Perpustakaan: Fasilitas Sekolah yang Kerap Diabaikan

Ketika membicarakan fasilitas sekolah, biasanya pikiran kita fokus pada sesuatu yang terlihat jelas dan terpampang di luar: gedung sekolah, lapangan, taman, kantin, dan semacamnya. Kita pun kerap terjatuh pada simplifikasi pandangan mata soal kualitas sekolah. Jika gedung sekolahnya besar, dengan tembok tinggi-menjulang serta arsitektur modern, maka segera terpasang di kepala kita kesimpulan bahwa sekolah tersebut pastilah bagus, keren, dan cocok untuk menumbuhkan siswa-siswa agar berprestasi.

Pertanyaan besarnya: Apakah betul fasilitas terbaik sekolah adalah yang terpampang seperti itu?

Secara mengejutkan—tapi tidak mengherankan—sebetulnya fasilitas terbaik sekolah bukanlah yang kelihatan dan cuma tampak besar serta megah di mata. Bukan gedung megah, taman yang menghampar indah, atau lapangan yang terbentang luas. Fasilitas terbaik dan terpenting yang harus ada di sekolah guna meningkatkan kualitas diri siswa secara umum—akademik, karakter, dan mental—adalah yang jarang orang perhatikan, yang teramat underrated, padahal itulah fasilitas yang semestinya menjadi tulang punggung suatu lembaga pendidikan. Fasilitas itu adalah, apalagi kalau bukan, perpustakaan.

Dalam kumpulan studi tentang perpustakaan sekolah oleh Michele Lonsdale berjudul Impact of School Libraries on Student Achievement, ia mengungkapkan beberapa kesimpulan penting terkait perpustakaan sekolah. Antara lain: 1) Program perpustakaan yang kuat yang ditopang oleh staf memadai, sumber daya yang cukup, serta pendanaan yang baik dapat meningkatkan prestasi siswa—bukan hanya siswa dari tingkat sosial-ekonomi, tertentu, tapi semua siswa!; 2) Kualitas koleksi perpustakaan memengaruhi pembelajaran siswa di sekolah; 3) Hasil nilai tes siswa biasanya lebih tinggi ketika penggunaan perpustakaan sekolah juga tinggi; 4) Lingkungan yang kaya akan bahan bacaan mendorong lebih banyak aktivitas membaca, dan membaca bebas atau secara sukarela adalah prediktor terbaik untuk pemahaman bacaan, pertumbuhan kosakata, ejaan, kemampuan tatabahasa, atau kualitas literasi siswa secara umum; dan 5) Perpustakaan dapat meningkatkan harga diri, kepercayaan diri, kemandirian, dan rasa tanggung jawab siswa terhadap proses belajar mereka sendiri.

Manfaat-manfaat itu adalah manfaat khas perpustakaan, yang tidak mungkin bisa kita dapatkan di fasilitas lain. Apakah gedung sekolah yang besar—sebagai contoh—bisa meningkatkan kualitas akademik siswa secara langsung? Tentu saja tidak, sebab informasi, wawasan, dan pengetahuan mendalam bisa masuk lewat aktivitas pembelajaran dan salah satu aktivitas pembelajaran paling efektif adalah membaca buku. Setahu saya, tidak ada pernah ada orang yang bisa menjadi pintar hanya karena setiap hari berada di dalam gedung yang betonnya kokoh dan pilar-pilarnya tinggi.

Tentu saja di sini saya tidak bermaksud untuk merendahkan manfaat fasilitas-fasilitas lain yang ada di sekolah. Fasilitas-fasilitas selain perpustakaan jelas punya manfaat masing-masing yang juga tidak bisa disepelekan. Akan tetapi, jika kita harus memilih dan jujur tentang fasilitas apa yang paling penting untuk dimiliki dan diutamakan oleh sekolah, rasanya sulit untuk menggeser perpustakaan. Bukan hanya karena alasan-alasan yang sudah disebutkan di atas, tapi karena perpustakaan adalah bagian integral dan pokok dari aktivitas pembelajaran—aktivitas paling utama dalam suatu sekolah. Suatu tempat bisa disebut sebagai sekolah jika di dalamya ada pengajar, siswa, dan bahan pembelajaran. Perpustakaan adalah intisari dari itu semua. Di dalamnya ada buku-buku tentang semua hal yang kita butuhkan sepanjang hidup di dunia. Mungkin berlebihan. Tapi perpustakaan yang ideal memang demikian. Sampai-sampai Jorge Luis Borges, sastrawan serbabisa Argentina yang pernah menjadi Direktur Perpustakaan Nasional Argentina, menulis dalam puisinya yang terkenal, “Poem of the Gifts”, baris-baris berikut:

I, who imagined Paradise

Under the figment of a library.

Ia membayangkan surga berwujud perpustakaan. Sebab memang sebegitu luas dan besarnya dampak dari sebuah perpustakaan. Ia bukan hanya menyediakan buku-buku, tapi juga pemikiran yang merentang luas, koleksi informasi yang banyak dan mendalam, serta di dalamnya termaktub sejarah panjang peradaban manusia. Menganggap perpustakaan sekadar sebagai “tempat berisi buku-buku” sama saja menyederhanakan persoalan. Perpustakaan lebih daripada itu. Perpustakaan adalah asal-muasal dari berbagai penemuan terbaik dalam peradaban manusia. Perpustakaan adalah saksi nyata munculnya orang-orang jenius yang mengubah dunia ke arah lebih cerah. Perpustakaan adalah teknologi paling menakjubkan yang pernah ada, yang tetap kita perlukan—bahkan makin kita perlukan—ketika teknologi-teknologi lain semakin canggih.

Sayangnya, perpustakaan memang belum banyak diacuhkan oleh orang-orang, terutama dalam konteks sekolah. Saya pernah menempuh pendidikan di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan perguruan tinggi. SD dan SMP saya adalah sekolah negeri. Saya tidak tahu apakah SD saya punya perpustakaan atau tidak—kalaupun punya rasanya tidak pernah disosialiasikan secara memadai kepada siswa. SMP saya punya perpustakaan, tapi itu bukan jenis perpustakaan yang menggembirakan. Saya beberapa kali ke sana. Isinya adalah beberapa koleksi jadul, buku-buku berdebu, dan petugas perpustakaan yang tampaknya tidak punya ketertarikan terhadap buku. Ketika saya kuliah, perpustakaan induk kampus saya juga biasa-biasa saja. Koleksinya tampak jarang diperbarui dan programnya tidak begitu semarak. Walaupun tempatnya cukup bagus dan nyaman.

Nah, pengalaman terbaik saya dengan perpustakaan sekolah adalah saat saya SMA. Saya bersyukur sekolah di SMA yang punya perhatian besar terhadap perpustakaan. Ketika mula-mula saya masuk ke SMA itu, perpustakaannya memang kecil dan sederhana (tidak usah heran, waktu saya masuk, sekolah tersebut baru berdiri tiga tahun). Namun, seiring waktu berlalu, perpustakaan tersebut semakin besar dan lengkap. Tempatnya juga nyaman. Di perpustakaan itulah saya membaca banyak buku yang menjadi saksi pergumulan awal saya dengan buku-buku. Dan perpustakaan di SMA semacam itulah yang saya bayangkan sebagai perpustakaan ideal, sebagai perpustakaan yang bisa menunjang pembelajaran siswa sekaligus memicu munculnya orang-orang besar kelak di masa mendatang.

Akhirulkalam, ada baiknya kita mulai memperhatikan eksistensi perpustakaan sekolah. Bahkan, perpustakaan sekolah bisa menjadi tolok ukur kualitas sekolah. Seberapa aktif program perpustakaan tersebut, seberapa baik petugas perpustakaan sekolah itu, seberapa nyaman ruang perpustakaan, dan seberapa lengkap koleksi perpustakaan sekolah—semua itu bisa menjadi ukuran yang patut untuk dicermati dalam menilai kualitas sekolah. Bukankah, dari berbagai fasilitas sekolah yang paling dekat dengan makna “pendidikan” adalah, perpustakaan?

 

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *