Strategi Investasi Emas Batangan (Gold Bar)

Emas sebagai salah satu logam mulia sudah dikenal sejak dahulu kala, namun fungsi utamanya adalah sebagai standar alat tukar menggantikan teknologi barter saat itu. Namun saat ini emas dijadikan sebagai salah satu alat investasi karena nilainya cenderung naik dari waktu ke waktu. Tidak salah, namun ada yang berpendapat bahwa emas bukanlah aset untuk investasi, tapi emas adalah sebagai alat lindung nilai (safe haven) dari fluktuasi mata uang suatu negara.

Sejatinya emas 1 gram dari waktu ke waktu nilainya ya tetap 1 gram. Contoh: kambing sejak zaman Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam dinilai berkisar 4,25 gram emas, saat ini tahun 2022 pun nilainya berkisar itu juga (tinggal disesuaikan bobot dan jenis kambingnya). Namun mata uang yang menilai 1 gram itu yang cenderung melemah dalam menilai 1 gram emas itu tadi. Biasanya karena terjadi inflasi sebagai konsekuensi sistem mata uang fiat saat ini.

Manapun pendapat yang kita pilih realitanya adalah harga emas cenderung naik dari waktu ke waktu itu benar dan sesuai data. Berikut grafik data harga emas dari tahun 1970 s.d. 2022.

emas
Grafik harga emas.

Melihat data di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa harga emas memang cenderung naik dari waktu ke waktu dengan kenaikan compounding annual growth rate (CAGR) berkisar 7,42% dalam kurun waktu 52 tahun. Tidak terlalu tinggi namun bisa mengungguli inflasi secara rata-rata (kecuali kondisi tertentu). Bisa dilihat dari grafik diatas, ada tahun tertentu dimana harga emas akan turun, kadang mendatar (sideways) dan naik.

Tulisan kali ini akan fokus membahas strategi investasi emas batangan atau istilahnya gold bar dengan kemasan yang dilengkapi dengan sertifikat keasliannya, lebih khusus lagi emas dari Antam. Strateginya akan sedikit berbeda dengan “emas online” yang ditawarkan beberapa platform fintech investasi, aplikasi market place bahkan akun perbankan juga menawarkan fitur tersebut di aplikasi mbankingnya (ingat, “emas online” ini masih belum memenuhi kaidah syariah dalam kebanyakan implementasinya). Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat berinvestasi emas batangan.

1. Investasi emas idealnya untuk jangka menengah dan panjang

Seperti terlihat pada grafik harga emas di atas, ada waktunya harga emas naik, turun atau bahkan tidak ke mana-mana. Tapi dalam jangka panjang harga emas cenderung naik, maka jika harga jual emas kita lebih rendah daripada harga beli kita karena komoditi emas sedang turun kita akan menderita kerugian.

2. Harga (pajak) lebih rendah jika kita punya NPWP

Hal ini sudah menjadi ketetapan pemerintah, kecuali kita membeli emas di luar toko emas seperti membeli dari perorangan tertentu. Berikut perbedaan harga emas antara orang yang punya NPWP (pajak 0,45%) dan yang tidak punya NPWP (pajak 0,9%).

emas
Tabel harga emas per November 2022.

3. Membeli di gerai resmi Antam lebih murah daripada di toko emas eceran

Selisihnya cukup lumayan sekitar 1-10% (makin kecil gramasi, selisihnya makin tinggi). Jika kita membeli dalam jumlah yang lumayan besar lebih baik langsung ke gerai Antam di Gedung Graha Dipta, Jakarta. Namun jika hanya membeli dalam jumlah kecil maka perlu dipertimbangkan biaya bensin, parkir dan capek antrinya juga jika harus ke gerai resmi.

Jika hendak mencairkan investasi emas yang kita punya maka perlu dipertimbangkan juga untuk menjual di gerai resmi Antam, karena di toko emas konvensional/eceran kondisi tertentu akan mempengaruhi harga jual kembali, seperti tahun pembuatan, kemasan baru/lama juga mempengaruhi harga emas. Namun hal tersebut tidak berlaku di gerai resmi Antam, jadi kita bisa mendapat harga jual yang lebih kompetitif.

4. Makin kecil gramasi, makin besar spread-nya

Jika kita membeli emas dan menjualnya di hari itu juga tentu sudah beda harga, karena dalam jual beli emas ada istilahnya spread atau selisih antara harga beli (lebih tinggi) dengan harga jualnya (lebih rendah) disatu waktu tertentu. Jika misal kita beli emas batangan 1 gram di harga Rp980.000.- maka jika kita langsung jual di saat itu juga maka hanya akan dihargai (buyback)  Rp884.000.- alias ada selisih sekian persen. Spread ini juga bermacam-macam penyebabnya, kadang tinggi, kadang rendah, banyak faktornya, salah satunya ukuran gramasi. 

Perbedaan spread yang besar antar gramasi ini biasanya berlaku di pasar sekunder (pedagang eceran maupun toko emas non antam). Spread pada emas dengan gramasi kecil misal 0,5 gram berkisar sampai dengan 18%, namun spread untuk emas dengan gramasi besar (contoh 1.000 gram) hanya berkisar antara 5-7% saja. Jadi jika kita punya emas 20 batang x 0,5 gram tidak serta merta bisa dihargai dengan emas batangan 10 gram. Untuk mengatasi hal tersebut bisa diminimalisir dengan menjual kepada teman/kerabat yang berminat tentu dengan harga jual dibawah standar toko emas namun tetap diatas harga buyback toko emas, jadi sama-sama untung.

5. Pastikan keaslian emas fisik

Emas batangan (goldbar) sudah dilengkapi dengan sertifikat dalam kemasannya, pastikan saja tidak rusak. Produsen emas di Indonesia yang paling tinggi standarnya saat ini hanya antam yang sudah dilengkapi dengan standar LBMA (London Bullion Market Association) untuk menjamin kualitas dan kemurniannya, selain itu baru standar SNI saja namun itupun sudah cukup. Untuk emas Antam bisa cek keaslian melalui aplikasi CertiEye Antam di playstore. Emas dengan gramasi tertentu juga banyak dipalsukan/ dimanipulasi (disuntik dengan tungsten), maka harap berhati-hati jika melakukan jual beli emas batangan di toko/perorangan tertentu.

6. Pertimbangkan menggunakan Safe Deposit Box (SDB)

Jika jumlah emas yang kita punya sudah banyak, ada baiknya tidak disimpan di rumah. Walaupun sudah disimpan dalam brankas baja dalam kamar yang terkunci rapat, namun resiko pencurian, perampokan, kebakaran yang mungkin saja bisa terjadi. SDB adalah tempat khusus penyimpanan barang yang terbuat dari baja yang disimpan dalam ruangan khusus tahan api dan diawasi 24 jam. SDB ini biasanya disediakan oleh Bank atau Pegadaian dengan sistem sewa tiap beberapa periode.

7. Sedikit perhatikan kondisi makro ekonomi.

Ini sifatnya opsional saja, jika niat kita adalah untuk investasi jangka panjang dan emas sebagai hedging atau lindung nilai aset maka mau beli ya beli saja emasnya saat ada dananya, entah ada di berapa rupiah harga emas hari itu. CAGR 7,42% pertahun dari grafik di atas tidak serta merta setiap 1 tahun harga emas akan naik 7,42% namun ada kondisi tertentu harga emas cenderung akan sideways atau bahkan turun. Perhatikan harga emas pada bulan agustus tahun 2011 dimana harga emas saat itu berada dalam titik all time high-nya di harga 1811 USD/ troy oz. Jika kita membeli emas saat itu maka kita akan mengalami floating loss sampai dengan 8 tahun kemudian (2019). Baru pada bulan Agustus 2020 harga emas kembali ke titik tertingginya di harga US$1900/troy oz, alias jika kita beli emas pada Agustus 2011 maka baru akan balik modal (atau untung dikit) pada tahun 2020 (9 tahun kemudian). 

Ada banyak faktor yang mempengaruhi harga emas karena emas adalah komoditi yang diperdagangkan di seluruh dunia. Faktor makro yang mempengaruhi harga emas sangat variatif. Namun sekali lagi, jika tujuan kita adalah investasi jangka panjang maka go ahead saja, tak perlu peduli kondisi makro mikro ekonomi global.

Saibani Kurniajati
[Staf Tata Usaha di SMA Future Gate]

Referensi:
https://tradingeconomics.com/commodity/gold diakses pada 24/11/2022
https://www.logammulia.com/id/harga-emas-hari-ini diakses pada 26/11/2022

https://www.logammulia.com/id/sell/gold diakses pada 26/11/2022
https://investasi.kontan.co.id/news/mau-investasi-emas-simak-tipsnya-dari-antam?page=all diakses pada 26/11/2022
https://investasi.kontan.co.id/news/mengulas-spread-ideal-harga-buyback-emas-antam diakses pada 26/11/2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *