Perkara Hanger di Toilet Umum

Salah satu aksesoris furnitur dalam kamar mandi atau toilet yang sering saya cari ialah hanger atau gantungan pakaian. Baik di rumah pribadi maupun fasilitas umum, hanger dinding di kamar mandi harus terpasang dan berfungsi dengan baik. Bukan bagaimana, saya pernah kerepotan gara-gara tidak ada hanger di toilet. Itu membuat saya memutar otak, mencari-cari ide bagaimana cara menggantungkan celana selama saya buang hajat. Akhirnya celana itu saya kalungkan di sekitar leher sampai aktivitas sakral itu selesai.

Urusan jadi lebih rumit kalau saya sedang membawa tas ransel berukuran besar. Tentu tidak mungkin tas itu terus saya kalungkan sementara posisi tubuh sedang kurang proporsional ketika jongkok atau duduk di atas kloset. Mungkin sedikit terbantu kalau desain toilet atau ruang kamar mandinya memungkinkan kita untuk menaruh barang-barang itu meski tidak ditempatkan hanger di sana.

Aktivitas mandi atau buang hajat akhirnya bukan sekadar aktivitas fisiologis lagi. Ini sudah mengarah kepada keresahan psikologis. Yang tadinya ingin fokus menyelesaikan buang hajat dan memikirkan aktivitas bakda buang hajat, malah jadi berpotensi menggerutu, memikirkan ketidakpedulian sang penanggungjawab tempat itu.

Inovasi Hanger untuk Kehidupan

Hanger merupakan sebuah karya inovatif manusia. Alat kecil yang dianggap bagian dari furnitur rumah ini tercatat penemuannya baru pada tahun 1800-an. Meski jauh beberapa abad sebelumnya konsep alat atau desain benda untuk menggantungkan pakaian sudah mulai dikenal di era Kerajaan Mesir Kuno.

Thomas Jefferson, Presiden ke-3 Amerika Serikat, disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali menemukan hanger pakaian. Namun penyebutan itu masih diperdebatkan di kalangan para sejarawan. Ada nama lain yang disebut, yakni O.A. North yang kemudian mematenkan coat hanger temuannya di tahun 1869 di New Britain, Connecticut.

Inovasi hanger juga disebut dalam catatan seorang pebisnis pakaian Mose. M. Beak pada tahun 1890. Menurutnya pakaian atau jas yang dilipat sudah ketinggalan zaman. Perlu cara baru dalam menampilkan barang tersebut sebagai sebuah komoditas dagang.

“Why not have many of the garments on hangers, like those used in the fashionable cloak stores of today? The old custom of keeping them folded up in boxes and bags was well enough fifteen years ago, when the old black circular had the field all to itself, but to-day (sic) it won’t do.” (Beak, 1890, June, p. 199)*

Beak menganggap menaruh pakaian di hanger sebagai cara bisnis retail berkualitas pada 1890-an. Cara itu juga memudahkan konsumen untuk melihat barang yang hendak mereka beli. Sampai kemudian persoalan tersebut diangkat oleh majalah mingguan pria The Haberdasher, yang mendefinisikan cara meletakan pakaian di hanger sebagai “proper forms”.

Penggunaan hanger yang sebelumnya di ranah bisnis pakaian, kemudian mulai jamak diadopsi di rumah, ataupun tempat lain yang biasa dikunjungi orang seperti restoran dan kafe. Tentu saja di awal adopsi hanya rumah kelas atas saja yang punya, sampai perlahan dengan meningkatkannya ekonomi kelas menengah, pemanfaatan hanger pun semakin masif dilakukan. Mereka yang menggunakan hanger umumnya para pegawai yang mengenakan jas atau mantel sebagai pakaian kerja sehari-hari.

Model hanger juga mengalami berbagai perubahan. Setiap perubahan yang terjadi hadir beserta penetapan paten oleh penemunya. Mulai dari penggunaan kawat besi, kayu, sampai ke era modern hanger yang memanfaatkan plastik daur ulang sebagai material utamanya.

Persoalan asal mula, penemuan, hingga inovasi hanger tentu saja masih bisa diperdebatkan. Hanya sejauh saya temui di ranah digital, catatan mengenai segala inovasi tersebut masih berkutat di Amerika Serikat. Baru kemudian tersebar ke seluruh dunia. Namun bila mengasumsikan bahwa jauh sebelum pencatatan itu hadir, sangat terbuka bahwa konsep fundamental dari hanger sebenarnya sudah eksis.

Minimal Ada Satu Hanger

Di zaman modern ketika industri pakaian sudah sedemikian besar dan menjadi salah satu kebutuhan primer bagi kita, kehadiran hanger sebagai pelengkap siklus penggunaan pakaian menjadi sebuah keharusan. Hanger digunakan ketika menaruh pakaian yang baru dipakai, belum cukup kotor, dan masih ingin dipakai kembali. Hanger juga dicari-cari ketika pakaian selesai dicuci lalu dijemur. Begitu juga bila ingin menjual pakaian, maka hanger akan hadir sesuai fitrah awalnya, sebagai alat bantu presentasi kepada calon pembeli.

Keberadaan hanger juga semestinya diperhatikan oleh para pemilik area yang terbuka untuk publik. Para pengusaha kafe bisa meletakkan hanger di dekat pintu untuk para pelanggan yang datang. Mereka bisa menaruh jaket atau jas di sana tanpa perlu repot meletakkannya di kursi. Pemilik restoran yang menyediakan toilet, misalnya. Dirinya haruslah paham bahwa toilet tersebut perlu dipasangi hanger dinding. Sehingga ketika ada pengunjung ingin menggunakannya tidak perlu repot menaruh pakaian atau barang berharga yang perlu dibawa serta.

Para penanggungjawab sektor publik pun perlu memikirkan detail kecil seperti hanger ketika membuat fasilitas bagi publik. Seperti meletakkan hanger di tempat wudu area masjid. Hanger untuk toilet umum. Hanger untuk ditaruh di perpustakaan umum. Dan banyak tempat lainnya yang kiranya memerlukan hal semacam itu. Tentu diperlukan riset terlebih dulu tentang karakteristik pengunjung yang mungkin hadir di sana.

Orang yang punya wewenang untuk mengatur sarana dan prasarana publik setidaknya perlu memiliki perspektif sosial dan sedikit empati tentang bagaimana orang-orang akan beraktivitas di sebuah tempat. Dengan demikian, kenyamanan yang menjadi salah satu tujuan dari eksistensi sebuah tempat pun bisa tercapai.

Dan ya, hanger di kamar mandi atau toilet umum menjadi lebih krusial dibandingkan hanger di tempat publik lainnya. Hanger di tempat tersebut bukan saja penting untuk memudahkan pengguna ketika melakukan kegiatan personalnya. Tapi juga sangat membantu untuk menjaga kesucian pakaian di tempat yang dipenuhi potensi najis dari cipratan air kencing sampai kotoran lain di sana. Minimal ada satu hanger dinding, tak perlu mewah, asalkan berguna.

Bahagia dengan Kehadiran Hanger

Keberadaan hanger mungkin dirasa sepele bagi sebagian orang. Padahal furnitur kecil sederhana itu bisa punya dampak fisiologis dan psikologis besar. Salah satunya untuk membantu mengurangi “kekacauan” dari pakaian yang diletakkan sembarangan. Juga menjaga kebersihan tempat apabila ada hanger di sana.

Kita tentu sudah paham bahwa salah satu pangkal penyebab hadirnya stres ialah kondisi lingkungan yang kacau. Bayangkan rumah yang penuh dengan pakaian berserakan di meja, kursi, ataupun rak buku karena tidak ada benda pengait untuk menaruhnya secara rapi. Atau bagaimana kafe yang pengunjungnya menaruh jas dan mantel sembarangan di meja pengunjung lain.

Kekacauan semacam itu bisa mengganggu visual yang berpotensi memberi dampak pada pikiran. Dari sebelumnya tidak ada lintasan tentang masalah-masalah di luar aktivitas kita di suatu tempat, malah jadi memikirkannya. Dari sebelumnya ingin istirahat di ruang keluarga, jadi terlintas soal thrifting ilegal atau dampak virus dan bakteri, ketika melihat pakaian anggota keluarga lainnya tergeletak di depan mata.

Mengurangi potensi stres semacam itu juga dapat menjadi sebab kecil datangnya ketenangan dan kebahagiaan. Hanger pakaian, entah itu model gantung atau menempel di dinding, punya peran dalam menghadirkan hal itu. Pun seandainya kita begitu miskinnya untuk membeli hanger, bahkan paku beton agak panjang pun, bisa dijadikan hanger darurat. Caranya dengan memakunya pada sebagian ujung saja, sisa bagian lain bisa digunakan untuk menggantungkan pakaian atau tas di sana.

 

Referensi:

[1] Farrell-Beck, J.; Rhodes-Murphy, A.; Richardson, M. I. . (2000). Clothes Hangers: From Business Tool to Consumer Convenience, 1852-1936. Clothing and Textiles Research Journal, 18(1), 9–18.

[2] https://tough-hook.com/history-of-the-clothes-hanger/

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *