Tujuan Gak Jelas, Semangat Belajar Kandas!

Makna belajar jika kita cari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar membutuhkan usaha dan melewati proses. Belajar sendiri merupakan kewajiban setiap manusia. Terlebih untuk seorang muslim, dimana belajar sangat diperintahkan oleh Nabinya. Tidak hanya pembelajaran akademik namun juga pembelajaran kehidupan. Seseorang yang tidak belajar tentu tidak akan mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. 

Seorang siswa tentu memiliki kewajiban serupa dalam belajar. Belajar untuk menambah ilmu yang sedang dipelajari. Belajar untuk melewati ujian yang diadakan. Namun terkadang, dalam prosesnya beberapa siswa masih tidak sadar akan pentingnya belajar itu sendiri. Padahal sangat banyak metode belajar yang dapat digunakan. Banyak model yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka. 

Lantas apa yang masih kurang jika siswa ingin meningkatkan semangat mereka? Ya, tentu mereka perlu untuk menentukan tujuan terlebih dahulu. Alasan mengapa mereka harus belajar. Alasan mengapa mereka harus melewati proses untuk mendapatkan hasil. Kalau kita lihat kembali, dalam agama islam pun beberapa kali Alloh memerintahkan amalan dengan ganjaran besar. Tentu hal tersebut agar hamba-Nya semangat untuk melewati proses amalan tersebut. Dapat kita ambil contoh seorang yang puasa akan diberi jalur khusus menuju surga melalui pintu Ar Royyan.

Kembali ke hubungan belajar dan tujuan, seharusnya sejak mereka diterima sebagai siswa maka perlu dikenalkan dengan pemilihan tujuan. Karena banyak materi dasar pada awal pembelajaran mereka. Jika mereka terlambat menemukan tujuan belajar mereka, maka dampaknya adalah penguasan materi dasar yang tidak dicapai.  Sehingga akan terjadi kemalasan dalam belajar. Oleh karena itu pengajar atau wali kelas dapat terus mengajak siswa untuk menemukan tujuan mereka belajar. Tujuan tidak hanya untuk jangka panjang, namun juga disetiap proses yang sedang dilalui. Karena siswa akan lebih ingat dengan tujuan jangka pendek. Dari tujuan-tujuan jangka pendek ini, maka bisa dilanjutkan untuk tujuan jangka panjang.

Baca juga: Overcoming Overthinking: Memahami dan Mengatasi Rasa Khawatir Yang Berlebihan

Membangun Konsep dan Tujuan Belajar

Konsep tujuan sudah lama dikenalkan oleh Locke dalam A Theory of goal setting and task performance (Dewiyanti, 2021). Ditulis bahwa tujuan dapat mempertahankan kemampuan konstran. Dimana seorang yang sudah menentukan tujuan memiliki motivasi dan terus mengingat komitmen tujuan dia. Sehingga kinerja belajar dia akan semangat dan maksimal. Pemilhan yang lebih spesifik dan sulit ternyata juga mempengaruhi kinerja. Semakin ia spesifik menentukan tujuan, maka proses yang ia lalui juga semakin maksimal. 

Penetapan tujuan di awal dapat mempengaruhi hasil melalui empat cara:

  • Seorang yang sudah menentukan tujuan akan lebih memiliih aktivitas yang relevan dengan tujuannya. Seorang siswa yang memiliki tujuan untuk lulus ujian fisika tentu akan semangat dan fokus belajar materi fisika. Ia akan mengurangi kegiatan yang dapat menggagalkan tujuannya
  • Seorang yang sudah menentukan tujuan akan terus mengembangkan dan mengubah perilakunya. Ia akan sadar bahwa perilaku yang kurang akan mengurangi keberhasilan tujuan di awal. Oleh karena itu ia akan semangat menambah skill yang dibutuhkan
  • Seorang yang sudah menentukan tujuan tentunya akan gigih dalam membidik sasarannya. Walau kemalasan dan godaan terus datang. Ia akan selalu gigih dengan proses belajarnya.
  • Seorang yang sudah menentukan tujuan akan menyadari bahwa ia membutuhkan usaha lebih dibanding yang lain. Misal seorang siswa yang ingin lolos selesksi PTN. Tentu ia akan belajar dan berusaha lebih dibanding biasanya. Ia tidak mau dengan kurangnya usaha akan menggagalkan tujuannya.

Ada sebuah framework dalam mementukan tujuan yang dapat diaplikasikan. Framework tersebut adalah SMARTER yang merupakan akronim dari Specific – Measurable – Achievable – Relevant – Time Bound – Evaluated – Reviewed. Goals atau Tujuan yang akan ditentukan sebisa mungkin sesuai dengan framework tersebut. 

  • Spesific: goals yang akan dipilih harus jelas dan tidak general, misalkan siswa yang ingin masuk PTN, maka tentukan sampai sedetail mungkin. Jangan hanya berhenti di kata PTN
  • Measurable: goals yang dipilih harus terukur dan jelas ukuran keberhasilannya
  • Achievable: goals yang dipilih harus dapat dicapai secara realistis. 
  • Relevant: goals yang dipilih sejalan dengan apa yang sedang kita kerjakan. Seperti siswa yang sedang belajar IPA, maka sebisa mungkin tujuan PTN yang dipilih harus serumpun dengan mata pelajaran IPA. Walaupun ada istilah lintas jurusan, peluang kelulusan tentu lebih kecil
  • Time bound: goals yang dipilih harus memiliki target waktu serta dapat terukur ketercapaian prosesnya dari segi waktu yang dilewati
  • Evaluated: goals yang dipilih harus dievaluasi setiap prosesnya
  • Reviewed: goals yang dipilih harus selalu ditinjau dan diperhatikan

Akhirnya bahwa goals/tujuan mempengaruhi proses yang sedang dijalani. Siswa yang sedari awal mengetahui target tujuan dia belajar, maka akan lebih antusias dalam belajar. Belajar disini pun tidak hanya masalah akademik namun lebih penting adalah belajar tentang kehidupan nyata. Mari kita bersama meluruskan niat dalam belajar!

Referensi

Dewiyanti, S. (2021, November 2). Goal Setting Theory. Retrieved from binus university: https://accounting.binus.ac.id/2021/11/02/goal-setting-theory/

M. Zubair Abdurrahman
[Pendidik di SMA Future Gate Bekasi, Sedang menyelesaikan program Pascasarjana di PLN University]

Leave a Reply

Your email address will not be published.