Teknik Grouping Anti Mainstream dalam Kegiatan Kelompok

Salah satu kegiatan yang sering kita lakukan dalam suatu acara adalah pembuatan kelompok. Tidak hanya dalam kegiatan formal namun juga kegiatan nonformal. Mungkin sudah banyak kita jumpai panitia yang melakukan pengelompokan dengan cara biasa. Seperti pengulangan berhitung sebanyak kelompok. Atau menunjuk ketua secara acak lalu memilih anggotanya. Hal tersebut tentu bosan untuk dilakukan jika setiap agenda menuntut untuk pembuatan kelompok. Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan agar grouping kita menjadi lebih beragam. Mari kita simak penjelasan di bawah ini!

1. Keranjang buah dan sayur

Teknik ini diawali dengan peserta diberikan kertas acak yang berisi nama buah dan sayur. Nama tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan warna. Sebelum peserta mencari kelompoknya, kegiatan dapat diawali dengan instruksi cerita. Kemudian peserta yang mendapat nama buah dan sayur sewarna harus mencari kelompoknya. Diberikan kesempatan mencari dalam waktu 1 menit. Kelompok yang paling pertama berkumpul mendapat reward. Sedangkan kelompok paling akhir mendapat punishment. Reward dan punishment disesuaikan dengan kondisi para peserta. Berikut ini cerita yang dapat diinstruksikan. “Bu Joko merupakan seorang penjual buah dan sayur di Pasar Niagara. Ia merupakan seorang perfeksionis yang selalu menyusun dagangannya berdasarkan warnanya. Warna-warna yang dikelompokkan ada hijau, merah, kuning, oren. Namun suatu hari mata Bu Joko sakit sehingga tidak mampu menyusunnya berdasarkan warna. Sedangkan 2 menit lagi toko harus segera dibuka. Dalam hitungan ketiga kumpulkanlah buah dan sayur yang sudah dibagikan bu joko ke kalian menjadi satu kelompok warna”. Langkah terakhir pastikan semua peserta sudah berkumpul dalam 1 kelompok

2. Murid Newton

Siapa yang tidak mengenal ilmuwan fisika satu ini. Banyak konsep-konsep fisika yang ditemukan berdasarkan teorinya. Buat kamu pengajar fisika teknik ini dapat dilakukan saat mengelompokkan siswa. Pengajar dapat menyiapkan kelompok persamaan dan konsep dari mata pelajaran fisika. Kemudian tuliskan nama-nama besaran yang nantinya akan disatukan menjadi kelompok di secarik kertas. Sesuaikan jumlah nama tersebut sebanyak jumlah siswa. Kemudian bagikan kertas-kertas tersebut ke seluruh siswa. Berikan siswa untuk mencari kelompoknya selama 2 menit. Kelompok yang berkumpul lebih dulu akan mendapatkan reward. Sedangkan kelompok yang paling akhir berkumpul akan mendapatkan punishment. Berikan instruksi kepada siswa sebagaimana di atas agar siswa memahami teknik ini.

3. Si Paling Kode

Terkadang dalam sebuah acara peserta belum mengenal satu sama lain. Saat mereka diajak bermain games tak sedikit yang tidak antusias. Oleh karena itu untuk mencairkan suasana saat pembagian kelompok kita dapat melakukan teknik ini. Dari namanya dapat dipahami bahwa teknik ini akan menggunakan kode kode dalam aktivitasnya. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan kode sebanyak kelompok yang diinginkan.  Contoh kode yang dapat digunakan adalah tanda tambah, kurang, bagi, kali, sama dengan, lebih dari, kurang dari, dsb.

Tanda tambah diperagakan dengan kedua tangan membentuk tambah. Tanda kurang diperagakan dengan tangan kanan yang horizontal. Tanda bagi diperagakan dengan tangan kanan miring ke atas. Tanda kali diperagakan dengan kedua tangan silang. Tanda lebih dari diperagakan dengan jari tangan kanan. Tanda kurang dari diperagakan dengan jari tangan kiri. Instruksikan ke peserta bahwa mereka mencari kelompok berdasarkan kode yang dibagikan. Tidak ada suara selama pencarian kelompok. Peserta hanya boleh memperagakan kode untuk mencari teman kelompoknya. Jika ada salah satu anggota kelompok yang bersuara maka otomatis mendapat hukuman. Kelompok yang pertama berkumpul akan mendapatkan reward. Setelah kelompok terkumpul lanjutkan dengan aktivitas berikutnya yang diinginkan. 

4. Seorang Anak

Teknik ini merupakan teknik pengelompokan peserta menggunakan instruksi cerita. Tentukan terlebih dahulu jumlah kelompok yang diinginkan. Instruksikan kepada peserta bahwa mereka harus berkumpul berdasarkan kode “angka+orang+anak” yang ada pada cerita. Misalkan seorang anak untuk tetap sendiri, dua orang anak untuk kumpul berdua, tiga orang anak untuk kumpul bertigas, dsb. Boleh menyisipi kode pengecoh seperti dua anak, tiga orang remaja, seorang perempuan, dsb. Kode tersebut tidak sesuai dengan instruksi awal sehingga siswa tidak bisa berkumpul. Beri penekanan pada setiap angka yang sedang diceritakan. Setelah semua peserta paham maka cerita dapat dimulai. Tapi sebelumnya acak peserta agar tidak berkumpul dengan teman yang sudah dikenal. Berikut ini contoh cerita yang dapat disampaikan

Suat hari seorang anak lelaki bernama Jhons hendak pergi ke sekolah. Pagi hari setelah terbangun dari tidur ia membereskan tempat tidurnya. Sekilas saat ia melihat jendela ada 2 ekor ayam sedang makan nasi. Di sampingnya ternyata ada 3 orang anak laki-laki sedang menunggu jemputan. Di sampingnya lagi seorang anak perempuan sedang merapikan kerudung yang tertiup angin. Tidak terlena dengan suasan di luar rumah, jhonson bergegas mandi. Di dalam kamar mandi ia melihat 4 orang-orangan mainan yang lupa ia bereskan. 10 menit berlalu jhonson pun menyudahi mandi dan menuju kamar untuk mengganti bajunya. Dari dalam dapur ibu memanggil untuk segera makan dan berangkat. Tepat pukul 6.30 jhonson keluar rumah untuk menunggu jemputan. Tak lupa ia memberi makan 2 orang adiknya. Saat jemputan sampai di depan rumah, jhonson melihat seorang anak berumur 5 tahun yang sedang menangis. 3 orang kakak dari anak tersebut berusaha untuk mendiamkannya. 10 menit kemudian jhonson sampai di sekolah. 5 orang anggota osis sedang memberikan makan 5 kucing yang dipegang oleh 6 orang anak kelas 10. Jhonson bergegas masuk kelas karena bel masuk sudah berbunyi. Di depan kelas jhonson melihat seorang anak yang sedang membersihkan papan tulis. Di belakang kelas ada 4 bangku yang sudah terisi 4 tas milik 4 orang anak futsal. Begitulah cerita dari Jhonson si anak sekolah”.

Itulah contoh cerita yang dapat disampaikan. Cerita dapat disesuaikan dengan jumlah kelompok yang ingin dibuat. Pastikan semua peserta sudah memiliki kelompok. Jika ada yang tersisa masukkan ke dalam salah satu kelompok. Agar menjadi seru, berikan punishment jika ada peserta yang tidak masuk kelompok.

Dari keempat teknik tersebut tentunya tidak bisa diterapkan untuk semua kondisi. Perlu dilihat kesiapan dan kondusifnya acara. Namun tidak menutup kemungkinan jika kita kreatif untuk menyesuaikan teknik-teknik yang ada maka kita dapat membuat acara menjadi menyenangkan. Untuk praktek lengkapnya dapat dicari di Youtube contoh-contoh serupa.

M. Zubair Abdurrahman
[Pendidik di SMA Future Gate Bekasi, sedang menyelesaikan program Pascasarjana di PLN University.]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *