Menangani Anak yang Menolak Sekolah (School Refusal)

Anak Cerdas tapi Gak Mau Sekolah? Yuk Belajar Bagaimana Menanganinya

Anak-anak dan remaja di usia sekolah memiliki keseharian yang harus mereka jalani selayaknya orang-orang dewasa yang memiliki aktivitas rutin seperti bekerja dan mengurus keluarga. Namun tak sedikit anak-anak yang terganggu, terbebani serta merasa tak sanggup menjalani kehidupan di sekolah. Sulitnya beradaptasi, masalah dengan teman sebaya, masalah akademik sampai masalah keluarga di rumah bisa menjadi penyebab anak-anak dan remaja merasa berat menjalani kehidupan sekolah sampai-sampai memutuskan untuk cabut sekolah.

Istilah cabut sekolah diambil dari istilah yang biasa umum digunakan siswa dan juga guru untuk menyebut permasalahan anak yang tidak mau sekolah. Ada dua tipe kasus anak yang memutuskan untuk cabut sekolah yaitu truancy dan school refusal

Truancy lebih kepada penghindaran sekolah yang berhubungan dengan kenakalan anak dan ketidaktertarikan terhadap kegiatan sekolah. Anak yang disebut truant biasanya tidak masuk sekolah lebih karena alasan‐alasan seperti malas, tidak mau mengikuti aturan‐aturan di sekolah, atau lebih menyukai aktivitas lain seperti main games atau seperti yang terjadi pada anak‐anak jalanan di Indonesia, mereka lebih suka untuk berkeliaran di jalanan. Mereka tidak mempunyai rasa bersalah yang berarti dengan meninggalkan sekolah.  

Sedangkan kasus yang akan penulis bahas saat ini adalah school refusal atau school phobia, dimana anak menghindari sekolah karena adanya tekanan emosi, perasaan takut serta cemas menghadapi sekolah. Mereka biasanya merasa bersalah dengan meninggalkan sekolah dan rasa bersalah ini membuat mereka semakin tertekan. Dalam penelitian oleh Gelfand & Drew (2003) ditemukan bahwa semakin sulit untuk membedakan kedua bentuk tersebut karena banyak bukti bahwa anak ternyata bisa saja mengalami gangguan kecemasan (yang berasosiasi dengan school phobia) dan gangguan perilaku agresif (yang berasosiasi dengan truancy) secara bersamaan.  

Tipe anak yang mengalami school refusal ini biasanya cenderung bukan karena “kenakalan” mereka, bahkan anak dengan kasus ini biasanya terbilang kritis dan cerdas. Inilah yang menyebabkan dilema para guru yang membersamai anak dengan kasus ini

School refusal bisa dikatakan terbagi menjadi dua sub-tipe: 

  1. Tipe I (tipe akut), tipe ini puncaknya terjadi pada anak sekitar umur 5‐8 tahun. School refusal akut terjadi dalam kurun waktu antara 2 minggu sampai satu tahun. Tipe ini biasanya masih terbilang mudah untuk ditangani.
  2. Tipe II (kronis), yang terjadi selama 2 tahun ajaran atau lebih. Tipe ini puncaknya terjadi pada anak tingkat SMP atau SMA dan memerlukan penanganan yang lebih serius.

Tanda anak mengalami school refusal

Adanya reaksi emosi yang dialami anak‐ anak dengan school refusal ini, biasanya ditandai dengan rasa takut yang kurang beralasan bahkan cenderung tidak masuk akal ketika akan pergi ke sekolah. Mereka bisa sangat merasa ketakutan dan mereka tidak mau meninggalkan rumah. Anak‐anak yang mengalami school refusal, ketika waktunya berangkat sekolah biasanya akan mengeluh sakit kepala, sakit perut, sakit tenggorokan maupun yang lain ketika bangun tidur. Namun ketika mereka sudah pulang ke rumah tiba‐tiba sakit itu menghilang dan akan timbul lagi keesokan harinya ketika dia harus berangkat sekolah lagi.  

Saat‐saat sehabis liburan, sehabis sakit, atau ketika anak pindah ke sekolah baru biasanya menjadi pemicu untuk munculnya kembali simtom‐simtom (gejala) school refusal di atas. Apabila anak dibiarkan untuk absen dari sekolah, ia justru akan semakin sulit untuk kembali beraktivitas sekolah secara.

Penyebab School Refusal

Penyebab terjadinya school refusal bervariasi, namun secara umum Setzer & Salzhauer (2006) menyebutkan empat alasan anak tidak sekolah yaitu: 

  1. untuk menghindari objek‐objek atau situasi yang berhubungan dengan sekolah yang mendatangkan distress
  2. menghindar dari situasi yang mendatangkan rasa tidak nyaman baik dalam interaksi dengan sebaya atau dalam kegiatan akademik; 
  3. mencari perhatian dari significant others di luar sekolah; dan 
  4. mengejar kesenangan di luar sekolah.  

Munculnya school refusal biasanya juga dikaitkan dengan faktor keluarga. Terjadinya school refusal pada anak juga disebabkan hal-hal yang berhubungan dengan berbagai pola interaksi keluarga yang kurang sehat, misalnya adanya ketergantungan yang berlebihan antar anggota keluarga, masalah komunikasi serta masalah pembagian peran dalam keluarga.

Anak‐anak yang mengalami school refusal biasanya menunjukkan tipe kepribadian yang khas, yaitu cenderung mempunyai kepribadian yang sensitif, peka terhadap kritik dan evaluasi, kurang bisa mengelola emosi, serta sifat perfeksionis yakni memiliki perhatian berlebihan terkait perkara akademik.  

Penanganan pada Kasus School Refusal

Treatment atau penanganan awal pada anak‐anak yang mengalami school refusal mestinya mereka segera kembali ke sekolah secepat mungkin. Treatment ini  sebaiknya segera dilakukan untuk mencegah permasalahan‐permasalahan yang akan timbul di kemudian hari, sehingga school phobia harus ditangani sedini mungkin. Hal ini, sangat membutuhkan dukungan dan usaha dari orang tua untuk tetap membujuk serta memaksa anaknya berangkat ke sekolah. 

Adapula treatment yang lain, yaitu meliputi edukasi dan konsultasi, pendekatan perilaku, interfensi yang melibatkan keluarga, dan mungkin juga dengan cara farmakoterapi (penanganan penyakit melalui penggunaan obat-obatan). Treatment tersebut dapat dilakukan dengan:

  1. Terapi pendekatan educational‐support. Terapi yang melibatkan sesi konseling secara individual melaksanakan latihan relaksasi (untuk membantu anak ketika dia mendekati lingkungan sekolah atau ditanyai teman sebayanya),
  2. Terapi kognitif (untuk mengurangi kecemasan yang memunculkan berbagai pemikiran dan menyiapkan pernyataan coping), 
  3. Training social skills (untuk mengembangkan kompetensi sosial dan interaksi dengan teman sebaya).

Intervensi yang melibatkan orang tua dan guru merupakan faktor yang membantu untuk mencapai tritmen yang efektif. Anggota keluarga (terutama orang tua) berperan besar dalam penanganan anak yang mengalami school refusal karena, merekalah garda terdepan yang dapat membentuk anak-anak mereka dan tempat mereka meluapkan keluh kesah selama di sekolah.

Guru juga memiliki peran penting yang dilibatkan dalam menangani permasalahan anak yang mengalami school refusal, karena terkadang mereka memiliki masalah di rumah ataupun dengan teman sebayanya yang tidak dapat diutarakan kepada orang lain. Diharapkan guru dapat menjadi tempat curhat sehingga dapat sedikit melegakan hati anak. Serta, peran guru Bimbingan Konseling juga dapat melakukan terapi-terapi diatas kepada si anak.

Pada intinya, kerjasama orang tua/wali siswa dan juga guru di sekolah sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan ini. Jangan sampai, anak yang cerdas, kritis serta peka terhadap keadaan tak dapat tertangani dan hidup dengan egonya sendiri. Serta, tak lupa meminta pertolongan Allah Yang Maha Kuasa, karena hanya dengan rahmatnyalah hidayah akan tersampaikan kepada anak-anak dan murid kita.

M. Maulana Ridwan
[Pengajar Bahasa Indonesia di SMA Future Gate]

2 thoughts on “Menangani Anak yang Menolak Sekolah (School Refusal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *