Balapan F1: Dari Tontonan untuk Orang Tua, Jadi untuk Anak Muda
Published Date: 10 February 2026
Tahun 2026 menandai satu dekade revolusi bisnis balapan Formula 1 (F1) di kancah global. Balapan mobil prototipe paling prestisius nan mewah ini berhasil mengubah positioning bisnisnya, dari balapan untuk orang tua kaya dan Eropa-sentris menjadi balapan segala usia untuk audiens dari seluruh dunia. Kehadiran Liberty Media yang membeli keseluruhan saham balap ini pada tahun 2016 menjadi fase paling krusial dalam revolusi mereka.
Bagi pembaca Ufuk Media angkatan 90-an mungkin tidak asing dengan balapan F1 di televisi lokal. Kala itu nama besar seperti Michael Schumacher, Mika Hakkinen, atau Jacques Villeneuve mendominasi persaingan di atas laju mobil Ferrari dan McLaren. Persaingan mereka mendongkrak popularitas F1 di kancah otomotif global. Hanya saja balapan F1 kala itu terkesan eksklusif sebab ajang yang diselenggarakan terhitung mahal dan sulit diakses. Meski pemirsa televisi di Indonesia relatif beruntung karena dapat menyaksikan siaran live balapannya di televisi lokal pada malam hari. Seringnya malah dini hari berbarengan dengan tayangan sepakbola eropa.
F1 kemudian dianggap balapan bagi orang tua mapan yang punya banyak uang. Eksklusivitas tersebut memang sengaja dibangun sesuai dengan harapan presiden F1 kala itu, Bernie Ecclestone. Ajang balapnya pun banyak mengambil tempat di sirkuit Eropa dan hanya beberapa kali saja digelar di benua lain, seperti di Asia—antara lain di Australia dan Jepang. Akibatnya fans pun tidak banyak tersebar secara global.
Pengambilalihan bisnis jet darat ini oleh Liberty Media kemudian mengubah semua itu. Akuisisi yang dimulai pada 2016 dan sepenuhnya selesai di tahun 2017 menjadi penanda perubahan besar untuk satu dekade berikutnya. Perusahaan media asal Amerika Serikat yang didirikan John C. Malone pada 1991 itu membawa F1 jadi komoditi konten media sosial yang mulai berkembang di tahun yang sama. Dari kesan eksklusif menuju inklusif melalui beragam informasi yang disebar lewat media seperti TikTok dan Twitter (sekarang X). Liberty Media juga mulai melebarkan sayap kegiatannya menuju negeri Paman Sam dengan menambah jumlah balapan di sana.
Kesan tertutup para pebalap di era lama juga diubah menjadi lebih terbuka. Liberty Media bahkan tidak segan menjadikan mereka sebagai salah satu aset untuk mengembangkan IP bisnis balapan terbesar di muka bumi ini. Pebalap bukan hanya kompetitif di lintasan saja, tapi juga dibuatkan ‘drama’ sehingga terasa lebih menggigit setiap musimnya. F1 yang pada zaman itu mulai lesu kehabisan strategi marketing kemudian menemukan momentumnya untuk dapat terbang lebih tinggi bahkan jauh di atas bisnis balap lainnya.
Drive to Survive
Liberty Media betul-betul mengeksploitasi segala aspek yang ada dalam ajang balapan F1 kepada publik. Garasi tim balap dibuka selebar-lebarnya kepada publik. Dialog dan komentar antar pembalap yang tadinya cuma didapat dari kutipan surat kabar, kini bisa didengar langsung, dengan intonasi yang sebenarnya, sehingga publik bisa menilai sendiri apa yang sedang terjadi. Bahkan strategi para direktur balap di setiap tim pun dibeberkan tanpa sensor, meski tentu saja tidak setiap hal dibagikan. Dan semua itu bisa didapatkan publik dengan mudah melalui salah satu tayangan paling disukai di Netflix, yakni Drive to Survive.
Berbagai footage baik di garasi tim atau pojokan sirkuit juga lebih mudah didapatkan. Publik jadi lebih memahami proses apa saja yang perlu ditempuh untuk menyelenggarakan sebuah ajang balap seperti ini. Berita-berita ala surat kabar dulu yang jadi seperti isu, mendadak bisa ditelusuri sebabnya dan bisa dinilai sendiri oleh publik yang menyaksikan tayangan ini.
Dalam Drive to Survive, setiap kisah dari tim, direktur, pembalap, hingga orang-orang di sekitar mereka dibagikan. Tayangan seri dokumenter yang tayang di Netflix itu berhasil membuka tabir balapan yang selama ini menjadi misteri. Menariknya, hal itu ternyata disukai para fans lama, dan juga membuka peluang hadirnya fans baru untuk bisa mengenal F1 lebih dalam.
Pada 2026, Drive to Survive telah memasuki musim ke-8, dengan rata-rata rating tinggi dari kritikus untuk setiap musimnya. Kemasan visual yang apik, komentar dari tokoh-tokoh penting, sampai respons tak terduga dari pebalap ketika merasakan tekanan balapan berhasil disajikan berkat akses tak terbatas dari tim produksi tayangan ini berhasil mengajak para penonton menyertakan emosi mereka di setiap episodenya. Meski dibuat dengan pendekatan dokumenter, namun sajian ala sinetron di Drive to Survive berhasil membuat penonton terus penasaran mengikuti. Padahal hasil di dalam balapannya sudah terjadi setahun sebelumnya dan sudah diketahui hasilnya.
Media Sosial Lebih Terbuka
Liberty Media menyadari bahwa para fans orang tua itu tidak akan terus-menerus mendukung dan menghabiskan uangnya di ajang balap F1. Karena usia manusia ada batasnya, dan semua hal harus diteruskan ke generasi yang lebih muda, termasuk bisnis balapan F1. Maka pendekatan yang lebih relevan pun harus dilakukan. Balapan ini harus meraih pangsa pasar muda untuk menjaga kelestarian bisnis di masa mendatang. Untuk itulah diperlukan pergerakan realistis dengan memasuki kolam muda itu, salah satunya di media sosial.
Instagram, TikTok, X, hingga kini Threads harus menjadi destinasi konten di dalam dan luar balapan F1. Liberty Media yang punya 100% saham perusahaan tidak lagi begitu ketat membatasi konten untuk dikonsumsi publik. Malahan kehidupan glamor dan elegan para pebalap didorong untuk lebih diekspos. Personal branding yang terbentuk diharapkan dapat menjadi jembatan untuk mendekatkan publik kepada ajang balap ini. Dari melihat keseharian mereka, publik jadi lebih mudah tertarik untuk turut menyaksikan ajang balapan, untuk kemudian dikonversi menjadi fans di masa depan.
Wajah-wajah tampan dari Charles Leclerc, Max Verstappen, sampai Pierre Gasly dapat menjadi magnet tersendiri bagi fans. Gaya flamboyan, mewah, namun tetap kekinian juga menjadikan mereka sebagai kiblat fashion bagi anak muda. Tidak heran apabila Liberty Media juga sering mengadakan ajang jumpa penggemar di kota atau negara balapan berlangsung. Seperti salah satu episode Drive to Survive yang memperlihatkan Alex Albon saat dielu-elukan fans di Singapura menjelang GP Singapore, karena adanya kedekatan rasa sesama orang Asia. Ibunda Alex, Kankamol Albon, memang orang asli Thailand. Dan meski ayahnya berdarah Inggris, namun secara fisik Alex Albon lebih mirip seperti orang Asia. Hal-hal semacam itu terbukti mampu membangun kedekatan emosional bagi fans. Dan yang lebih penting membuka pasar loyal yang menguntungkan Liberty Media.
Media sosial juga memudahkan fans muda dalam menikmati F1. Konten snack-able pendek-pendek berisi potongan percakapan antara direktur balap dengan pembalap di dalam mobilnya terbukti menarik dan mendapatkan banyak respons positif. Publik jadi bisa tahu kenapa Kimi Raikkonen misalnya, disebut sebagai ‘Iceman’. Karakternya yang dingin tanpa kenal kompromi dibarengi intonasi komentarnya yang datar, bukan cuma terasa ‘dingin’ tapi berhasil membentuk fans loyal kepada pembalap satu ini. Aura semacam itu hanya bisa diresapi jika akses radio tim F1 dipublikasikan ke media sosial.
Liberty Media juga turut membenahi regulasi dan cost cap (batasan pengeluaran) setiap tim di F1. Hasilnya sebuah perlombaan yang kompetitif tanpa satu tim atau pebalap yang paling dominan. Bahkan apa yang terjadi pada Max Verstappen dengan menjadi juara dunia berturut-turut dianggap karena bakat besar yang dimilikinya. Pada 2025 pun juara dunianya sudah berganti menjadi Lando Norris. Publik maupun fans pun tidak mudah jenuh karena balapan berlangsung menarik dengan harapan menyaksikan drama lainnya ketika musim berganti.
Rebranding Sukses
F1 melalui Liberty Media dianggap berhasil melakukan proses rebranding paling sukses dalam bisnis olahraga modern, khususnya di bidang otomotif. Dari yang sebelumnya mengandalkan sosok seperti Schumacher atau Lewis Hamilton saja. Beralih menjadi sebuah pertunjukan komplit yang setiap pembalapnya berhasil membangun branding bahkan positioning-nya sendiri. Kini setiap pembalap seperti punya fans sendiri-sendiri. Di setiap musim kita dapat melihat Max yang berbakat, Leclerc bersama Gasly dan Tsunoda—yang di musim 2026 tidak mendapat tim—dikenal sebagai sahabat namun harus bersaing di trek balap, atau Hamilton sang juara 7 kali, semua punya alur dramanya sendiri. Belum lagi hadirnya pembalap baru berbakat seperti Isack Hadjar dan Kimi Antonelli yang langsung meramaikan perburuan titel juara dunia bersama para seniornya.
Menjaga konsistensi fans seperti balapan F1 sulit dilakukan dalam olahraga lain, kecuali sepakbola. Lihat saja bagaimana balapan MotoGP masih berusaha menghadirkan sosok baru selepas pensiunnya Valentino Rossi. Balapan motor itu terlihat tertatih dan makin tenggelam popularitasnya. Begitu juga di ajang Rally selepas kepergian Carlos Sainz atau Colin McRae yang melegenda. Bisa juga intip NBA yang masih berusaha mendorong lahirnya Michael Jordan baru. Meski sempat ada Stephen Curry namun gaungnya tidak sama seperti dulu.
Dalam bisnis, rebranding yang dilakukan Liberty Media berangkat dari keterbukaan terhadap perubahan yang pasti. Begitu juga dengan kerelaan untuk mempelajari hal baru agar tetap dapat bertahan di tengah perubahan zaman yang kian cepat. Mengenal demografi fans baru beserta tempat mereka eksis harus terus dilakukan agar setiap strategi yang dilakukan bisa relevan. Bisnis balapan F1 dapat menjadi contoh keberhasilan hal tersebut.
Selanjutnya Liberty Media harus tetap beradaptasi dengan perubahan yang ada saat ini dan masa depan. Bagaimana bisa membawa balapan yang dibalut ‘drama’ itu bisa tetap eksis dan relevan.
