Boarding School dan Dilema Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak

Dari tahun ke tahun, sekolah berasrama baik pesantren tradisional maupun pesantren modern selalu mendapat pertimbangan para orang tua sebagai pilihan tempat belajar untuk anak-anaknya. Dikutip dari dataloka.id, jumlah santri di Indonesia tahun 2025/2026 mencapai 1.378.687 orang. Biasanya para orang tua memilih sekolah berasrama (boarding school) karena lingkungannya lebih terjaga, pembentukan karakter yang lebih intensif, dan pengawasan yang lebih terarah.

Tidak sedikit pula yang berharap sistem di boarding school dapat membantu anak lebih mandiri, disiplin, dan bisa memperkuat pengetahuan dan praktik agamanya. Hal ini terjadi karena proses pendidikan berlangsung selama hampir sehari penuh. Para santri belajar di kelas di pagi hari hingga sore. Mereka juga bisa belajar melalui interaksi dengan guru atau musyrif. Para santri juga bisa belajar membiasakan diri untuk mandiri, melakukan pembiasaan ibadah, dan menjalani kehidupan sehari-hari bersama-sama.

 

Peran Orang Tua dalam Proses Pendidikan Anak

Namun, di balik kelebihan-kelebihan itu, ada pertanyaan yang jarang dibahas. Pertanyaan itu ialah: jika anak tinggal di asrama, di mana posisi orang tua dalam proses pendidikan mereka? Karena biasanya, anak-anak yang boarding, mereka akan berpisah dengan orang tuanya untuk waktu yang relatif lama. Beberapa boarding school membolehkan santri-santrinya pulang satu bulan sekali, yang lain mempunyai program pulang setiap satu semester. Bahkan, ada juga yang sangat ketat hingga membolehkan pulang hanya setahun sekali.

Waktu-waktu tersebut tentu terbilang lama bagi beberapa orang. Bisa saja jarak dan waktu perpisahan tersebut memberi dampak pada sang anak. Memang, orang tua dan anak masih bisa berkomunikasi melalui telepon karena biasanya hal ini tetap difasilitasi oleh sekolah. Orang tua juga masih diizinkan untuk menjenguk anaknya sesekali. Namun, hal itu pasti dirasa berbeda jika anak-anak dan orang tua bisa lebih sering duduk bersama untuk sekadar makan malam bareng keluarga atau sekadar berbincang santai di depan teras rumah di sore hari setiap akhir pekan di mana ayah atau ibu libur bekerja dan anak-anak tidak lagi ada kegiatan di sekolah. Anak bisa belajar hal-hal dasar dalam hidup dari orang terdekat di keluarganya. Peran orang tua akan lebih dirasakan oleh anaknya.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan anak memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan akademik maupun kepribadian anak. Studi yang dilakukan Ajeng Febriyani dan Agus Wahyudin (2016), misalnya, mengatakan bahwa lingkungan keluarga berpengaruh terhadap disiplin dan hasil belajar siswa. Temuan-temuan semacam ini mengingatkan kita bahwa pendidikan anak bukan semata-mata urusan sekolah.

Pandangan serupa juga dapat kita temukan di kalangan para pendidik muslim. Prof. Dr. H.M.D. Dahlan dan Dr. M.I. Soelaeman saat menyunting buku “Azas-azas Pendidikan Islam” karya Abdul Fattah Jalal menegaskan bahwa tanggung jawab utama pendidikan anak pada dasarnya berada di tangan orang tua. Lembaga pendidikan memang dapat membantu menjalankan sebagian proses tersebut, tetapi keterlibatan mereka tidak boleh menghilangkan atau mengurangi tanggung jawab yang dipikul kedua orang tua. Artinya, sekolah dapat menjadi mitra pendidikan, tetapi bukan pengganti peran keluarga.

 

Pentingnya Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua

Keluarga bisa berkolaborasi dengan sekolah untuk mencari keseimbangan peran dalam proses pendidikan anak. Jika mereka tetap ingin mencari boarding school, yang memberikan manfaat bagi pembentukan karakter, mereka bisa mempertimbangkan sekolah yang telah mengembangkan model pembelajaran di asrama, tetapi tidak sepenuhnya memisahkan anak dari lingkungan keluarganya untuk waktu yang terlalu lama. Sekolah berasrama dengan program pulang setiap akhir pekan, misalnya. Dengan model seperti ini, upaya keluarga dan sekolah dalam pendidikan yang intensif terhadap anak bisa lebih maksimal. Model ini juga akan membuat hubungan keluarga dan sekolah menjadi lebih hangat.

Para santri tinggal di asrama selama hari-hari sekolah sehingga mereka dapat mengikuti berbagai program pembinaan yang terstruktur di sana. Namun, pada akhir pekan mereka bisa berada di rumah untuk bertemu dengan keluarga dan membangun kedekatan dengan orang tua. Pola seperti ini memberi ruang bagi anak untuk belajar di lingkungan asrama sekaligus tetap merasakan kehangatan kehidupan keluarga secara rutin. Dengan pola ini, peran orang tua sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak bisa lebih terasa bagi sang anak. Ini juga bisa membuat hubungan emosional antara orang tua dan anak tetap terjalin dengan baik.

Pada akhirnya, pendidikan memang tidak bisa hanya melibatkan satu institusi. Keluarga memiliki tanggung jawab. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki peran tersendiri. Ketika keduanya dapat bekerja sama, proses pendidikan anak berpeluang besar berjalan dengan lebih baik. Karena pendidikan memang bukan hanya soal apa yang dipelajari di ruang kelas, tetapi juga tentang hubungan manusia yang membentuk karakter seorang anak sepanjang hidupnya.

*** *** ***

Referensi:

Febriyani, Ajeng., Wahyudin, Agus. 2016. KEPRIBADIAN SISWA DAN DISIPLIN BELAJAR SEBAGAI INTERVENING PENGARUH LINGKUNGAN KELUARGA DAN LINGKUNGAN SEKOLAH TERHADAP HASIL BELAJAR. Economic Education Analysis Journal 5 (3), 874-889.

Jalal, Abdul Fattah. 1988. Azas-azas Pendidikan Islam. Bandung: CV. Diponegoro.

Raka Maheswara. 2025, 25 Desember. Jumlah Santri di Indonesia pada 2025/2026. Diakses pada 28 April 2026, dari https://dataloka.id/humaniora/5003/jumlah-santri-di-indonesia-pada-2025-2026/

 

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *