Ramadan, Momen Tepat Memperbaiki Hubungan

Hidup kita kadang pasang, tak jarang surut. Selama masih interaksi dengan manusia, maka kita kerap dihadapkan pada kenyataan yang belum tentu semuanya berjalan baik-baik saja. Jalan pikiran seseorang kerap sulit ditebak, mungkin satu keadaan kita berteman dengan mudah, tapi sering pula terkuras oleh emosi dalam menerka jalan pikiran orang lain, semata-mata berharap agar menerima kita sebagai bagian dari kehidupannya. Entah sebagai teman, sahabat, atau hubungan yang lebih panjang, misal menjadi pasangan suami-istri.

Begitulah dinamika kehidupan, ia tak selalu berjalan lurus. Konflik dan berdamai berganti seiring waktu serta kenyataan. Bisa jadi pahit, tidak sedikit juga rumit. Dua-duanya sama-sama tidak nyaman. Hal yang berat kadang bukan memulai sebuah hubungan, tapi mempertahankannya untuk waktu yang panjang membentang. Seperti halnya dalam sebuah perjalanan, tak sulit bagi kita untuk memulai di awal, yang rumit adalah mempertahankan kecepatan agar stabil dari awal hingga akhir. Itulah nilai dari sebuah hubungan, yang semestinya berlaku dalam kehidupan kita terhadap sesama.

Ramadan datang, ia hadir sebagai bulan penuh keistimewaan. Bukan hanya keberkahan dan dilipatgandakannya amalan, namun ia juga bisa menjadi sebuah momentum dalam memperbaiki hubungan seseorang. Mengapa demikian? Karena di bulan Ramadan, seorang yang beriman, jiwanya ditentukan dengan kondisi fisiknya. Keadaan yang lemah, kadang menjadi penentu untuk mengendalikan emosi saat berpuasa. Di sana seseorang bisa menjadi sangat mudah memaafkan, menahan rasa marah yang mudah disulut saat tak berpuasa, hingga mengontrol jiwa untuk menerima hal yang bisa jadi pernah berbeda.

Itulah mengapa, Ramadan adalah momen tepat untuk saling berkaca diri, mengintrospeksi hubungan kita dengan orang lain, selain memperbaiki hubungan ibadah kita dihadapan Allah Ta’ala. Ada beberapa hal yang dapat dimulai dan dilakukan dalam memperbaiki hubungan.

  • Kembali Menyapa

Hal pertama yang dapat dilakukan ialah mencoba untuk kembali menyapa. Mungkin sudah terlalu lama kita dan teman diam tak saling bicara, untuk menyapa, kadang salah satunya terjebak pada upaya antara memulai lebih dahulu atau harus membuang muka. Maka inilah waktu yang tepat, mulai kembali apa yang dahulu pernah baik-baik saja. Tidak ada salahnya menjadi pembuka, terlebih mengawali dalam sapaan bukaanlah keadaan tercela.

  • Beri Hadiah

Bawakan hadiah kepada sesiapa saja yang pernah berselisih dengan kita. Pemberian seseorang yang sedang berpuasa kepada hamba Allah lain yang sama-sama berpuasa, dinilai dapat meminimalisir praduga. Sebab, setiap orang biasanya memiliki kesamaan dalam menyikapi sebuah pemberian. Kesamaan itu adalah, adanya pikiran tentang bulan Ramadan adalah bulan di mana setiap orang berlomba-lomba untuk berbagi kebaikan. Bila di bulan selain Ramadan, kita membawakan hadiah khawatir dikira akan memiliki maksud tertentu yang mendatangkan syak wasangka, di bulan Ramadan, pandangan tersebut biasanya terkikis habis.

  • Ajak Berbicara

Mulailah untuk kembali berbicara, hal-hal yang ringan seperti mengomentari status WhatsApp-nya, memberikan tanda suka pada postingan terbaru di Instagram miliknya, atau memberikan reaksi positif pada media sosial yang kita terhubung masih terhubung dengannya, adalah cara terbaik dalam memulai pembicaraan kembali. Bila memang akses kita dibatasi, tak ada salahnya untuk berkirim pesan melalui media sosial tersebut. Mungkin kita tak bisa melihat aktifitas yang dibagikan, tapi pintu berkirim pesan, biasanya masih dibiarkan terbuka. Kecuali bila sudah diblokir total, dan kita termasuk daftar pribadi yang dicekal dalam kehidupannya. Bila sudah demikian, upaya di langkah ini tentu tak bisa terus dipaksakan.

Baca juga: Pilar-Pilar Kebahagiaan

  • Berpikir Positif

Cobalah berpikir positif. Berpikir positif ini seperti membuka bumbu minyak yang terdapat dalam mi instan. Mau dipakai gunting, khawatir guntingnya akan berkarat sebab mau-tidak mau akan menodainya terlebih kita malas untuk membersihkan setelahnya, apabila disobek dengan tangan kadang punya tingkat kesulitan tersendiri yang tak jarang justru menumpahkan isi minyaknya, atau mungkin juga digigit tapi justru ditakutkan berimbas akan muncrat ke berbagai bidang. Seperti itulah berpikir positif, mencoba untuk menghadirkannya, selalu dijejali dengan kekhawatiran. Namun, apabila kita sudah memiliki tekad untuk memperbaiki hubungan, hal tersebut tentu tak sulit. Yang sulit adalah menaklukkan gengsi.

Yakinlah, bahwa mereka yang sejatinya berkonflik dengan kita, kadang kala juga dibayangi oleh rasa penasaran atas diri kita. Bahkan mungkin saja mereka juga ingin memperbaiki hubungan sama halnya dengan kita. Namun, kembali lagi, gengsi membuat segalanya tak berjalan mudah-mudah saja. Oleh karena itu, hidupkanlah berpikir positif, dan ketahuilah bahwa sebetulnya kawan kita dalam konflik, sebetulnya juga menginginkan hal yang sama.

  • Menjaga Harapan

Akan sulit memperbaiki hubungan dengan seseorang tanpa diiringi dengan harapan. Kita tentu hidup dalam nuansa yang selalu dibersamai dengan mudah-mudahan. Pada setiap keadaan, kata mudah-mudahan dan semoga, adalah alat yang menenangkan. Sebab memang begitulah seharusnya, mudah-mudahan adalah doa. Maka, bila ingin hubungan kita kembali menjadi baik, teruslah berdoa agar apa yang terjadi antara diri kita dengan kawan berkonflik tersebut diberikan jalan untuk bertemu akhirnya. Kembali baik-baik saja, dan bergaul seperti sedia kala.

Hindari Konflik yang Sama

Memang konflik tak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang dengan seorang lainnya, konflik bisa hadir dalam diri, begitulah yang dikenal dengan konflik batin, dan terkadang kita mampu untuk menguasainya. Beda halnya dengan konflik terhadap sesama. Dan sebetulnya, konflik terhadap sesama itu, tidak sedikit disebabkan pada hal yang kerap dianggap sepele atau remeh oleh satu pihak, tapi tidak bagi pihak lainnya.

Itulah mengapa, dalam berkawan, berteman, dan bersahabat, proses untuk saling mengenal diri satu dengan lainnya kadang tak pernah usai. Apatah lagi dalam hubungan pernikahan, yang mewajibkan untuk terus belajar dan menaklukkan rasa bosan. Menariknya, konflik-konflik itu hadir dari mereka yang sebelumnya penah dekat dengan kita, pernah akrab, bahkan pernah saling mengisi satu sama lain.

Bila semua langkah di atas sudah ditempuh, dan hasil positif sudah didapat, tugas kita selanjutnya adalah terus menjaga diri kita agar tak menjumpai konflik yang sama di kemudian hari. Memperbaiki pemilihan gaya bicara terhadap lawan berkata, hingga menguasai diri dari perbuatan yang dikhawatirkan dapat mengajak pada perselisihan hati antara kita dan sesama. Nabi shalallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,

Apabila kamu hendak shalat maka salatlah seakan-akan kamu hendak berpindah (mati). Dan janganlah kamu ucapkan perkataan yang esok hari kamu merasa perlu meminta maaf atasnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Al Munawi dalam Al-Faidhul Qadir (III/117) mengambil beberapa pelajaran dari hadits di atas, yaitu “Ada tiga indikator kesempurnaan seseorang: pertama, menimbang setiap ucapan sebelum disampaikan, kedua ialah menjauhi pernyataan yang perlu diklarifikasi kemudian, dan terakhir adalah untuk tidak berkomunikasi dengan orang pandir meski hanya demi menjaga perasaannya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *