Mengenal Latte Factor, Penyebab Keuangan Tidak Terkontrol

Salah satu istilah berbahasa asing yang sedang populer belakangan ini ialah latte factor, menyoal perkara finansial. Sederhananya, latte factor adalah kebiasaan untuk mengonsumsi hal kecil yang dirutinkan. Meski sering dianggap sepele namun perlahan dapat menggerogoti penghasilanmu tanpa terasa.

Saking sepelenya perkara latte factor ini, membuat kita tidak tahu hal apa yang termasuk di dalamnya. Ambil contoh kebiasaan membeli minuman dan makanan kudapan seperti kopi, roti, snack kala bekerja atau mengisi waktu senja. Taruhlah setiap item didapat seharga Rp20 ribu. Lalu kita membelinya hampir setiap hari, maka dalam sepekan mencapai angka Rp140 ribu. Diakumulasikan dalam sebulan sudah menyentuh Rp560 ribu. Setahun sudah RpRp6,7 juta. Sepuluh tahun sudah Rp67 juta, dan seterusnya. Angkanya akan terasa semakin besar dalam perspektif lebih luas, bukan?

Lattle Factor pun bukan hanya tentang kopi, makanan, dan minuman. Bisa juga sebungkus rokok, isi ulang vape, beli hobi hotwheels, koleksi kerudung, maupun perkara lain yang jadi kebiasaan namun sebenarnya tidak urgent. Bahkan tidak memberi efek pada kualitas diri kita. 

Tentu nominal dalam konsep latte factor ini sangat relatif nilainya tergantung tingkat kemampuan ekonomi seseorang, tapi lebih jauh dari itu adalah sifat boros yang merasuk dalam diri tanpa sadar. 

Lattle Factor sendiri dapat terjadi karena kebiasaan, tekanan lingkungan, sekadar ikut tren kekinian atau pergaulan, sampai yang paling parah sekadar rasa gengsi agar dianggap kaya. Misalnya, kerja di lingkungan yang pertemanannya kalau makan siang selalu ke restoran atau mol. Demi menjaga gengsi dan tekanan lingkungan, kita pun akhirnya ikut-ikutan. Eh, pas akhir bulan rekening selalu boncos. Atau dikit-dikit pesan kopi, besok pesan lagi, lagi, dan lagi. Dirutinkan terus setiap hari sehingga kita semakin konsumtif. Kurang lebih itulah gambaran tentang fenomena lattle factor yang menghinggapi kalangan muda belakangan ini.

Lalu, bagaimana sih solusinya?

Baca juga: Self Healing dengan Menulis

Lepas dari Jerat Latte Factor

Faktor pendorong latte factor di antaranya karena lingkungan dan kebiasaan untuk memuaskan ego pada hal-hal sepele. Maka kita perlu memerhatikan dua hal tersebut agar dapat lepas dari jerat latte factor

Pertama, hiduplah dengan pikiran merdeka dan tidak perlu ikut-ikutan teman kita yang mungkin lebih baik finansialnya. Pahami kondisi finansial kita sendiri. Cari barang yang substitusi yang dapat menghemat keuanganmu. Tahan kebiasaan membeli hal-hal yang enggak penting.

Kemampuan untuk bisa mengatur keuangan ini dampaknya enggak bakal terasa sekarang, tapi belasan atau puluhan tahun mendatang. Bisa jadi seiring bertambahnya usia nanti kebutuhan kita semakin bertambah, tapi saldo tabungan tak kunjung bertambah, bahkan tak punya tabungan. Sebab, masa muda hidup dengan boros dan tidak bisa mengendalikan penghasilan.

Kalau saat ini masih hidup sendiri, masih muda, dan sudah punya penghasilan, maka hal yang harus kamu perhatikan adalah soal investasi masa depan. Bisa lewat tabungan, membeli instrumen investasi, atau bahkan belajar untuk “investasi kepala”.

Ingat, bisa jadi kita akan mengalami fase pernikahan, punya anak, hingga tidak punya pekerjaan, dan pensiun. Sehingga menjadi masuk akal apabila akhirnya kita perlu untuk memiliki investasi pada hal-hal tertentu sesuai minat kita. Kenali dirimu dan pahami tujuan hidupmu.

Kedua, tahan ego diri kita. Terkadang latte factor terjadi sebab kita terlalu menuruti ego, terutama pada saat kondisi lelah dan stres menghadapi kerjaan di kantor maupun tumpukan tugas sekolah. Belanja memang mendorong keluarnya hormon endorfin, tapi dibarengi juga dengan keluarnya uang dalam saldo kita, kan? Maka cari solusi lain agar rasa senang pun tenang dapat hadir tanpa harus berbelanja. 

Apabila dihadapkan pada kondisi lelah dan stres, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah istirahat. Agar setelahnya tubuh kita jadi terasa lebih segar sehingga pikiran pun lebih fresh. Kemudian sebagai seorang muslim, jangan lupa untuk mengingat Allah dalam setiap keadaan sebab hanya dengan mengingat-Nya hati kita dapat menjadi tenang.

Ingatlah ego kita sebagai manusia akan selalu ada, dan tugas kita adalah mengontrol ego tersebut agar tidak merugikan diri sendiri. 

Nah, selagi masih muda, yuk atur strategi untuk menyiasati problematika hidup kita termasuk dalam mengatur kondisi keuangan kita agar menjadi lebih baik. Jauhi sifat boros. Belajar untuk menahan diri. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala selalu beri taufik dan keberkahan untuk kita semua.

Muhammad Aidul Bakri
(Lelaki kelahiran 2001, akrab disapa Mudri. Menyukai dunia menulis sejak bangku SMA. Salah satu harapannya agar setiap tulisan menemukan pembacanya. Dan, hanya kebaikan saja yang tertinggal setelahnya. Saat ini ia ditugaskan sebagai staff perpustakaan SMA Future Gate Bekasi.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *