Tak Gampang Menjadi Anak Orang Terkenal

Sebagai seorang anak dari keluarga biasa-biasa saja, saya kerap membayangkan rasanya menjadi anak orang terkenal. Saya pikir pasti akan menyenangkan. Misalkan saja saya anak seorang pengusaha termasyhur, saya bisa membeli apa pun dengan mudah dan pelesir ke mana pun sesuka saya. Atau jika saya anak seorang penulis papan atas, saya pasti akan dikelilingi buku-buku terbaik dan pandai menulis sejak kecil. Atau jika saya anak seorang pesepakbola hebat, niscaya saya akan jago bermain bola dan menganggap bola sebagai teman layaknya Tsubasa Ozora. Berkhayal memang kegiatan menyenangkan. Sayangnya, ketika kita berkhayal kerap kali meluputkan hal-hal rinci, noda-noda tak kasat mata dari apa-apa yang kita anggap sempurna.

Ada dua jenis orang anak terkenal: yang selalu membangga-banggakan orang tuanya dan yang ingin lepas dari bayang-bayang orang tuanya. Kita mungkin tidak asing dengan anak orang terkenal yang berlagak sombong dan selalu membawa-bawa nama orang tua. Mereka benar-benar bergantung pada nama besar orang tua dan berpikir orang tua mereka akan menyelamatkan mereka apa pun yang terjadi. Anak orang terkenal dari jenis ini memang agak memuakkan. Tapi kita perlu memaklumi tingkahnya. Barangkali mereka memang tidak memiliki apa-apa selain nama besar orang tua. Dilihat dari sisi ini sesungguhnya nasib mereka menyedihkan.

Sementara itu, anak orang terkenal dari jenis kedua berada di situasi yang lebih rumit. Mereka memiliki kemampuan yang mumpuni dalam bidang mereka, tapi karena orang tua mereka begitu hebat, banyak orang merancukan mereka dengan orang tua mereka. Orang-orang terus membandingkan mereka dengan orang tua mereka. Orang-orang selalu meremehkan mereka dan menganggap kehebatan mereka hanyalah buah keberuntungan. Salah satu orang dari jenis kedua adalah Kasper Schmeichel, anak dari kiper legendaris Peter Schmeichel. Seperti ayahnya, Kasper juga pesepakbola yang berposisi sebagai penjaga gawang. Kasper juga kiper yang hebat. Ia kiper tim nasional Denmark dan bagian dari skuad fantastis Leicester City yang menjuarai Liga Inggris edisi 2015-2016. Meski begitu, selama bertahun-tahun orang-orang terus menerus berkata kepadanya, “Kau tidak akan bisa menjadi sehebat ayahmu.” Tiap kali mendengar orang berbicara seperti itu, Kasper merasa kesal. Sebab, biar bagaimanapun, Kasper dan ayahnya adalah dua entitas berbeda, yang memiliki keistimewaan dan kekurangan masing-masing.

Kasper hanyalah satu di antara ribuan contoh. Di luar sana banyak anak orang terkenal yang mengalami hal serupa dengan Kasper. Di satu sisi, memiliki orang tua hebat menjadi anugerah untuk mereka. Tapi di sisi lain, hal itu menjelma kutukan. Selalu ada dua sisi dalam sekeping koin.

Baca juga: Tentang Keberagaman dan Kerumitan yang Menyertainya

Setiap anugerah memang memiliki konsekuensi. Sebagai anak orang terkenal, seperti itulah konsekuensi yang musti Kasper dan orang-orang semacamnya tanggung. Mereka harus rela dibanding-bandingkan dan dianggap memetik keberuntungan yang berasal dari pohon yang orang tua mereka tumbuhkan. Bagi anak orang terkenal maupun anak orang biasa-biasa saja, hidup memang tidak mudah. Tapi bagi anak orang terkenal setidaknya nama orang tua mereka dikenal, walau mereka memiliki kehidupan yang tidak mudah. Itulah bedanya.

Relasi antara anak orang terkenal dengan orang tua mereka yang terkenal bukan relasi yang sederhana. Kita mungkin menemukan beberapa anak dan orang tua terkenal yang memiliki hubungan baik dan suka tersenyum saban kali menghadap kamera. Tetapi kita juga bisa menemukan banyak anak dan orang tua terkenal yang bertentangan dan saling bermusuhan karena punya prinsip yang berbeda. Jika kita menelusuri sejarah, kita tidak akan kesulitan menemukan anak nabi yang membangkang terhadap ajaran ayahnya atau anak raja yang membunuh ayahnya sendiri untuk mendirikan kerajaan bercorak baru. Di masa sekarang tak sedikit anak orang terkenal yang cekcok dengan orang tua mereka atau malah membenci orang tua mereka. Popularitas sama sekali tidak berjalan seiring dengan kedamaian.

Kini, tiap kali merasa masygul lantaran berasal dari keluarga biasa-biasa saja, saya selalu mengingat-ingat pelbagai riwayat anak orang terkenal yang berseteru dengan orang tuanya. Setelah mengingat-ingat itu, hati saya terasa lebih ringan, walau hidup tak lantas jadi lebih mudah.

Erwin Setia
[Kolumnis di berbagai media online, penulis cerpen, alumni SMA Future Gate.]

1 thought on “Tak Gampang Menjadi Anak Orang Terkenal

Leave a Reply

Your email address will not be published.