Wahai Guru, Jangan Terlalu Membanggakan Diri Atas Kesuksesan Anak Didikmu

 “Lihat! Besarnya orang itu adalah hasil pendidikan saya!”

Kutipan tersebut ditulis oleh Dr. M.I. Soelaeman saat menyunting buku Azas-azas Pendidikan Islam karya Abdul Fattah Jalal. Beliau berpendapat kalimat tersebut haram diucapkan oleh para guru. Beliau mengecam guru-guru yang menganggap kesuksesan siswanya semata-mata karena didikannya. Padahal menurutnya, mendidik atau mengajar adalah upaya untuk mendekatkan anak didik kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Buku terbit pada 1988. Sayangnya, fenomena guru terlalu membanggakan siswa dan merasa pencapaian siswa adalah pencapaian dirinya kadang masih terjadi hari-hari ini. Beberapa oknum guru merasa bangga dengan anak didiknya yang lulus dengan nilai sangat baik, diterima di universitas favorit atau mendapatkan kesuksesan dunia lainnya. Mereka merasa seolah-olah nikmat tersebut berasal dari peran tunggalnya seorang. Tentu ini tidak bisa dibenarkan. Dan, perilaku ini berpotensi tergolong bentuk kesombongan yang termasuk dalam dosa besar.

Dalam Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi memasukkan sombong dalam daftar dosa-dosa besar yang membinasakan. Menyombongkan diri, takabur, ujub, dan angkuh ada di daftar nomor 15. Membacanya membuat kita merinding karena ancamannya tak main-main. Allah tak suka orang-orang yang sombong dan Dia akan memasukkan orang-orang yang sombong ke dalam neraka. Poin ini penting sebagai pengingat karena kadang kita lalai dalam urusan tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman ayat 18)

Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam menjelaskan yang dimaksud dengan sombong dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim.

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Maksudnya: “Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Dan, ancaman untuk orang-orang yang memiliki sifat sombong ini—walaupun sekecil biji sawi—adalah dihinakan di hari kiamat dan dimasukkan ke dalam neraka.

Allah berfirman,

قِيلَ ٱدْخُلُوٓا۟ أَبْوَٰبَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى ٱلْمُتَكَبِّرِينَ

Artinya: “Dikatakan (kepada mereka: ‘Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya’ Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”. (QS. Az-Zumar ayat 72)

Nabi Muhammad bersabda,

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ تَعْلُوهُمْ نَارُ الأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةِ الْخَبَالِ

Artinya: “Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan seperti semut kecil, di dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di dalam Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat panas akan membakar mereka. Mereka akan diminumi nanah penduduk neraka, yaitu thinatul khabal (lumpur kebinasaan).” (HR. Tirmidzi no. 2492)

Dalam hadis lain, Nabi Muhammad bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Maksudnya: “Tidak akan masuk syurga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di dalam hatinya.” (HR. Muslim no 2749)

 

Keberhasilan Siswa Bukan Peran Tunggal Seorang Guru

Ancaman tersebut seyogyanya dipahami seorang guru. Perkataan diumpamakan Dr. Soelaeman dikhawatirkan akan menjatuhkan orangnya ke dalam kesombongan yang mengantarkan orang tersebut ke neraka. Hal itu disebabkan orang-orang tersebut seakan menghilangkan peran-peran selain diri mereka. Padahal, sebagai muslim, kita tahu bahwa keberhasilan seseorang itu tidak mungkin berasal dari satu peran orang saja.

Pertama, boleh jadi seorang siswa berhasil karena memang dia orang yang tekun dalam hal yang dia minati. Dia berusaha dengan giat, misalnya, dengan mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik untk mencapai kesuksesan tersebut. Dia belajar dengan rajin dan berdoa kepada Allah agar memberinya taufik.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Rad ayat 11)

Kedua, peran orang tua juga sangat penting dalam keberhasilan anaknya. Nabi Muhammad bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Artinya: “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu: doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Daud no 1536)

Selain itu, ada juga peran dari guru-guru lain yang tidak bisa diabaikan dalam kesuksesan si anak. Guru-gurunya dari TK hingga SMA mungkin telah mengajarkannya tentang ketekunan. Boleh jadi beberapa dari mereka telah menginspirasinya untuk menjadi teguh dan istikamah dalam beramal. Barangkali, nasihat dan motivasi mereka menggetarkan hatinya untuk mengejar mimpinya. Doa-doa mereka sebagai pengganti orang tua selama di sekolah juga bisa jadi diijabah oleh Allah. Jadi, sangat memprihatinkan jika seorang guru merasa paling berjasa atas kesuksesan anak-anak didiknya.

Ketiga, harus selalu kita ingat bahwa setiap keberhasilan yang kita dapat adalah kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Allah rida dan menghendaki orang tersebut sukses.

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ

Artinya: “Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu.” (HR. Tirmidzi)

 

Nasihat untuk Para Guru

Seorang guru hendaknya mengetahui bahwa pekerjaannya adalah tugas yang mulia. Jangan sampai kemuliaan itu ternodai dengan perkataan-perkataan yang bisa menjerumuskan dia ke dalam kehinaan. Dibandingkan dengan mengucapkan hal-hal yang seakan menunjukkan kekaguman diri atas prestasi siswanya, akan lebih baik jika seorang guru mengucapkan kalimat syukur kepada Allah. Jika seorang guru merasa senang mendengar kabar anak didiknya sukses, maka hendaknya ia melakukan apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapatkan sesuatu yang beliau sukai.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ ‏”‏ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Artinya: “Ketika Rasulullah melihat (mendapatkan) sesuatu yang beliau sukai, beliau mengucapkan [Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihat] Segala puji hanya milik Allahyang dengan segala nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna.” (HR. Ibnu Majah no. 3803)

Seorang guru juga perlu ingat bahwasanya dia tidak bisa menjamin kesuksesan seorang siswa. Dalam mengajar, menurut Dr. Soelaeman, para pendidik perlu istikamah untuk selalu berpegang pada nilai-nilai Islam sambil selalu memohon doa agar dia dan para siswanya diberikan taufik dan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Teruslah ingat bahwa tugas guru adalah untuk membuat para siswa mengamalkan apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an surat Ar-Rad ayat 11 seperti disebutkan di atas. Guru-guru perlu menanamkan nilai positif yang membuat mereka mau mengubah keadaan dirinya menjadi lebih baik untuk kehidupannya di masa yang akan datang. Semoga dengan demikian, Pendidikan Islam melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.

 

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *