Berkarya untuk Semesta

Di luar sana banyak diantara anak-anak muda, atau mungkin kita juga termasuk di dalamnya, yang ramai bercerita terang quarter life crisis. Suara-suara tentang keresahan paruh baya itu dengan mudahnya tersebar, terdengar dimana-mana; baik itu pada obrolan ringan di jam makan siang, kajian, bahkan di seminar. Menariknya, meski sedang ada dalam keresahan yang sama, banyak juga di antara mereka yang diam-diam menahan diri dan mendidik hati agar keresahan yang dirasakan tidak sampai mencuat ke luar dan menambah keresahan massal.

Di antara sekian banyak anak muda, baik dari tataran nasional maupun internasional, salah satu yang dapat menjadi inspirasi adalah Ali Banat, seorang pemuda muslim yang berasal dari Australia. Meski sudah divonis kanker, ia masih melalukan kegiatan-kegiatan sosial di kancah internasional melalui proyek sosialnya yang bernama MATW atau Muslims Around the World hingga akhirnya ia meninggal dunia. Dalam sebuah video terakhir, ia menyampaikan sebuah pesan kepada para pemuda di seluruh dunia. Dengan napas yang tersengal, ia berpesan:

“So, during your life, brothers and sisters, just try to have a goal, try to have a plan, try to have a project that you work towards. Even if its not your personally doing it and you are funding someone else’s projects, just do something because Wallahi you are going to need it in the Day of Judgement”

Nasihat itu dapat membuat merinding sekaligus bersemangat, bahwa kehidupan anak muda, bagaimana pun naik turunnya quarter life crisis yang terjadi, tidak boleh sampai lalai hingga hanya terisi oleh hal-hal yang ada dalam kepentingan dirinya saja.

Belajar dari Ali Banat, kondisi fisik yang kian hari kian melemah ternyata tidak menyurutkan langkahnya untuk bisa mempersiapkan kehidupan akhirat dengan karya-karya sosial yang dibuatnya. Tak heran, banyak orang di berbagai negara berterima kasih kepadanya, karena ia telah menyelamatkan hidup mereka. Maasyaa Allaah! Bagaimana dengan kita? Apa yang sudah kita lakukan?

Sebagai sesama anak muda, perlu memahami bahwa kita semua tengah berada pada crisis berbeda yang dialami oleh masing-masing. Tangis itu ada, tapi biarlah ia mewarnai saja, tanpa harus membuat hari-hari kita tercuri semangatnya. Resah itu ada, tapi biarlah ia bergemuruh di dalam saja, lalu gemuruhnya menggerakkan kita untuk mencari cara agar kembali baik-baik saja. Khawatir itu ada, tapi biarlah kita menerimanya sebagai bentuk perasaan, yang entah bagaimana tidak boleh sampai menghentikan langkah menuju kebermanfaatan. Jika tidak demikian, apa yang sudah menyelamatkan kita jika ternyata kita diwafatkan Allah di usia muda?

Semoga kita bisa dimampukan-Nya untuk belajar meringankan beban-beban dengan menerbangkan semua kekhawatiran, berharap yang tersisa hanyalah perasaan bergantung kepada-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *