Self Healing dengan Menulis

Self healing adalah sebuah cara yang seseorang lakukan guna menyembuhkan diri dari hal yang menyebabkan kelelahan atau luka batin. Sebagian besar orang pernah mengalami kelelahan secara emosional yang diakibatkan oleh berbagai hal. Bisa jadi tuntutan pekerjaan, tekanan sosial, kepergian orang terkasih, kesalahan yang dilakukan, kegagalan yang didapatkan dan lain sebagainya.

Walaupun sebenarnya kita tahu bahwa masalah dan rasa sakit dalam hidup ini adalah sebuah siklus yang berulang, tidak pernah habis sampai napas terakhir. Namun, segala emosi yang menumpuk, berkumpul jadi satu, campur aduk, jika tidak diluapkan bisa menjadi bom waktu yang akan merugikan diri kita sendiri.

Tapi apa yang harus dilakukan? Agar luka yang ada pada diri ini harus segera disembuhkan.

Lalu bagaimana cara melupakannya? Seperti apa cara untuk menyembuhkannya?

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menulis. Menurut Karen Baikie, seorang clinical psychologist dari University of New South Wales, menuliskan peristiwa-peristiwa traumatik, penuh tekanan serta peristiwa yang penuh emosi bisa memperbaiki kesehatan fisik dan mental.

Sebagian orang mungkin sudah terbiasa dengan menulis (bisa menulis puisi, cerita, artikel, esai dan lainnya), tapi ada juga yang masih belum terbiasa. Tidak apa-apa. Kita coba saja pelan-pelan.

Baca juga: Overcoming Overthinking: Memahami dan Mengatasi Rasa Khawatir Yang Berlebihan

Menulis Apa dan Seperti Apa, sih?

  1. Menulis ekspresif

Menulis ekspresif adalah mengutarakan perasaan emosi yang dirasakan saat itu. Kita tidak perlu memperhatikan aturan seperti tanda baca, ejaan, dan sebagainya. Dengan menuliskan segala kekesalan, dapat membantu kita untuk melihat masalah dari sudut pandang yang lain. Selain itu, mengungkapkan perasaan yang meluap-luap tersebut bisa membuat hati kita kembali lebih lega.

  1. Menulis puisi, sajak, cerita

Menulis puisi biasanya dilakukan agar makna yang ingin diungkapkan lebih tersirat. Puisi tidak bermakna langsung namun bisa dibumbui dengan majas-majas yang bisa mengungkapkan perasaan kita, seperti kata-kata hiperbola (agar lebih dramatis), pengandaian, analogi, perumpamaan dan lain sebagainya. Menulis cerita seperti menulis kejadian secara kronologis secara jujur dan tidak dibuat-buat.

  1. Menulis kata motivasi, catatan mental, dan rasa syukur

Mengutarakan apa yang kita rasakan bisa dilakukan dengan bentuk yang lain seperti membuat kata-kata motivasi, catatan mental, rasa syukur, hikmah yang didapat dan lainnya. Dengan begitu kita lebih mudah menerima sesuatu yang terjadi dengan lebih tenang, lebih gampang mengambil pelajaran dari hal-hal yang kita rasakan serta memandang sesuatu dari berbagai sudut pandang. 

Merangkai kata-kata sebagai terapi dan penyembuhan diri ini bisa dilakukan secara rutin setiap hari. Selain ketika perasaan sedang berkecamuk. Hal ini dilakukan agar emosi kita tidak menumpuk, lebih banyak bersyukur dan pikiran serta batin kita tidak semrawut.

Gimana? Sudah mencoba? Atau mulai tertarik?

Selain sebagai self healing, menulis juga bisa menjadi wadah berbagi, Ketika membacanya kembali kita bisa belajar agar lebih memahami, dan mungkin dapat membantu orang lain yang membacanya.

Sampai waktu kita tidak ada lagi, tulisan kita tetap abadi. 

Tapi, apapun itu,  bagaimanapun caramu, lakukan dengan nyaman.

Muhammad Aidul Bakri
[Penulis buku “Untuk Apa Aku Hidup?” ini bertugas sebagai staff perpustakaan di SMA Future Gate.]
IG: @muhammaddhri
Tumblr: @muhammaddhri
Twitter: @muhammaddhri

1 thought on “Self Healing dengan Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *