Terkena Zohnerisme Akibat Minimnya Literasi Ilmiah

Pada tahun 1997, seorang anak bernama Nathan Zohner di Eagle Rock Junior High School di Idaho Falls, Idaho, Amerika Serikat, mempresentasikan sebuah proyek sains di hadapan teman sekelasnya. Dalam presentasinya Zohner meyakinkan audiensi untuk turut memblokir penggunaan sebuah cairan berbahaya. Cairan yang, secara mengejutkan, digunakan dalam keseharian banyak orang. Cairan tersebut bernama dihydrogen monoxide.

Zohner membawakan beberapa alasan kenapa cairan tersebut tidak boleh digunakan lagi. Di antaranya efek luka bakar yang dapat ditimbulkan ketika cairan tersebut berubah menjadi bentuk gas. Kemudian efek korosi dan kemampuan untuk menghancurkan metal. Bahkan dapat mengakibatkan kematian signifikan per tahunnya.

Berkat kepiawaian Zohner dalam presentasi tersebut, dibarengi sajian riset meyakinkan, membuat 43 dari 50 teman sekelas yang hadir meyakini bahwa dihydrogen monoxide memang harus dilarang peredarannya. Jumlah yang signifikan, tentu saja.

Tapi apa yang tidak disadari sebagian besar teman sekelas Zohner, bahwa nama lain dari dihydrogen monoxide (dapat disingkat dengan H2O atau DMHO) ialah air. Ya, Zohner sedang ternyata mempresentasikan air sebagai sebuah cairan ‘berbahaya’ di hadapan teman sekelasnya.

Fenomena Zohnerisme

Apa yang dilakukan Zohner pada teman sekelasnya ternyata menjadi berita besar di negaranya. Kemampuan Zohner untuk membelokkan sebuah fakta pada tempat yang tidak semestinya, membuat banyak orang terbelalak. Informasi tersebut pun sampai pada seorang jurnalis dari Washington Post bernama James Glassman.

Glassman kemudian membuat istilah ‘Zohnerisme‘ untuk peristiwa fenomenal tersebut. Zohnerisme didefinisikan sebagai tindakan penyajian fakta yang benar namun menyesatkan, untuk membingungkan orang yang kurang literasi ilmiah. Zohnerisme juga menjadi sajian nyata tentang betapa mudahnya manusia tertipu, dan bagaimana pemikiran rasional dapat dipengaruhi oleh representasi fakta yang salah.

Menariknya, apa yang dilakukan Zohren sepertinya terinspirasi dari orang-orang dalam satu dekade sebelumnya. Pada tahun 1983, dalam edisi April Mop (tradisi bohong di awal April) surat kabar Durand Express di Michigan, melaporkan bahwa dihydrogen monoksida ditemukan di pipa air kota. Dilanjutkan dengan informasi mengenai akibat fatal yang ditimbulkan apabila zat tersebut terhirup.

Ada pula Eric Lechner, Lars Norpchen dan Matthew Kaufman yang membagikan flyer di kampus mereka pada 1989. Craig Jackson dengan website berisi informasi DMHO tahun 1994. Mereka membuat petisi untuk memblokir penggunaan DMHO.

Sampai kemudian disusul dengan kemunculan Tom Way yang membuat website bernama Dihydrogen Monoxide Research Division tahun 1997, untuk sumber edukasi mengenai berpikir kritis dan literasi informasi. Berturut-turut beberapa orang pun mengangkat tema DMHO, baik sebagai lanjutan parodi atau memberi edukasi literasi yang bermanfaat.

Pentingnya Literasi Ilmiah

Di era kebebasan informasi seperti saat ini, istilah Zohnerisme mungkin tidak terlalu dikenal. Namun pada kenyataannya banyak orang sering terperosok pada penyesatan fakta dari informasi yang didapat. Kemudahan dan kecepatan mendapatkan informasi bukannya membuat keadaan semakin baik, justru semakin banyak kesalahpahaman di sekitar kita. Akibat dari tingginya laju informasi yang tidak diimbangi dengan sikap kritis untuk mencari sumber ilmiah yang valid.

Sikap kritis diperlukan untuk dapat menyaring beragam informasi, bahkan pengetahuan, yang didapatkan. Apalagi dengan keberadaan internet yang menjejalkan segudang informasi berdasarkan algoritma pengguna. Terkadang kita tidak dapat mengontrol diri untuk bersegera menyebarkan informasi tersebut agar dianggap update tanpa mencerna dan memahami lebih jauh. Hal yang sebaiknya kita hindari.

Kita pun perlu mendorong diri kita untuk terus berliterasi, terutama secara ilmiah. Banyak istilah di luar sana, seperti hanya DHMO, mungkin belum diketahui. Ambil contoh, kode E471 – E476 pada komposisi bahan makanan, yang banyak tidak diketahui konsumen muslim. Kode tersebut merujuk pada olahan hewani, termasuk babi. Binatang yang diharamkan dalam syariat Islam. Tentu akan sangat merugikan apabila akhirnya kita jatuh pada hal yang diharamkan, akibat dari kebodohan, bukan?

Fenomena Zohner dapat kita jadi pelajaran bahwa kurangnya pengetahuan dapat membuat orang mudah dihasut dan dapat mengambil keputusan yang keliru. Jangan sampai fenomena Zohnerisme menimpa diri kita, semata-mata karena malas untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

Baca juga: Sejarah Sains dan Kebenaran Saintifik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *