Sedekah Video Lucu dan Reformasi Bentuk Kebaikan

Ketika bicara tentang kebaikan, kita sulit melepaskan hal-hal yang berkaitan dengan ritual agama. Salat, berpuasa, naik haji, memasukkan uang ke kotak amal, membaca kitab suci, dan seterusnya. Tentu saja semua itu perbuatan baik. Ada banyak ayat dan hadis yang menjelaskan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut akan membuat pelakunya dilimpahi pahala dan keberkahan. Namun, apakah perbuatan baik hanya melulu hal-hal mainstream seperti itu? Tentu saja tidak. Sebagaimana perbuatan buruk yang banyak bentuknya, kebaikan juga beragam, dan ada banyak sekali bentuk-bentuk kebaikan yang tidak kita sadari.

Saya punya seorang teman yang rutin membagikan video-video lucu lewat pesan Instagram. Ia terus mengirimi saya video-video lucu yang baru ia temukan walaupun saya tidak selalu membukanya. Kadang saya menonton video-video lucu yang ia bagikan. Beberapa video membuat saya terbahak-bahak, yang lainnya hanya membuat saya tersenyum kecil. Teman saya yang lain rajin menyebarkan meme kocak yang ia dapati di jagat media sosial. Saya sering dibuat terpingkal-pingkal oleh meme itu dan terpancing untuk ikut menyebarluaskannya kepada seluruh umat manusia. Teman saya yang lain suka melontarkan lelucon di tengah keramaian yang membuat suasana beku menjadi cair. Seperti saya, mungkin anda mempunyai teman-teman semacam yang saya sebut di atas. Atau barangkali anda sendirilah sosok agen pembawa lelucon-lelucon terbaru.

Teman-teman saya yang lucu dan suka membagikan lelucon itu membuat saya bertanya-tanya. Apakah yang mereka lakukan itu adalah selingan belaka? Semacam omong kosong yang tak berguna? Atau yang mereka lakukan adalah satu dari berbagai macam cabang kebaikan? Kalau saya menganggap ketekunan mereka menyebarkan lelucon sebagai omong kosong tak berguna, agaknya saya kelewat meremehkan jerih payah mereka. Bagaimanapun mencari dan menciptakan lelucon yang dapat membuat orang terhibur bukan hal gampang. Tetapi kalau saya menganggap apa yang mereka lakukan sebagai kebaikan, apakah itu tidak terlalu mulia? Apakah lantas pelawak adalah salah satu orang yang paling pertama masuk surga?

Dalam suatu hadis riwayat At-Tirmidzi, Nabi Muhammad—shallalallahu ‘alaihi wasallam—bersabda, “Senyum di hadapan saudaramu adalah sedekah.” Jika tersenyum adalah sedekah, bukankah membuat orang lain tersenyum berarti sedekah yang dobel? Dalam hadis lain Nabi Muhammad—shallalallahu ‘alaihi wasallam—bersabda: “Singkirkanlah gangguan dari jalan, maka itu menjadi sedekah bagimu.” Jika menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah, lantas bagaimana halnya dengan menyingkirkan kesedihan dan kegundahgulanaan dari hati seorang manusia?

“Senyum di hadapan saudaramu adalah sedekah.”

Baca juga: Mengapa Banyak Orang Berdebat di Sosial Media

Apakah semua aktivitas menyebarkan lelucon bisa disebut sebagai bentuk kebaikan? Jelas tidak. Sebagaimana ada jenis senyuman yang bisa mendatangkan malapetaka dan permusuhan, begitu pula ada jenis lelucon yang hanya menimbulkan mudarat bukannya manfaat. Setiap hal ada waktu dan porsinya. Lelucon yang tidak diletakkan pada tempatnya hanya akan mengeruhkan suasana. Jangankan lelucon, shalat bukan pada waktunya saja justru bisa membuat pelakunya berdosa. Lelucon-lelucon yang tidak peka terhadap keadaan (misalnya mengejek-ejek keyakinan orang lain atau menyinggung orang yang sedang mendapat musibah) adalah jenis lelucon yang sebaiknya kita hindari.

Apakah lelucon hanya milik para pelawak dan orang-orang humoris? Tentu saja tidak. Setiap kalangan memiliki lelucon dan sisi lucu masing-masing. Lelucon bukanlah jenis makhluk yang hanya berkutat di lingkungan orang-orang pinggiran dan orang-orang yang bekerja di dunia hiburan. Para tokoh agama—golongan yang kerap dianggap kelewat serius dan kaku—juga bisa melucu dan mengabadikan humor. Di kalangan ulama terdahulu ada sosok Ibnul Jauzi, seorang ulama yang sangat produktif dan multitalenta. Ibnul Jauzi menulis banyak sekali kitab. Ia menulis kitab-kitab bertema tafsir, hadis, aqidah, hingga kitab humor! Dua kitab humor karangan Ibnul Jauzi berjudul Akhbaar al-Hamqaa wal-Mughaffiliin (Lelucon Orang-Orang Bodoh dan Lalai) dan Al-Adzkiyaa (Lelucon Orang-Orang Cerdas). Dalam hal kajian agama, saya juga beberapa kali menghadiri dan menyimak kajian agama yang bukan hanya bernas, tapi juga penuh humor sehingga membuat saya bergelimang ilmu dan tawa sekaligus. Di antara dua orang ustaz yang kajian-kajiannya penuh dengan humor yang pernah saya ikuti adalah Ustaz Zainal Abidin dan Ustaz Abu Haidar as-Sundawy.

Pada akhirnya, ketika saya melihat orang-orang di sekitar saya yang hobi menyebar lelucon, alih-alih menyepelekan, saya mengapresiasi mereka. Saya tidak tahu apakah mereka berniat berbuat baik ketika membagikan meme-meme kocak dan video-video lucu, tapi setidaknya berkat mereka hari-hari saya menjadi lebih cair dan berwarna. Di masa-masa penuh kabar buruk, barangkali yang kita butuhkan bukanlah hal-hal berat dan serius yang membuat pikiran mumet, tapi sesederhana lelucon ringan yang membuat kita tertawa lepas dan menyadari bahwa hidup tidak sesuram yang kita bayangkan. (*)

Erwin Setia
[Kolumnis di berbagai media online, penulis cerpen, alumni SMA Future Gate.]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *