Resensi Buku: Sejarah dan Masa Depan Bahasa Inggris
Published Date: 1 April 2026
Judul Buku : The History of The English Language
Penulis : Brigit Viney
Penerbit : Oxford University Press
Tebal : 88 halaman
Mungkinkah posisi bahasa Inggris sebagai bahasa internasional utama tergeser di masa depan? Atau, pamornya bakal turun seperti bahasa Latin yang sempat menjadi bahasa yang kuat di masa lalu di sebagian wilayah Eropa, termasuk di wilayah yang sekarang menjadi Inggris (hal. 5), dan digantikan oleh bahasa lain?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita tengok ke masa lalu. Kita perlu melihat bagaimana bahasa Inggris bisa sampai menjadi dominan di dunia saat ini yang diterangkan dalam buku The History of The English Language karya Brigit Viney.
Brigit Viney membuka bukunya dengan menyebutkan bahwa penggunaan bahasa Inggris di dunia dengan frasa ‘extremely widely’ (sangat luas) (hal. 2). Saat buku ini pertama kali diterbitkan (tahun 2008), bahasa Mandarin menjadi bahasa yang memiliki paling banyak penutur bahasa pertama. Namun, kedudukan bahasa Inggris menjadi penting karena digunakan di lebih banyak negara dan organisasi-organisasi global. Saat ini, dikutip dari International Center for Language Studies, bahasa Inggris menjadi bahasa dengan pengguna paling banyak di seluruh dunia dengan total sekitar 1,52 miliar penutur di seluruh dunia. Dominasi ini pasti tidak terjadi secara tiba-tiba.
Awal Bahasa Inggris
Brigit Viney menyebutkan bahwa orang pertama yang meneliti sejarah Bahasa Inggris adalah Sir William Jones (hal.3) pada abad ke-18. Sir William Jones menyimpulkan bahwa akar bahasa Inggris berasal dari rumpun bahasa yang disebut Proto-Indo-Eropa. Bahasa-bahasa ini dipercaya digunakan oleh orang-orang Kurgan yang tinggal di daerah yang saat ini dikenal sebagai Rusia bagian selatan pada 5000 tahun SM. Kemudian, kelompok-kelompok ini bermigrasi. Mereka menyebar ke wilayah Eropa dan Asia sekitar tahun 3500 SM (hal. 4).
Seiring berjalannya waktu, bahasa yang mereka gunakan mengalami perubahan dialek. Setiap wilayah mempunyai dialek yang berbeda-beda. Lambat laun, dialek-dialek yang berbeda ini berkembang menjadi bahasa-bahasa baru. Mereka menyebar melewati daratan dan lautan. Setiap migrasi, mereka tinggal, lalu membuat ‘nama’ kelompok dan bahasa baru.
Wilayah yang saat ini disebut Inggris raya mendapatkan bahasa Inggris dari kelompok yang dikenal dengan suku-suku Jermanik (Anglo, Saxon, dan Jute) pada 449 M. Dari merekalah berkembang Bahasa Inggris Kuno. Beberapa contoh kata dari Bahasa Inggris Kuno, misalnya: wit yang artinya we two (kita berdua) dan git yang berarti you two (kalian berdua).
Bahasa Inggris Pertengahan (Middle English)
Perjalanan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional tidaklah mulus. Brigit Viney menjelaskan bahwa bahasa Inggris pernah menjadi bahasa masyarakat kelas bawah. Pada tahun 1066, wilayah Inggris (yang dipimpin Raja Harold) ditaklukkan oleh bangsa Normandia (Perancis Utara) yang dipimpin oleh Raja William (hal. 17). Usai peristiwa ini, hingga kurang lebih 200 tahun setelahnya, bahasa Prancis menjadi bahasa resmi di pemerintahan, administrasi, hukum, gereja, dan literatur di wilayah Inggris. Sementara itu, bahasa Inggris hanya digunakan oleh masyarakat kelas bawah.
Kondisi terjajah tersebut membuat rasa nasionalisme masyarakat Inggris bangkit. Puncaknya, Inggris memenangkan Perang Ratusan Tahun (1337-1453) melawan Prancis. Setelahnya, bahasa Inggris kembali menjadi bahasa resmi dalam Pendidikan dan pemerintahan.
Ironisnya, periode ini justru membuat kosakata bahasa Inggris makin kaya. Ribuan kosakata bahasa Prancis diserap (hal. 21). Kata-kata seperti cows, sheep, dan pigs (sapi, domba, dan babi) berasal dari bahasa Inggris Kuno, sementara beef, mutton, dan pork (daging sapi, daging domba, dan daging babi) berasal dari bahasa Prancis. Saat masih dipelihara oleh rakyat biasa dan ketika disajikan sebagai makanan untuk kaum bangsawan, hewan-hewan tersebut harus mempunyai nama-nama yang berbeda untuk menegaskan perbedaan kasta. Poin ini menunjukkan satu hal penting, yakni bahasa bisa tumbuh dan menyebar mengikuti kekuatan politik dan ekonomi.
Bahasa Inggris di Masa Kini
Kekuatan politik, ekonomi, dan teknologi-lah yang membuat bahasa Inggris menjadi seperti sekarang. Bahasa Inggris menyebar ke seluruh dunia melalui migrasi—walaupun kali ini lebih cocok disebut kolonialisme. Pada tahun 1607 orang-orang berkebangsaan Inggris berhasil menduduki Virginia. Sejak itu, bahasa Inggris mulai tersebar di wilayah Amerika Serikat. Jalur pelayaran juga ditempuh untuk menjangkau wilayah yang lebih jauh. Hingga akhirnya Australia juga menjadi negara dengan mayoritas penduduk berbahasa Inggris.
Pada abad ke-19, banyak mesin industri yang berasal dari negara Inggris. Di masa yang sama, Inggris dan Amerika Serikat merupakan negara-negara kaya yang mempunyai banyak industri (hal. 2). Inilah yang membuat orang-orang—mau tidak mau—harus menggunakan bahasa Inggris agar bisa berkomunikasi dan berbisnis dengan mereka.
Bahasa Inggris di Masa Depan
Jika bahasa Inggris dulu naik karena kekuatan industri dan teknologinya, mungkinkah hal yang sama juga bisa terjadi pada bahasa Mandarin (bahasa resmi China)? Saat ini, China menjadi negara yang ekonomi dan teknologinya tengah naik. Dikutip The Guardian, saat ini China memimpin dalam 37 dari 44 sektor teknologi yang dipantau dalam proyek selama setahun yang dilakukan oleh Lembaga ThinkTank Australian Strategic Policy Institute. Bidang-bidang tersebut meliputi baterai listrik, hipersonik, dan komunikasi frekuensi radio canggih seperti 5G dan 6G. Jika pola sejarah yang dijelaskan Brigit Viney konsisten, bukan mustahil bahasa Mandarin berpeluang menjadi bahasa internasional yang lebih kuat di masa depan.
Brigit Viney mengakui bahwa masa depan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional utama tak pasti. Ia bahkan mengakui China sebagai calon pesaing kuat dengan jumlah penutur Mandarin yang besar dan pertumbuhan ekonomi China diprediksi menjadi faktor yang penting. Negara-negara Asia mulai berbisnis dengan China, makin banyak orang yang menempuh pendidikan ke sana, dan bahasa Inggris mungkin akan menurun popularitasnya (hal. 70).
Meski demikian, tentu tidak mudah menggeser posisi bahasa yang sudah menjadi bahasa internasional sejak lebih dari tiga abad terakhir. Ia telah menjadi bahasa kedua, bahkan ketiga, bagi miliaran orang. Bahasa Inggris juga telah menjadi bahasa dalam sistem pendidikan internasional, publikasi ilmiah, diplomasi, dan dunia digital. Tampaknya, perlu lebih dari sekadar kekuatan ekonomi untuk menyalip dominasi bahasa Inggris di kancah global. Bahkan, ada beberapa negara yang masih ‘merasa terancam’ akan keunggulan bahasa Inggris dan menempuh jalur hukum untuk melarang bahasa Inggris menyerap kata dari bahasanya, seperti Prancis (di tahun 1977 dan 1994) dan Polandia (pada tahun 1997) (hal. 70). Barangkali ini dilakukan untuk mencegah bahasa Inggris makin populer di negara-negara tersebut.
Sejarah yang dipaparkan Brigit Viney menerangkan bahwa tidak ada bahasa yang kebal dari perubahan. Pada saat yang sama, sejarah juga menunjukkan bahwa dominasi bahasa tidak hanya ditentukan oleh jumlah penutur, melainkan oleh kekuasaan, ekonomi, teknologi, dan peranya di organisasi global. Bahasa Inggris mungkin suatu hari akan berbagi peran dengan bahasa Mandarin. Namun, saat ini, seperti yang tersirat dalam buku Brigit Viney, kedudukannya masih ditopang oleh pondasi historis dan struktural yang sangat kuat.
Tentang Buku
Buku ini menarik. Dalam 88 halaman yang ringkas dan mudah diikuti, ia tidak hanya memaparkan sejarah bahasa Inggris secara kronologis, tetapi juga menunjukkan bahwa bahasa selalu bergerak mengikuti arus kekuasaan dan perubahan sosial. Buku ini cocok bagi pembaca umum yang ingin memahami sejarah bahasa Inggris tanpa harus membaca kajian linguistik yang terlalu teknis.
Buku ini menggunakan kertas yang agak glossy, membuatnya jadi terasa mewah. Selain itu, buku ini dilengkapi dengan dukungan visual yang kuat berupa foto berwarna, ilustrasi, peta, dan diagram yang membantu pemahaman pembaca. Di bagian akhir, ada semacam kuis yang berisi beberapa pertanyaan pra dan pasca membaca buku. Sayangnya, semua pertanyaan berada di bagian akhir, saya jadi membaca pertanyaan yang seharusnya saya baca sebelum membaca isinya malah setelah selesai membaca bukunya.
Secara umum, buku ini sangat recommended bagi orang-orang yang ingin mengetahui sejarah dan perkembangan bahasa Inggris. Buku yang bisa dipinjam di perpustakaan SMA Future Gate ini rasanya bisa tetap mudah dicerna oleh orang yang baru belajar bahasa Inggris sekali pun karena bahasanya yang ringan.
Referensi:
Viney, Brigit. 2008. The History of The English Language. Oxford University Press
Hurst, Daniel. 2023. China leading US in technology race in all but a few fields, thinktank finds. https://www.theguardian.com/world/2023/mar/02/china-leading-us-in-technology-race-in-all-but-a-few-fields-thinktank-finds diakses pada 27 Februari 2026.
- 10 most spoken languages in the world in 2026. https://www.icls.edu/blog/most-spoken-languages-in-the-world diakses pada 27 Februari 2026.
