Resensi Buku: Insecurity is My Middle Name

Penjahat dalam kisah kita bukanlah ibu tiri yang kejam, teman yang berkhianat, orang-orang yang merendahkan kita, tapi… our own insecurity (Hal. 11). Anyway, kisah dalam hidupmu nggak harus selalu tentang cinta dan teman. Sometimes it’s just the strong of yourself, growing better (Hal. 40).

Kalau hari ini kamu nggak bisa menerima dirimu secara utuh karena kurang cantik, maka kamu juga nggak akan bisa menerima dirimu secara utuh kalau kamu juga cantik (halaman 71). Jika ini hari terakhirmu, apakah hal-hal yang kamu risaukan itu masih berarti? Coba bayangkan, napasmu mulai tersengal-sengal, kakimu mendadak dingin, the end is near.

Apakah hal-hal yang kamu risaukan masih berarti pada detik-detik kritis seperti ini? Risau tentang fisik? Risau tentang masa depan? Risau tentang nasib yang kalah jauh dari teman-teman? Risau karena nggak pernah dipuji dan diapresiasi? Apakah semua kerisauan itu berarti pada detik ini? Pasti nggak. Saat ini, kerisauanmu berubah. Salat-salah yang aku lewatkan. Maksiat-maksiat yang aku belum bertaubat darinya. Amalan baikku masih kurang banget.

Tapi, di sinilah kamu, menyentuh buku ini, trying to feel something, dan kamu sudah ada di langkah yang tepat, karena di buku ini, ada 45 bab yang membantumu berdamai dengan insecurity-mu.

Di dalam buku ini dijelaskan tentang 10 macam insecurities yang sering dialami oleh pada umumnya generasi muda saat ini, antara lain:

  1. Kenapa good-looking yang selalu dipilih?
  2. Lalu, siapa yang akan memilihku?
  3. Aku juga kayaknya nggak bisa apa-apa, deh.
  4. Skill apa, ya, yang cocok buat aku?
  5. Tapi, aku harus mulai dari mana, ya?
  6. Aku bukan malas, hanya takut gagal lagi.
  7. Dan, aku malu, belum bisa banggain orangtua.
  8. Dan, aku kalah jauh dari teman-temanku.
  9. Jujur, aku iri sama pencapaian-pencapaian mereka.
  10. Nggak ada yang bisa dibanggakan dariku.

Dibagi ke dalam 45 bab yang dikupas secara gamblang, mulai dari berbagai keresahan yang ditimbulkan oleh insecurities di atas, faktor-faktor penyebabnya, sampai dengan kiat-kiat problem solving untuk mengatasi keresahan tersebut yang membuatmu benar-benar berdamai dengan insecurity-mu.

Bukan sekedar kata-kata motivasi yang sangat membantu kita menerima berbagai kekurangan dan menepis ketidakpuasan yang kita miliki dalam hidup, melainkan disampaikan pula inspirasi yang berasal dari pengalaman penulis yang disajikan dalam Islamic Worldview sehingga mampu menunjukkan hikmah Allah dari setiap karunia-Nya, baik yang kita syukuri maupun belum kita syukuri karena belum mengetahui sisi keindahan di balik setiap pemberian-Nya.

Seperti pada karya-karya Alvi Syahrin lainnya, buku ini disampaikan dengan bahasa yang santai dan sederhana -beberapa menggunakan bahasa Inggris yang familiar- sehingga mudah dipahami oleh semua kalangan, baik remaja maupun orang dewasa, dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah kesopanan dalam berbahasa. 

Penyampaian penulis yang lugas dengan gaya bahasa yang santai dan pemilihan diksi yang sederhana membuat pembaca dari berbagai kalangan langsung bisa memahami poin-poin yang disampaikan. 

Selain itu, pembagian ke dalam 45 bab yang masing-masing berisi materi spesifik, ditambah lagi setiap bab tidak selalu berisi penjelasan detail mengenai topik yang dibahas, melainkan terkadang disampaikan dalam bentuk paragraf atau bahkan satu kalimat sederhana yang kaya akan makna, membuat pembaca tidak jenuh dan mudah menangkap isi pesan dari penulis.

Hal menarik lainnya adalah Islamic Worldview yang begitu natural membaur dengan setiap untaian kata dalam ulasan topik yang disajikan. Di dalamnya juga terdapat motivasi untuk mengikuti nasehat ulama yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunah serta pemahaman salafus salih. Tidak lupa pula penulis menyertakan kutipan dalil yang sesuai dengan pembahasan yang mampu membuat hati pembaca menjadi lebih tentram.

Saya tidak menemukan kekurangan yang berarti di dalam buku ini, hanya saja saya menilai bahwa ukuran hurufnya cukup kecil dan harganya masih terbilang mahal sehingga kurang mudah diakses oleh anak-anak muda kalangan menengah ke bawah secara ekonomi. 

Selebihnya, saya menilai bahwa karya ini sangat layak untuk berada di rak koleksi bukumu, dan dibaca oleh siapa saja yang ingin mengetahui penyebab kegelisahan yang berasal dari insecurity-mu.

Terima kasih, semoga bermanfaat.

Identitas Buku

Judul Buku: Insecurity is My Middle Name
Penulis: Alvi Syahrin
Penerbit: Alvi Ardhi Publishing, Jakarta
Terbitan: Cetakan kelima, November 2021
Dimensi: 13 × 19 cm
Halaman: 264/SC/Bookpaper
ISBN: 978-623-97002-0-1
Harga: Rp 93.000,-

Baca juga: Resensi Buku: Memahami Sains Modern

Abdul Fattah
[Alumni Fakultas MIPA Universitas Gajah Mada, Jurusan Kimia. Dipercaya untuk mengajar Kimia sekaligus diamanahi Ketua Rumpun Jurusan IPA. Pernah mengelola Mahad Ilmi di Yogyakarta semasa kuliah, dan aktif dalam kegiatan di Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari Yogyakarta, selain itu juga supervisor Bahasa Arab di Mahad Umar bin Khattab Yogyakarta pada waktu bersamaan.]

 

1 thought on “Resensi Buku: Insecurity is My Middle Name

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *