Generasi Strawberry, Manis Tapi Ironis!

Sebagai sosok yang telah dewasa dan berkeluarga, kita senantiasa dihadapkan pada berbagai peran. Ada peran sebagai seorang pekerja, kadang memiliki peran publik selaku tokoh masyarakat dengan jabatan sosial semisal RT atau RW, dan tentu fungsi sebagai orang tua bagi anak-anaknya, sebuah peran yang tak bisa dilepaskan.

Kesemuanya jelas memiliki prioritas tersendiri. Di antara pembagiannya ada yang mendesak untuk disegerakan, ada yang sekadar membutuhkan perencanaan matang, selain itu hanya cukup mengoreksi pekerjaan dengan pemantauan, atau melaksanakan sepenuhnya oleh diri sendiri dari awal hingga akhir.

Rutinitas tadi, tak ayal membuat kita kerap lupa tentang tugas sebagai orang tua. Terlebih para orang tua yang datang dari Generasi Y, atau disebut sebagai milenial, ternyata tak cukup berada sebagai generasi itu, masih ada tambahan lagi yakni sebagai generasi dengan tanggung jawab satu generasi sebelum dan sesudahnya, yakni generasi sandwich. Generasi milenial yang hari ini melahirkan Generasi Z, dan sering mendapat perhatian oleh generasi di atasnya karena lemahnya mental, terbatasnya daya juang, jauhnya motivasi, terlalu sering istirahat dan rebahan (sedentary lifestyle), ditambah lagi dengan sematan lain seperti boros, tak pandai memanfaatkan waktu, sampai pada masa depan yang dipertanyakan.

Namun, hal lain yang perlu diperhatikan, ialah kita lupa, bahwa di bawah Generasi Z, kita akan berjumpa dengan generasi strawberry. Claretta (2018) dalam jurnalnya berjudul Communication Pattern Family and Adolescent Mental Health for Strawberry Generation, mengetengahkan sebuah penelitian yang mendefinisikan tentang generasi strawberi sebagai anak-anak yang lahir dari keluarga kelas menengah, memiliki orang tua yang berada sehingga mampu memanjakannya, luasnya akses informasi, dan ayah serta ibu mereka adalah orang tua dengan kepedulian tinggi terhadap pemilihan pendidikannya, tak lupa pula orientasi cita-cita di masa akan datang telah dipetakan oleh para orang tuanya, perhatian atas kondisi fisiknya, hingga pertumbuhan psikologis anak-anak generasi strawberry ini dipantau secara ketat melalui asuransi atau jaminan-jaminan kesehatan masa datang. Jelasnya, generasi strawberry memiliki banyak kemudahan dan difasilitasi segala model kenyamanan oleh orang tua mereka.* 

Pendidikan di Hadapan Generasi Strawberry

Namun, ada hal yang kadang tak ditanggulangi dari segala kemudahan tersebut. Hal paling mendasar adalah terbatasnya interaksi sosial di kehidupan nyata. Dampak dari sini memunculkan rendahnya perhatian atas nilai adab pada lingkungan, kehilangan hakikat pergaulan sebagai warga masyarakat, sampai pada tingginya ekspektasi dan seketika surut saat tak dapat mencapainya dengan mudah. Para orang tua juga terjebak pada jenis pendidikan yang menjadikan mudah menyerah pada keinginan anak. Dari pola pikir awal agar anak-anak mereka, anak-anak dari orang tua generasi milenial dan generasi Z ini kelak, tidak mendapati keadaan seperti yang dihadapi oleh orang tua saat kesulitan tadi.

Tapi perlu dicatat, dari sisi akses atas ilmu pengetahuan, generasi strawberry merupakan generasi yang mampu belajar dengan caranya sendiri, mereka menjumpai jawaban-jawaban dari segala pertanyaan yang dimiliki dalam kepalanya dengan segera. Berbeda dengan orang tuanya, yang merujuk pada banyak literatur, mendatangi perpustakaan, memburu surat kabar agar tak terlewat informasi, dan bertanya pada orang yang tepat atas persoalannya. Generasi strawberry tidak. Mereka punya gawai, mereka hanya butuh akses internet, seketika pertanyaan model apapun dijawab oleh mereka secara tepat dan pastinya cepat. Kita tak perlu terheran-heran atas ini. Kenyataannya memang zaman sudah berubah. Kita sebagai orang tua, hanya perlu sadar dan hadir. Mengarahkan anak-anak generasi strawberry agar tak terjebak dalam kekalahan atas diri mereka sendiri. 

Zaman boleh semakin menghadirkan anak-anak yang lemah, tapi jangan para orang tua tidak percaya pada anaknya untuk memberikan ketegasan demi kehidupan mereka kedepannya kelak. Hal inilah yang sering disuarakan oleh Adriano Rusfi dalam bukunya, Menjadi Lelaki Luqmanul Hakim, “Kehidupan zaman sekarang semakin keras. Di mana pun saya berdiskusi, selalu saja orang-orang mengutarakan hal ini. Namun anehnya, pendidikan zaman sekarang malah semakin lembek. Logikanya, jika zaman menjadi semakin keras? Tentu keras ini berbeda dengan kasar. Pendidikan yang keras akan melahirkan manusia-manusia yang tangguh.

Yuval Noah Harari dalam bukunya yang laris 21 Lessons for the 21st Century (2018) menulis khusus chapter tentang pendidikan. Secara reflektif, Harari mempertanyakan beberapa hal. Yakni, apa yang perlu diajarkan kepada anak-anak yang baru lahir agar mereka mampu bertahan hidup dan berkembang di masa depan? Kemudian, keterampilan apa yang dibutuhkan agar mereka mendapat pekerjaan, memahami apa yang terjadi, dan membantu mereka menelusuri relung kehidupan? Dalam tulisannya, Harari pun tak memberi jawaban pasti. “Manusia,” ujar Harari, “tidak pernah bisa memprediksi masa depan dengan presisi.”

Lantas bagaimana seharusnya generasi strawberry itu dididik? Ini adalah pekerjaan rumah yang jawabannya akan menemukan muaranya secara alami. Rhenald Kasali dalam Strawberry Generation: Mengubah Generasi Rapuh Menjadi Generasi Tangguh memberikan beberapa resep;

Pertama, bangun dulu mental mereka, jangan fokus pada hardskill mereka, seperti pengetahuan atau bidang khusus pekerjaannya. Fokuslah pada mental mereka. Jadikan mereka pribadi yang tangguh. Tahukah Anda, mendapatkan good passenger dari generasi ini lebih baik daripada menyimpan bad driver. Mereka jelas tidak bisa dikelola dengan cara-cara lama.

Kedua, jangan pernah membayangkan uang akan memuaskan mereka. Anak-anak generasi strawberry ini, kalau bisa diputar mentalnya, akan menjadi pribadi yang suka menghadapi tantangan. Maka dari itu setelah diputar, berikan kepercayaan. Beri mereka proyek-proyek penting, yang membuat mereka mampu belajar dan upgrade diri sehingga mereka merasa ikut berkontribusi terhadap keberhasilan (diri mereka sekaligus orang tua, atau tempat mereka mencari nafkahnya kelak -pen).

Ketiga, dampingi pengambilan keputusannya agar mereka tahu membaca arah.

Keempat, jika mereka keras kepala dan susah dikendalikan, jangan terlalu bersedih kehilangan anak-anak kreatif itu. Adakalanya itu cerminan pembentukan masa lalunya yang memang rapuh. Orang yang pintar harus punya ketangguhan juga self discipline. Namun, yang bagus sekalipun punya ‘pola terbang’ yang tidak sama dengan generasi sebelumnya. Jadi kita memang benar-benar ditantang untuk menghadapi sekaligus menyambut generasi baru ini. Generasi yang datang tidak diwakili oleh alfabetis, tapi dengan logo permisalan.

Jadi, sudah siapkah kita hari ini sebagai orang tua? Sebagai pimpinan perusahaan kelak, sebagai guru, untuk menghadapi generasi strawberry?

Rizki Aji Hertantyo
[Penulis buku “Pengantar Kepengasuhan Lembaga Pendidikan Islam”]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *