Menimbang Ulang Makna Asesmen

Masa sekolah dan tugas ibarat sepaket menu yang tak absah jika tak muncul secara berdampingan. Bisa dibilang masa sekolah adalah masa-masa yang penuh dengan tugas. Ada tugas harian, tugas liburan, asesmen harian (formatif), ulangan harian (UH), penilaian tengah semester, penilaian akhir semester, hingga untuk kelas 12 masih ada juga penilaian sumatif akhir jenjang (PSAJ). Di luar rutinitas sekolah sekolah juga terdapat try out bimbel, tes kemampuan akademik (TKA) per tiap jenjang, hingga akhirnya untuk kelas 12 juga terdapat ujian masuk universitas. Sekelumit tugas dan ujian tersebut berujung pada proses penilaian—sebuah asesmen—yang dilakukan oleh guru.

Bagi kebanyakan guru, kata “asesmen” lazim dimaknai sebagai alat kuantifikasi untuk keperluan administrasi. Namun pada Kurikulum Merdeka asesmen terbagi jadi dua, yaitu formatif dan sumatif. Untuk guru-guru yang belum mempelajari ilmu pedagogi secara mendalam biasanya memaknai formatif secara sederhana adalah pengambilan nilai dalam proses pelajaran dan diinterpretasikan sebagai pemberian tugas, ulangan harian, atau tugas yang diberikan nilai yang menjadi acuan utama bukan hanya pengetahuan, tapi perilaku siswa yang akan dipertanggungjawabkan kepada orang tua (Puad & Ashton, 2021) [1]. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Tiap asesmen punya tujuan masing-masing. Ade asesmen dengan tujuan untuk mengukur pengetahuan atau pemahaman awal para siswa, asesmen dengan tujuan untuk membantu proses belajar siswa, asesmen dengan tujuan membantu guru menyesuaikan gaya belajar ataupun rencana pembelajaran yang telah dibuat , dan asesmen klasik yang kita kenal untuk mengukur performa belajar siswa.

Idealnya, asesmen terjadi bukan untuk dibaca oleh para guru saja, namun juga untuk para siswa dan wali siswa. Karena sejatinya dibutuhkan sinergi antara guru, para siswa, dan wali siswa untuk menentukan hal-hal yang akan membantu pembelajaran dan pengalaman menyeluruh sehingga pendidikan tidak terputus di sekolah saja. Hal ini karena kontrol belajar, nilai-nilai, dan etos yang akan ditanamkan pada diri pembelajar merupakan tanggung jawab diri dan komunitas si pelajar baik di dalam ataupun luar sekolah (O’Shea, 2016) [2]

 

Sebenarnya, Apa Sih Asesmen?

Assessment which is explicitly designed to promote learning is the simple, most

powerful tool we have for both raising standards and empowering lifelong learners.

(Beyond the Black Box, Assessment Reform Group [ARG], 1999)

 

Saat ini dalam berbagai diskusi ilmiah pandangan terkait asesmen telah bergeser. Yang mulanya asesmen dimaknai sebagai measurement tool for performance dari suatu kurikulum edukasi menjadi alat untuk mengambil data dalam memutuskan keputusan dalam perencanaan, proses, dan evaluasi pembelajaran itu sendiri. Asesmen bertujuan untuk mempromosikan pembelajaran sebagai alat untuk menaikkan standard dan mendukung pembelajar. Artinya, tujuan utama asesmen bukanlah soal nilai dan menghakimi performa para murid atau pelajar, namun lebih berfokus bagaimana menguatkan pola pikir dan etos pembelajar sepanjang hayat pada diri para siswa. Pola pikir sederhana ini yang kadang terluputkan pada diri siswa, bahkan juga para orang tua dan para guru. Sekolah yang para siswa jalani ini bukanlah tujuan akhir, namun sebagai sarana mereka meraup pengalaman dan wawasan baik softskill maupun hardskill yang akan mereka butuhkan di masa mendatang.

Pada 1967 Michael Scriven mengajukan istilah formative assessment untuk mengevaluasi kurikulum yang sedang dikembangkan saat itu. Scriven awalnya melakukan ini dalam rangka efisiensi proses perbaikan dan pengembangan kurikulum tanpa harus menunggu proses akhir (sumatif) dari kurikulum yang tengah berjalan. Pada 1969, Benjamin Bloom membawa proses asesmen formatif untuk lingkup yang lebih spesifik, yaitu ruang kelas itu sendiri. Proses pembelajaran yang telah direncanakan tiap semester atau sedang berjalan kerap menghadapi persoalan yang cukup unik tiap waktunya. Terkadang bisa jadi karena pendekatan yang belum tepat atau penyesuaian materi yang diperlukan.

Secara rinci, asesmen terbagi menjadi tiga berdasarkan tujuannya:

  1. Assessment of Learning (AoL): Asesmen yang bertujuan mengevaluasi pembelajaran yang telah terjadi dan mengkonfirmasi hasil belajar dengan output nilai dan laporan dari akhir mata pelajaran;
  2. Assessment for Learning (AfL): Asesmen yang bertujuan untuk membantu dan meningkatkan siswa dan para guru dalam proses kegiatan belajar-mengajar. Output-nya berupa masukan dalam bentuk feedback guna membantu menentukan tahapan untuk memenuhi capaian pembelajaran (CP) siswa;
  3. Assessment as Learning (AaL): Asesmen yang bertujuan untuk menempatkan siswa sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar. Menjadikan mereka sebagai otoritas dalam memonitor pemikiran, pemahaman, dan kondisi belajar mereka.

Kenapa Penting Memahami Asesmen?

Lalu, kenapa urusan asesmen ini jadi penting dan siapakah yang perlu memahami konsep asesmen ini? Sejatinya asesmen sudah menjadi pengetahuan yang semestinya diketahui para guru. Namun, konsep asesmen perlu diketahui juga oleh siswa sendiri dan para wali murid. Di antara alasannya selain menyampaikan laporan pembelajaran, para wali murid bisa menginterpretasikan maksud dari laporan yang diberikan. Dengan demikian para wali murid pun jadi bisa menyesuaikan diri guna mendukung proses belajar siswa dalam kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah.

Asesmen hendaknya dilakukan berdasarkan tujuan asesmen masing-masing. Hal ini supaya tidak terjadi kesalahpahaman sehingga membuat keputusan yang bukan membantu, malah memperburuk. Sebagai contoh, seorang siswa mungkin mengalami kendala bukan dari mengontrol waktu belajarnya, namun karena tidak memiliki akses atau pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Jika asesmen digunakan sekadar melihat nilai, maka tentu ini tidak akan terselesaikan. Begitu juga seseorang yang memiliki masalah dalam memahami satu penjelasan saat belajar, akan sangat besar kemungkinan kesulitan memahami meski diulang tanpa mengenali penghalang utama siswa tersebut tidak paham. Dan asesmen sederhana melihat penguasaan materi siswa lebih tepat dijadikan tolok ukur dibandingkan semata melihat dari kehadiran dan keaktifan bertanya siswa, sebab siswa yang bertanya belum tentu siswa yang memahami materi. Penting juga mengenalkan dan menyadari apa tujuan asesmen yang dilakukan. Bagi para guru, ini dapat membantu proses efisiensi dalam kegiatan belajar-mengajar [4].

Ah, ada hal yang tak kalah penting untuk diketahui bahwa asesmen tidaklah harus berbentuk formal. Feedback merupakan bagian daripada asesmen informal yang bisa jadi sesederhana bagaimana respon balik pengalaman belajar anak-anak kita. Hal ini sejalan dengan teori Sadler (1989) yang dipopulerkan oleh Paul Black dan William (1998) dalam reviewnya berjudul “Inside The Black Box”.

 

Faktor-Faktor Penyebab Sulitnya Penyesuaian Asesmen

  1. Kebijakan yang Membebani

Salah satu alasan terbesar para guru kesulitan menyiapkan asesmen yang tepat adalah terkubur dengan banyaknya tugas administrasi dan limitasi kebijakan. Contoh keterbatasan kebijakan sekolah adalah larangan melakukan study tour yang sempat terjadi di Jawa Barat. Untuk lingkup lebih kecil, hambatannya karena ada tuntutan asesmen harus dalam bentuk angka yang mudah diserahkan. Terkadang juga kebijakan sekolah/pemerintah yang menyebabkan guru harus mengalokasikan terlalu banyak waktu untuk persiapan mengajar. Bukan hanya itu, dalam beberapa kasus guru terpaksa jadi “multitalenta”, seperti ikut kepanitiaan, yang dampaknya membuat waktu guru jadi semakin menyempit untuk melakukan penyesuaian asesmen.

2. Pandangan Orang Tua dan Masyarakat

Masih banyak pandangan di orang tua siswa dan masyarakat pada umumnya yang sekadar melihat performa seorang siswa berdasarkan nilai—yang sebetulnya cuma produk akhir dari proses belajar. Hal ini mengurangi apresiasi pada proses yang jauh lebih penting. Padahal nilai-nilai atau hasil akhir tidak selalu menunjukkan kemampuan murni seorang siswa.

3. Sistem Penilaian Tersedia dalam Angka

Sistem penilaian yang telah kita rasakan sejak SD hingga SMA semua dipenuhi dengan angka. Terkadang juga kita fokus dengan angka di akhir. Lupa bahwa selama proses selama satu semester terdapat hal-hal yang mungkin bisa diubah sehingga bisa lebih baik lagi hasil dari proses kegiatan belajar-mengajar. Memang tidak terelakkan bahwa sistem ini telah berjalan dan menjadi standard sistem penilaian yang ada dalam pendidikan kita. Namun, bukan berarti kita tidak boleh terus memberikan pendekatan alternatif. Guru perlu juga peduli lebih mendalam dari siswa-siswa yang diajarnya. Memang guru bukanlah pekerja keajaiban yang bisa mengubah semuanya menjadi baik dan ideal. Namun, guru bisa turut membantu memberikan pemahaman kepada para pemangku kebijakan dan orang tua siswa bahwa sistem penilaian yang ada saat ini tidaklah mencerminkan kualitas utuh seorang siswa, melainkan hanya satu variabel dari perjalanan panjang proses belajar siswa.

Contoh Kasus Asesmen Di Lingkup Akademia

Ada kejadian menarik terkait asesmen di Brown University, salah satu bagian Ivy League, Amerika Serikat. Salah satu profesor yang terkenal mengajar mata kuliah Ekonomi, Prof. Roberto Serrano melihat hasil ujian tengah semester para mahasiswa memiliki nilai rata-rata yang spektakuler, yaitu 95 dari 100. Padahal sebelumnya rata-rata nilai dalam kelas yang beliau ajaran berkisar 65-80 dengan jumlah pendaftar yang cukup sedikit.

Perbedaan ini salah satunya terjadi di saat Prof. Roberto mengizinkan mahasiswa untuk melakukan take-home exam pada midterm, dan saat melihat hasil nilai ini serta menyadari saat mengoreksi hasilnya merupakan hasil Generative AI (ChatGPT), Di waktu-waktu sebelum ujian akhir beliau menyesuaikan asesmen finalnya dengan melakukan tatap muka. Dan dari 90 mahasiswa, 18 mengundurkan diri dari kelas tersebut dan uniknya mereka yang mengundurkan diri adalah peraih nilai 100. Sedangkan sisa lanjutannya dapat dilihat dalam grafik di bawah ini:

(Midterm and Final test Scores Kelas ECON 1170 oleh Prof. Roberto Serrano. Sumber : Professor Roberto Serrano/Inside Higher Ed [3])
Bayangkan jika beliau tidak melakukan intervensi dalam perubahan melakukan asesmen di akhir memanfaatkan hasil asesmen tengah semesternya. Mungkin proses belajar yang sebenarnya tidak bisa terlihat hingga akhirnya mahasiswa pada dasarnya memalsukan hasil belajar yang nantinya mungkin dijadikan standard acuan menilai seseorang.

Setiap Dari Kita Berproses

Penting untuk disadari terlebih dahulu bahwa proses merupakan bagian yang tidak kalah penting dibanding nilai dalam proses belajar. Karena dalam asesmen yang baik fokus ada pada proses bagaimana membantu siswa belajar. Asesmen pada hakikatnya merupakan alat mengambil data yang membantu guru dan siswa untuk mengawasi dan melihat proses belajar.

Proses juga merupakan bagian dari setiap kita. Sebagai orang yang sudah lebih berumur maka ketika melihat ke belakang, kita perlu menyadari bahwa setiap kita berproses. Begitu juga dengan bagaimana kita harus memandang anak-anak didik alias siswa kita. Menjadi alamat red flag besar jika kita dapati siswa kita berhenti dalam berproses karena sejatinya mereka berada pada fase berproses. Memproses jati diri mereka, minat dan bakat mereka, menentukan keinginan dan proses mendewasakan diri mereka di jenjang SMA.

Teringat kembali bahwa hal ini juga sejalan dengan nilai Islam. Sering diceritakan kisah seorang pembunuh yang telah membunuh 99 orang dan ingin melakukan pertobatan. Dalam hadis yang cukup panjang dari Abu Sa’id al-Khudri riwayat Muslim:

كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ ‏.‏ فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ ‏.‏ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ ‏.‏ وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ ‏.‏ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ ‏.‏ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ ‏”

“Dahulu ada seseorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, lalu ia mencari para ulama di dunia (yang dapat menunjukkan kepadanya jalan menuju keselamatan). Ia diarahkan kepada seorang pemuka agama. Ia mendatangi pemuka agama itu dan menceritakan bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, lalu bertanya apakah ada kemungkinan pertobatannya diterima. Orang itu menjawab: “Tidak.” Ia pun membunuh orang itu juga, sehingga jumlah korbannya menjadi seratus. Kemudian ia bertanya tentang para ulama di bumi dan diarahkan kepada seorang cendekiawan; ia menceritakan bahwa ia telah membunuh seratus orang dan bertanya apakah ada kemungkinan pertobatannya diterima. Cendekiawan itu menjawab: “Ya; apa yang menghalangi dirimu dari pertobatan? Sebaiknya kau pergi ke negeri sekian dan sekian; di sana ada orang-orang yang tekun berdoa dan beribadah, dan kau pun beribadah bersama mereka; jangan kembali ke negerimu karena itu adalah negeri yang jahat (bagi kamu). Maka ia pun pergi, dan belum genap setengah perjalanan ia tempuh, kematian pun menjemputnya, dan terjadi perselisihan di antara para malaikat rahmat dan malaikat azab. Para malaikat rahmat berkata: “Orang ini datang kepada Allah dalam keadaan bertobat dan menyesal,” sedangkan para malaikat azab berkata: “Ia sama sekali tidak berbuat kebaikan.” Kemudian datanglah seorang malaikat lain dalam wujud manusia untuk memutuskan di antara mereka. Ia berkata: “Ukurlah tanah yang telah ia dekati.” Mereka mengukurnya dan mendapati bahwa ia lebih dekat ke tanah yang hendak ditujunya (tanah ketakwaan), sehingga para malaikat rahmat pun mengambil alihnya. Qatada berkata bahwa Hasan menceritakan kepadanya bahwa telah disampaikan kepada mereka bahwa ketika kematian mendekatinya, ia merangkak dengan dada (dan berhasil) masuk ke tanah rahmat.” [5]

Kisah tersebut memberikan pengajaran bahwa Islam pun mengedepankan proses dibandingkan hasil akhir. Kenapa? Karena jika sekadar produknya, dalam kisah tersebut pembunuh itu belum melakukan kebaikan apapun bahkan memiliki dosa membunuh 100 orang. Namun, proses dia berusaha menjadi baik, menjadi asbab dia meraih rahmat dari Allah. Islam mengajarkan kita juga untuk terus senantiasa melakukan hal dengan baik secara kontinyu. Dalam hadis riwayat Muslim yang mendorong kita senantiasa kontinu dan konsisten yang merupakan bagian dari proses:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Sebaik-baiknya amalan di sisi Allah adalah yang kontinu walaupun kecil.” [6]

Namun, bukan berarti hasil akhir tidak penting sama sekali. Seperti dalam sekolah asesmen nilai tetap penting digunakan karena maslahat dan manfaat yang besar untuk membantu berbagai hal.

Oleh dari itu, asesmen serta ujian tidak boleh sekadar kembali menjadi angka tertulis di secarik kertas. Penting untuk tiap-tiap elemen sekolah, siswa dan wali siswa untuk senantiasa memahami tujuan masing-masing asesmen dan terbiasa dengannya. Hal ini akhirnya dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala bisa menjadi penyebab bahwa kita memperlakukan anak-anak kita bukan sekadar sebagai angka, namun memang memahami mereka sebagai manusia utuh yang senantiasa berproses, dan dalam lingkup sekolah adalah mereka sedang dalam proses belajar.

 


 

REFERENSI:

[1] Puad, L. M. A. Z., & Ashton, K. (2021). Teachers’ views on classroom-based assessment: an exploratory study at an Islamic boarding school in Indonesia. Asia Pacific Journal of Education, 41(2), 253–265. https://doi.org/10.1080/02188791.2020.1761775

[2] O’Shea, Amanda. (2019) .Teachers’ Conceptions of Assessment for Learning: What are the Implications for Children?. Polish Journal of Education Studies 2019, Vol. II (LXXII) DOI: 10.2478/poljes-2019-0005.  https://scispace.com/pdf/teachers-conceptions-of-assessment-for-learning-what-are-the-2d1asp2frs.pdf

[3] https://www.businessinsider.com/brown-university-ai-cheating-scandal-2026-7

[4] Azis, Astuti (2015). Conceptions and Practices of Assessment: A Case of Teachers Representing Improvement Conception. TEFLIN Journal: A publication on the teaching and learning of English, v26 n2 p129-154 Jul 2015.  https://eric.ed.gov/?id=EJ1129290

[5] Sahih Muslim. Bab Taubat. HR Muslim 2766a.

[6] Sahih Muslim. HR Muslim 783b.

 

 

 

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *