Nasihat Diri Menyambut Ramadan

Salam ukhuwah untuk teman-teman semua yang sudah sangat excited dengan datangnya bulan Ramadan. Namun di tengah kebahagiaan ini, aku memiliki sedikit keresahan.

Bulan Ramadan mungkin sering disalahartikan. Kita seringkali tidak paham dengan esensi mengenai bulan Ramadan. “Bulan di mana semua dosaku diampuni,” ujar banyak orang. Iya benar, tapi bagi mereka yang sungguh-sungguh beribadah dan berbenah. Bukan bagi mereka yang tak merasa ada yang spesial ketika bulan berubah. 

“Bulan di mana semua pintu kebaikan dibuka, semua pintu dosa ditutup.” kata mereka pula. Iya benar, tapi percuma jika ada pintu terbuka, namun kita tak masuk ke dalamnya? Sama saja!

Bahkan terkadang, sebelum masuk bulan suci. Aku sering membatin, “Pada bulan Ramadan ini, aku akan memperbaiki diri, menggantikan maksiat dengan amalan baik, menambah serta mengulang hafalan, sampai merutinkan salat tahajud.” 

Buktinya? Dusta! Aku masih berada pada titik yang sama, tak bergerak, tak membuatnya menjadi nyata.

Ramadan itu tamu, sebagaimana agama kita ajarkan untuk memuliakan tamu. Apakah pantas kita menyambut Ramadan dengan amalan harian kita yang biasa-biasa saja? Apakah pantas kita menyuguhkan kebaikan-kebaikan rutinitas kepada sang Bulan Mulia? Apakah pantas?

Jangan hanya jadikan Ramadan sebagai bulan untuk berubah, tapi jadikan Ramadan sebagai sebuah target yang memiliki syarat untuk kita masuki.

Terlepas dari itu semua, Ramadan dapat menjadi momentum untuk berubah. Bagi mereka yang mau dan berani untuk keluar zona nyaman, memasuki Ramadan itu bagaikan masuk ke dalam ‘zona bonus’, di mana semuanya dilipatgandakan. Amalan di bulan suci ini punya logika dan aritmatikanya sendiri, tidak bisa disamakan dengan bulan lain.

Seperti apakah puasa kita nantinya? Apakah hanya mencipta perubahan sementara, atau menjalani ‘metamorfosa’ nyata. Ramadan bukan hanya untuk orang alim, salih maupun untuk mereka dengan segala keunggulannya. Akan tetapi, Ramadan itu hadir, bagi mereka yang mau melenyapkan ego dalam kalbu mereka, dan bersimpuh khusyuk, dan segera melambung ke orbit cinta-Nya.

Bismillah, karena Ramadan itu adalah bulan penuh berkah. Mari persiapkan walau harus berlelah-lelah. Berjuang di sana lillah, karena Allah semata. Biidznillah, semoga Allah hadirkan akhir yang indah.

Baca juga: Pilar-Pilar Kebahagiaan

Muhammad Aidul Bakri
[Penulis buku “Untuk Apa Aku Hidup?” ini bertugas sebagai staff perpustakaan di SMA Future Gate.]

1 thought on “Nasihat Diri Menyambut Ramadan

Leave a Reply

Your email address will not be published.