Merokok Jadi Simbol Kegelisahan

Merokok telah menjadi polemik dalam dunia kesehatan di abad ke-20. Aktivitas menghisap tembakau bercampur bahan kimia yang dibakar ini telah terbukti menjadi salah satu penyebab kematian lewat beragam penyakit yang ditimbulkannya. Pneumonia, impotensi, serta beragam potensi kanker menghantui para perokok aktif maupun pasif. Meski demikian masih banyak  pihak yang menganggap bahwa merokok adalah perbuatan bermanfaat terutama untuk ketenangan pikiran dan jiwa. Bagi pendukungnya, rokok dianggap sebagai saran untuk melepas stres setelah menghadapi tekanan pekerjaan.

Pandangan bahwa merokok dapat melepaskan stres ternyata tidak sepenuhnya salah. Merokok dianggap sebagai bentuk sikap seseorang yang sedang mengalami kegalauan atau memiliki konflik di dalam diri. Orang-orang yang sedang ditimpa kecemasan akan menjadikan rokok sebagai sarana untuk mengalihkan rasa cemasnya. Sementara yang bukan perokok akan melakukan tindakan lain sepert merapikan pakaian, mengetuk jari kaki, hingga menggigit kukunya sendiri. Perbedaannya terletak pada objek yang dibutuhkan untuk menghilangkan kecemasan tersebut. Ketika perokok tidak akan menemukan rasa tenang apabila tidak segera menemukan rokok untuk dihisap.

Dalam buku Kitab Bahasa Tubuh, Allan dan Barbara Pease menuliskan adanya relasi kebiasaan merokok dengan aktivitas seseorang ketika kecil. Telah ditemukan bahwa bayi yang terutama diberi susu botol mewakili sebagian besar perokok dewasa dan perokok berat, dan semakin lama bayi disusui langsung dari payudara sang ibu, semakin kecil peluangnya untuk menjadi perokok. Menurut Allan dan Barbara, bayi yang disusui menerima kenyamanan dan keterhubungan dari payudara yang tidak bisa didapatkan dari botol. Konsekuensi dari bayi yang diberi susu botol: ketika dewasa dia akan terus mencari kenyamanan dengan menghisap sesuatu. Dalam hal ini perokok menggunakan rokok untuk alasan yang sama dengan anak yang menghisap selimut atau ibu jarinya.

Perokok juga disebutkan memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar pernah terbiasa menghisap ibu jari saat kecil, dan penelitian menemukan bahwa mereka juga lebih neurotik dibandingkan orang yang tidak merokok. Mereka juga mengalami fiksasi mulut sehingga mempunyai kebiasaan-kebiasaan seperti menghisap gagang kacamta, menggigit kuku, menggigit pena, mengunyah-nguyah bibir maupun pensil.

Dapat dikatakan perokok sebenarnya sedang mempertontonkan situasi pada dirinya kepada orang lain di sekitarnya. Perokok membuka peluang orang lain untuk menilai bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Apakah dalam situasi cemas, takut, dan ragu ketika memutuskan sesuatu. Di tingkat pecandu rokok bahkan dianggap tidak bisa membuat keputusan dengan cepat tanpa melakukan ritual merokok terlebih dahulu. Hal tersebut menjadi celah dalam sebuah negosiasi bisnis, dimana kita dapat membuat seorang perokok memutuskan lebih cepat apabila pembicaraan dilakukan di ruangan dengan larangan merokok.

Perokok pecandu bukan satu-satunya jenis perokok. Sebab penulis menemukan realita adanya jenis perokok yang menghisap rokoknya hanya untuk kebutuhan sosial semata. Perokok sosial menjadi sebutan bagi orang yang merokok untuk menghadirkan kesan tertentu di hadapan orang lain. Perokok semacam ini hanya menghisap 20% batang rokok yang dibakarnya. Selebihnya rokok hanya menjadi penunjang aktivitasnya bergaul dengan sesama teman saja. Ketika momen bersendirian, perokok sosial bisa jadi tidak akan menghisap rokok sama sekali sebab merasa tidak ada kepentingan akan hal tersebut.

Kembali soal aktivitas merokok sebagai sarana melepas stres ternyata tidak terlalu efektif. Penelitian yang dilakukan oleh Andy Parrot dari University of East London melaporkan bahwa 80% perokok mengatakan stres mereka berkurang. Akan tetapi kadar stres dari perokok dewasa hanya sedikit lebih tinggi daripada bukan perokok, dan kadar stres meningkat ketika perokok mengembangkan kebiasaan merokok secara teratur. Parrot juga menemukan bahwa berhenti merokok sebenarnya mengarah ke berkurangnya stres. Hal tersebut tentu saja bertolak belakang dengan anggapan merokok dapat mengurangi kadar stres. Sebab ketergantungan terhadap nikotin (kandungan di dalam rokok) justru meningkatkan kadar stres.

Rokok dalam Bingkai Aturan Islam

Merokok tidak ada di zaman Nabi Muhammad shalallahualaihi wa sallam. Tembakau yang menjadi bahan baku utama rokok merupakan tanaman khas di dataran Amerika. Cara menikmati tembakau bisa dengan dihisap, dihirup, serta dikunyah. Inovasi untuk menempatkan tembakau ke gulungan kertaslah yang membuatnya jadi rokok. Rokok pun jadi cara baru menikmati tembakau sekitar abad ke-18. Mesin pembuat rokok pertama pun hadir pada tahun 1847 dibuat oleh Juan Nepomuceno Adorno dari Meksiko. Selanjutnya rokok menjadi primadona di abad 20 dibawa oleh para penjelajah menyebrangi samudera dan memperkenalkannya ke daratan Eropa.

Kehadiran rokok  jauh dari masa kenabian membuat perkara merokok kemudian menjadi pembahasan para ulama fuqoha belakangan. Di awal kehadirannya mereka melakukan penelitian mengenai kandungan dan sebab yang ditimbulkan dari rokok ini. Menurut Yusuf Al-Hajj Ahmad dalam Panduan Pengobatan islami, padangan fuqoha mengenai rokok dan aktivitas menghisapnya terbagi menjadi tiga: 1. Merokok itu haram. Mereka menulis esai dan melakukan penelitian yang mendukung pendapat ini dan disepakati oleh mayoritas dari merekam; 2. Merokok itu dibolehkan. Ini adalah pandangan yang dipegang oleh kempok minoritas; 3. Merokok itu makruh (tidak disukai).

Seiring waktu dan banyak penelitian justru membuktikan bahwa rokok memang sepertinya layak untuk dihukumi haram. Resiko kematian perokok berusia 35-69 tahun akan meningkat dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Merokok juga bertanggung jawab atas 90% kematian akibat kanker parur-paru di seluruh dunia. Itu mengambil bagian 30% dari keseluruhan kasus kanker. Belum lagi resiko pada janin bagi wanita yang merokok aktif hingga pasif terpapar asap rokoknya. Dr. Muhammad At-Tahami dari Universitas Ain Syams, mengatakan bahwa merokok memiliki pengaruh besar dalam menghancurkan vitalitas keremajaan kulit.

Merokok menyebabkan bahaya pada tubuh, pikiran, bahkan harta. Pecandu rokok dapat mengalami tiga masalah sekaligus dalam satu waktu. Akumulasi rokok dalam tubuh dapat menyebabkan penyakit, seperti batuk-batuk yang mengarah pada TBC. Merokok bahkan dapat menyebabkan penghitaman apapun yang terkena asapnya. Coba saja lihat rumah-rumah yang berisi para perokok.  Merokok juga dianggap bermewah-mewahan dan membuang-buang uang. Akumulasi keburukan tersebut membuat para ulama menarik kesimpulan haram, berdasarkan pada ayat Quran An-Anisa 29 (yang artinya), “… Dan janganlah kamu membunuh dirimu…”

Seminimalnya jika tidak ada kebaikan dalam rokok, maka seharusnya orang yang berakal sehat termotivasi untuk menghindarinya. Rasulullah shallahualaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (lada) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik  maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk maka buruklah seluruh tubh; ketahuilah bahwa dia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dimas Ronggo
[Magang di Ufukmedia.com]

 

Sumber Bacaan:

Yusuf Al-Hajj Ahmad. Panduan Pengobatan Islami.

Allan & Barabar Pease. Kitab Bahasa Tubuh, Memahami Orang Lain melalui Bahasa Tubuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *