Hedonic Treadmill, Penyakit Finansial yang Menggerogoti Aset

Treadmill adalah alat fitness yang berguna agar seseorang bisa berjalan, berlari ditempat tanpa berpindah sedikitpun dari posisi semula. Mau lambat (berjalan) atau cepat (berlari) gerakannya, ia tetaplah di atas alat olahraga tersebut. Hedonic Treadmill adalah analogi yang digunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan seseorang yang berjalan ditempat. Ketika pemasukan sedikit, ia mengeluh serba kekurangan, dan ketika pemasukannya sudah meningkat beberapa kali lipat ternyata habis juga tak bersisa.

Apakah anda pernah/ sedang mengalaminya? Cobalah flashback diri Anda 10 tahun yang lalu, berapa gaji/pemasukan Anda dalam satu bulan? Lalu bandingkan dengan saat ini. Jika tidak ada kejadian khusus seharusnya akan ada peningkatan dari sisi nominal. Termasuk jika Anda adalah pengusaha / wiraswasta tentu juga sudah sewajarnya ada peningkatan. Pemasukan dihitung dengan mengakumulasi gaji take home pay, honor lain-lain dan tunjangan (jika ada) dalam waktu satu bulan. Jika peningkatan hanya sebesar 3-4 % / tahun maka itu realitasnya nilainya tetap karena di range itulah inflasi rata-rata Indonesia secara tahunan. Berdasarkan survei dari Mercer rata-rata kenaikan gaji orang Indonesia adalah sebesar 5,3 – 6,9 %/tahun tergantung sektor industri dan laju inflasi.

Jika arus kas bulanan (pemasukan/gaji) Anda kurang dari Upah Minimum Regional (UMR) maka bisa dikatakan wajar apabila pemasukan sama dengan pengeluaran bahkan seringkali kurang, solusinya tingkatkan jumlah pemasukan. Namun jika arus kas bulanan (pemasukan/gaji) Anda sama dengan atau bahkan lebih dari UMR mungkin agak aneh jika anda masih kekurangan dan punya utang sana-sini, karena UMR memang di desain untuk menyesuaikan antara pengeluaran dan pemasukan yang wajar untuk hidup layak disuatu daerah. Realitanya mungkin tidak sesederhana itu, terutama jika Anda masuk dalam kategori generasi sandwich yang harus menanggung orang tua dan anak/istri sekaligus, atau keluarga dengan anak yang cukup banyak, namun disini kita ambil rata-rata normalnya kondisi finansial orang secara umum.

Fokus yang akan dibahas disini adalah saat kondisi normal dimana pemasukan bulanan sudah setara atau bahkan sedikit diatas UMR. Jika dengan pemasukan tersebut Anda masih merasa kekurangan dan bahkan punya hutang maka kemungkinan besar ada yang salah dengan cara Anda mengelola keuangan. Salah satu penyebab paling umum adalah tingkat konsumsi yang berlebihan dan tidak terukur. Tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Akhirnya setiap ada uang lebih akan habis dibelanjakan untuk belanja konsumtif.

Ketika membeli HP baru manakah yang paling Anda utamakan, HP model seri terbaru atau fitur dan fungsi yang sesuai dengan kebutuhan? Jika Anda adalah seorang content creator atau vlogger yang membutuhkan fitur image stabilization saat membuat konten video, tentu Anda akan membutuhkan HP dengan kamera canggih yang biasanya ada pada HP Flagship seri tertentu, selain itu harganya akan relatif lebih mahal. Namun jika kebutuhan anda hanya chating, browsing dan nonton video youtube maka seharusnya HP low end – middle end yang lebih murah jadi pilihan. Nah sekarang lihatlah HP anda saat ini dan ingatlah-ingatlah HP itu lebih sering digunakan untuk apa? Berapa harganya?

Bila Anda membeli alat transportasi atau kendaraan pribadi, manakah yang lebih anda utamakan? Fungsionalitasnya atau model seri terbarunya? Sekali lagi ini mengindikasikan kecerdasan finansial anda. Jika mobil LCGC sudah cukup untuk transportasi rumah – kantor kenapa harus sedan seri terbaru? Jika motor bebek klasik sudah aman dan nyaman mengantarkan anda ke tempat kerja, kenapa harus Ninja 250R? Kecuali ada kebutuhan khusus seperti tempat kerja ada di medan yang sulit dijangkau kendaraan konvensional maka Mobil Fortuner 4 WD atau motor jenis trail akan menjadi pilihan yang bijak. Pilihan kendaraan orang kadangkala dipengaruhi oleh gaya hidup yang belum saatnya, jika pemasukan Anda bisa dialokasikan ke yang lebih bermanfaat dan produktif maka pertimbangkanlah menuruti gaya berkendara anda dengan memilih dan mengutamakan yang lebih sesuai dengan kebutuhan Anda.

Baca juga: Belajar Literasi Finansial untuk Pelajar

Dari dua contoh sederhana di atas maka dapat ditarik kesimpulan secara umum bahwa ketidakmampuan seseorang membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan maka akan menyebabkan meningkatnya gaya hidup orang tersebut.

Jika peningkatan gaya hidup itu tidak sesuai dengan peningkatan pemasukan maka akan menyebabkan fenomena Hedonic Treadmill dimana semakin besar pemasukan akan menyebabkan semakin besar pula pengeluaran. Berapapun besarnya gaji yang ia terima setiap bulan akan selalu habis dibulan yang sama atau beberapa bulan setelah itu, tanpa memiliki tabungan yang memadai. Dan fase inilah orang banyak terjebak berputar-putar dalam siklus kerja – gaji – habis – kerja lagi  sampai pensiun atau dalam istilah lain disebut rat race. Dan akhirnya iapun akan menjadikan anaknya masuk dalam kategori generasi sandwich selanjutnya.

Jika akhirnya ia bisa menyisihkan sebagian untuk tabungan secara rutin maka ia telah lolos dari rat race dan masuk fase ke 2 dari 4 fase finansial seseorang. Selanjutnya tinggal belajar untuk masuk fase ke 3 yaitu Investasi. Kapan-kapan akan kita bahas di episode selanjutnya, insyaAllah.

Saibani Kurniajati
[Staf Tata Usaha di SMA Future Gate.]

1 thought on “Hedonic Treadmill, Penyakit Finansial yang Menggerogoti Aset

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *