolam. Akhirnya masa merintis tadi diganti dengan masa memanfaatkan. Bertumbuhlah peran-peran di dunia digital mengisi hiburan yang sebelumnya diketahui bahwa hiburan adalah bekerja. Hiburan hanya memancing di kolam saja. Biar banyak yang mancing, itu juga hiburan. 

Oleh karena itu kesadaran orang tua dibutuhkan untuk mendampingi anaknya. Kecemasan mereka yang menganggap anaknya hanya sekadar mager, mungkin harus ditelusuri lebih jauh lagi. Jangan-jangan mager-nya tadi telah menghimpun banyak strategi. Mager-nya tadi bisa jadi membawa ia pada pengalaman baru yang telah dipikirkan untuk masa depannya.

Kedua, komunikasi jangan berhenti. Kadang muncul keluhan orang tua, anaknya sulit diajak komunikasi. Diminta duduk bersama dalam satu bangku serta satu waktu, selalu tak pernah berakhir efektif. Bonding yang coba untuk dibangun lagi, tak memunculkan rasa saat mereka masih menjadi kanak-kanak lalu. Usia remaja justru menghadirkan cemas bagi para orang tua. Ini di luar dari pengalaman sebelumnya, apakah para orang tua itu benar-benar membersamai tumbuh kembang anaknya atau tidak. Kadang kala, yang memerhatikan secara penuh pun, sering merasa, ada bagian hilang dari anaknya saat tumbuh dewasa yang dianggap hal baru bagi orang tuanya.

Kita harus memahami bahwa komunikasi bukan hanya bicara semata. Komunikasi juga bermakna perhatian. Mengamati apa saja yang menjadi kegemaran, makanan apa yang sering dibeli, paket apa yang kadang datang ke rumah, sesekali datang ke kamar, bukan sekadar minta didatangi. Beberapa kali ajak pergi hanya berdua atau bersama anak-anak saja, tanpa bundanya yang mungkin butuh me-time. Atau cobalah bunda pergi dengan anak perempuannya, mengunjungi tempat yang sama sekali baru bagi bunda serta anak gadis yang tumbuh dewasa. Bicara soal kecenderungan, hobi kemarin saat masih kecil apa masih tersisa, atau perhatian yang dibangun dari pengenalan kala mereka bertumbuh menjadi dewasa.

Ketiga, coba berikan kepercayaan. Apa sih yang hari ini menjadi beban bagi orang tua untuk benar-benar memberikan kepercayaan pada anak-anaknya yang tumbuh dewasa? Hari ini jalan ramai, komunikasi mudah, peta menuju ke berbagai tempat sangat sederhana untuk ditempuh, alternatif menuju suatu bangunan tidak sulit untuk dicari informasinya. Bahkan para guru pun kini tak lebih banyak mengeksplorasi ilmu dibanding siswa-siswa. Arus informasi membuat segalanya mudah. Maka bukan kekangan lagi yang muncul dikedepankan. Cobalah untuk tanamkan kepercayaan, serta keyakinan bagi diri sendiri. Tetapi dengan terus memberi pesan pegangan yang mudah dimengerti oleh anak. Misal, “Ayah izinkan kamu pergi, tapi ingat baik-baik pesan ayah, bahwa kehormatan keluarga itu diletakkan di atas kepala kita… dst.

Cobalah tiga hal di atas terlebih dahulu, sebagai langkah untuk membangun mental juang bagi anak-anak di masa datang. Semua orang tua berdiri pada keresahan. Tapi tentu mereka perlu kesepakatan yang sama, bahwa era sudah berganti. Kebutuhan hidup bukan sekadar bekerja tetap di suatu tempat, pulang malam hari, pergi pagi buta. Banyak sektor lain yang menuntut lulusan beragam. Industrinya sudah berubah, mengemas masa depan juga sudah tak sama dengan generasi sebelumnya.

Rizki Aji Hertantyo
[Penulis buku “Pengantar Kepengasuhan Lembaga Pendidikan Islam”]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *