Tiga Kiat Menjaga Jarak Dari Riuhnya Jagat Digital

Saya hidup bersama buku-buku. Setiap hari saya memandangi tubuh buku-buku, judul dan nama penulis yang tercantum di badan buku, dan hal-hal apa pun yang berhubungan dengan buku—artikel, grafis, maupun video. Salah satu topik yang saya sukai soal buku adalah kehidupan para penulis, terutama penulis yang sanggup menulis buku-buku tebal dan berjilid-jilid. Sebutlah Ibnu Jarir ath-Thabari yang menulis Jami’ul-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Tarikh ar-Rusul wal-Muluk, serta sejumlah kitab lain yang jika dikumpulkan dalam satu tumpukan bisa setinggi puluhan meter. Atau Marcel Proust yang menulis À la recherche du temps perdu, sebuah novel bergaya arus kesadaran yang ditulis dalam tujuh jilid. Setiap kali saya membaca kisah-kisah teladan para penulis produktif itu, saya tertunduk malu sekaligus bertanya-tanya: bagaimana mungkin mereka sanggup menulis buku-buku tebal? Seluang itukah waktu mereka? Apakah mereka tidak scrolling medsos? Apakah mereka tidak sibuk balas chat dan komen? Apakah mereka tidak mengikuti kasus viral terbaru?

Sejenak saya menyadari, sebagian besar buku-buku tebal yang penting dan komprehensif ditulis pada masa-masa telah lampau, pada zaman ketika konten video-video pendek belum ada dan kecerdasan buatan cuma angan-angan para pengarang fiksi ilmiah. Asumsi saya mungkin keliru atau terlalu menyederhanakan persoalan. Tapi bagian yang ingin saya garisbawahi adalah: bisakah kita—orang-orang yang hidup di zaman serbadigital ini—meniru mereka? Paling tidak, dalam hal memanfaatkan waktu untuk melakukan hal-hal lebih berguna ketimbang menggulirkan layar ponsel tanpa kendali.

Saya tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin perlu riset mendalam untuk menganalisis akar persoalan, gambaran besar, serta solusi terbaiknya. Namun tulisan ini memang tidak dibuat untuk memberikan semacam pencerahan solutif yang dapat membuat anda, duhai pembaca, langsung bisa merasakan kehidupan yang lebih baik dan terlepas dari jerat-jerat toksik internet. Saya hanya akan menjabarkan tiga kiat sederhana guna menjaga diri dari berlebih-lebihan membuang waktu di jagat digital. Selain itu, untuk menyuntikkan nilai keislaman, saya menyisipkan beberapa teks hadis dari Al-Arba’in an-Nawawiyyah yang relevan dengan pembahasan. Hadis-hadis dalam buku tipis karangan Imam an-Nawawi itu secara menakjubkan memang bisa cocok dengan banyak topik. Tulisan ini saya tujukan untuk siapa saja, tak terikat agama dan bangsa. Tapi, saya kira tak ada salahnya mencantumkan beberapa teks keagamaan, terutama kalau memang teks-teks itu nyambung dan berguna untuk direnungi.

 

Kiat Pertama: Mengurangi Waktu Online Secara Sadar

Menurut laporan We Are Social dan Meltwater per Oktober 2025, warganet Indonesia menghabiskan 21 jam 50 menit per pekan atau sekitar 3 jam per hari untuk online, dengan sebagian besar dihabiskan di platform WhatsApp dan TikTok. Tiga jam itu bukan waktu yang sedikit. Itu setara dengan perjalanan naik mobil dari Jakarta ke Bandung, baca 2 juz Al-Qur’an secara tartil, dan nyuci 40 potong pakaian secara manual. Singkatnya, tiga jam itu waktu yang panjang dan sepanjang itulah waktu kita habiskan sehari-hari untuk berinternet.

Seringkali kita online tanpa kendali. Niat hati ingin ngecek 1-2 reels, eh keterusan jadi nonton puluhan reels yang tidak menambah apa-apa selain kepenatan di kepala dan kehampaan di dada. Niat hati ingin sekadar balas chat teman, eh keterusan jadi nyimak pergunjingan di grup yang tak jelas juntrungannya. Niat hati ingin baca artikel yang dibagikan oleh teman Facebook, eh belum selesai baca artikelnya, malah asyik nyimak perdebatan dua orang anonim di kolom komentar yang sebetulnya cuma asbun.

Demikianlah waktu kita berlalu. Tiba-tiba kita menua. Tiba-tiba kita tepekur. Tiba-tiba kita menyesal, ingin memutar ulang waktu, tapi kita tahu belaka, waktu yang sudah lewat tidak akan pernah kembali—walaupun hanya sesaat.

Di titik inilah kita perlu ambil kendali. Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari gadget, entah karena ada keperluan yang berkaitan dengan kerjaan sehari-hari ataupun karena itulah media bertukar kabar dengan saudara dan rekan sejawat. Tentu saja tak apa-apa bermain gadget, berselancar di peramban, bermedsos ria, atau nanya-nanya random ke AI termutakhir. Namun, ada satu hal yang ada baiknya kita perhatikan: kendali diri dan kesadaran. Apakah ketika kita ngescroll satu postingan ke postingan lain, kita melakukannya secara sadar dan terencana? Atau jangan-jangan karena kebiasaan dan tanpa tujuan tertentu?

Nah, bagian itulah yang perlu kita kendalikan. Praktiknya sederhana saja. Tak perlu muluk-muluk. Pelan-pelan. Misalnya, bisa dimulai dengan cara mengurangi waktu berinternet. Jika biasanya screen time kita 3 jam sehari, kurangilah jadi 2 jam, alihkan waktu 1 jam itu untuk hal lain yang berfaedah. Misalnya: baca buku, menyiram tanaman, olahraga, mengerjakan soal matematika, membersihkan rumah, atau ya tidur pun tak apa-apa.

Yang penting, kita memegang kendali penuh atas waktu yang kita habiskan untuk berinternet. Kita berinternet dengan penuh kesadaran, bukan diombang-ambingkan oleh algoritma yang kadang menjauhkan kita dari apa yang sebenarnya sedang kita cari dan butuhkan. Dengan kesadaran, kita sudah satu langkah lebih maju dari semua orang yang melakukan hal-hal tanpa sadar.

Dan soal penggunaan waktu, ada banyak kutipan hikmah yang patut dijadikan renungan. Satu hadis riwayat At-Tirmidzi yang tercantum dalam Al-Arba’in an-Nawawiyyah nomor 12 ini cocok untuk diangkat:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara ciri kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.”

 

Kiat Kedua: Berinteraksi dengan Manusia Tanpa Distraksi

Temuan Maximillian Monninger dkk. yang diterbitkan Nature pada 2023 menyuguhkan fakta menarik. Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa interaksi sosial secara riil atau tatap muka memiliki korelasi positif dengan kebahagiaan seseorang. Sebaliknya, interaksi online tidak berdampak apa-apa terhadap kebahagiaan penggunanya. Memang penelitian tersebut berfokus pada masa COVID-19 berlangsung. Dan memang juga ada penelitian lain yang menjelaskan bahwa interaksi online tidak sepenuhnya buruk. Namun secara umum kualitas emosional interaksi tatap muka lebih kuat daripada interaksi online. Sebab lewat tatap muka, kita bukan hanya bisa membaca atau mendengar tulisan/perkataan seseorang, tapi juga bisa melihat ekspresi dan gerak-geriknya, mendengar suaranya secara langsung, menghidu aroma, dan merasakan eksistensinya secara riil di depan mata.

Beberapa tahun belakangan saya—dan mungkin juga anda, duhai pembaca—memperhatikan perbedaan mencolok dalam interaksi orang-orang di dunia nyata. Dulu, paling tidak sepuluh tahun silam, jika ada dua orang atau lebih di suatu tempat mengatur pertemuan, yang sepenuhnya mereka lakukan adalah bercakap-cakap, saling menatap, saling mendengar, sesekali mungkin mencicip sajian di atas meja, pokoknya fokus terbesar yang mereka curahkan adalah untuk orang-orang yang ada di dalam forum itu. Sementara akhir-akhir ini—mohon koreksi jika saya salah—tak banyak forum pertemuan yang produktif dengan interaksi nyata. Orang-orang memang bercakap-cakap, tapi sebentar-sebentar diselingi dengan menengok ponsel masing-masing, kadang malah waktu yang dihabiskan untuk mengecek ponsel lebih banyak daripada waktu yang dihabiskan untuk bercakap-cakap dengan lawan bicara di depan mata. Bahkan dalam forum resmi seperti rapat kerja atau acara pengajian/kuliah, tak jarang perhatian orang lebih tercurah pada muka-muka tak dikenal di layar ponsel ketimbang kepada wajah-wajah orang yang mereka kenali secara riil yang sedang bicara di hadapan mereka.

Apakah ini sesuatu yang buruk? Mungkin tidak sesederhana itu. Mungkin ada banyak faktor kenapa orang-orang tetap membuka ponsel ketika sedang bertemu dengan orang lain di dunia nyata. Mungkin dinamika sosial era kiwarilah yang menuntut kita untuk terus dekat dengan ponsel, untuk terus membuka aplikasi pesan, untuk terus menggulir media sosial. Mungkin juga kebanyakan pertemuan itu tidak menarik dan para pembicaranya juga tidak menarik. Ya, memang ada banyak kemungkinan.

Namun menjaga kualitas interaksi nyata tetap perlu dikedepankan. Bagaimanapun, manusia tidak lahir dari casing hape, tapi dari rahim ibu yang nyata. Pada tahun-tahun awal kita hidup di muka bumi, saat kita masih bayi dan baru belajar segala hal, kenyataan adalah yang ada di depan mata kita, yang berada di luar layar, yang bisa kita sentuh, hidu, lihat, dengar, dan rasakan. Ada sejarah panjang antara manusia dan interaksi nyata yang tak bisa diputuskan begitu saja hanya karena teknologi semakin canggih. Lagi pula, hardware-hardware yang menjadi pondasi teknologi digital itu dibuat oleh orang-orang nyata di dunia nyata dengan benda-benda nyata! Sekian alasan itu agaknya sudah cukup untuk menunjukkan bahwa interaksi nyata masih kita perlukan dan perlu terus kita jaga.

Kendati demikian, interaksi nyata punya aturan-aturan dan logika-logikanya sendiri. Meskipun kita tetap menjaga interaksi nyata, bukan berarti bisa seenaknya sehingga menghasilkan hubungan yang toksik. Meskipun interaksi nyata lebih utama daripada interaksi online, jika ada toksiknya tetap saja membawa dampak tak enak. Dalam menjalin interaksi nyata, satu hadis riwayat At-Tirmidzi dan Ahmad yang tercantum dalam Al-Arba’in an-Nawawiyyah nomor 18 layak dijadikan pegangan:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapus keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”

 

Kiat Ketiga: Berjalan ke Luar Rumah, Bepergian Mencari Berkah

Dalam artikel “More at home, more alone? Youth, digital media and the everyday use of time and space” yang terbit di Jurnal Geoforum Vol. 100, Maret 2019, disebutkan bahwa pengguna media digital tingkat berat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, melakukan lebih banyak aktivitas sendirian, dan jarang bepergian. Penelitian itu memang secara spesifik hanya mencakup responden remaja-dewasa berusia 15-24 tahun. Namun, mengingat rentang usia tersebut lah masa ketika seseorang sedang melalui waktu produktifnya, penelitian itu masih bisa diangkat lebih lanjut untuk membahas pengguna media digital dalam lingkup lebih luas.

Berada di dalam rumah tidak memberikan kita banyak pilihan aktivitas, apalagi bagi orang-orang yang tinggal di rumah sederhana yang secara ukuran dan fasilitas relatif terbatas. Dan sebagian besar orang Indonesia adalah orang-orang yang tinggal di rumah serba terbatas itu. Dengan segala keterbatasan itu, gadget dengan beragam variannya—ponsel, tablet, laptop, hingga personal computer—seringkali menjadi opsi yang dipilih banyak orang untuk melewati waktu di rumah. Sebab dalam sebuah gadget berisi banyak fitur: kamera, aplikasi pesan, game, media sosial, mesin perambah, dan sejumlah fitur lain yang mungkin merupakan fitur-fitur termewah dalam rumah orang-orang biasa. Walaupun, ya, harus diakui, kelengkapan fitur dalam gadget kerap kali tipuan belaka. Memang ada banyak fitur dalam sebuah gadget, tapi dalam banyak kasus fitur yang biasanya diakses oleh para pengguna itu-itu saja; entah bermedsos sepanjang hari, nonton konten brain rot sampai mentok, atau chatan tiada habisnya. Alhasil fitur-fitur lain yang lebih berguna sekadar menjadi pajangan, kalah populer oleh fitur-fitur berorientasi hiburan.

Dengan fakta bahwa lebih banyak berdiam di rumah membuat kita lebih banyak mengakses media digital, alangkah baiknya kita menyiasati diri dengan memperbanyak aktivitas di luar rumah. Bisa dengan berolahraga di luar ruangan, jalan-jalan berkendara tanpa bantuan Google Maps, atau bepergian mencari tempat-tempat pengajian terdekat. Aktivitas-aktivitas luar rumah itu bukan hanya merekatkan ikatan kita dengan dunia nyata, tapi juga sebagai cara ampuh membatasi diri dari paparan jagat digital. Tentu dengan catatan: ketika di luar rumah, harus menjauhkan diri dari paparan digital sebisa mungkin.

Memang memperbanyak berkegiatan di luar rumah dan membatasi diri dari paparan digital tidak lantas membuat kita jadi lebih produktif. Namun, di masa saat cengkeraman dunia luar—terutama dunia-dunia kecil di layar gadget kita—begitu kuat dan kasar, kesadaran diri untuk “melawan” kebiasaan adalah sesuatu yang patut untuk dilantangkan. Jika biasanya berada di dalam rumah membikin kita kelamaan bermedsos, maka keluar rumahlah dan raihlah hal-hal yang memiliki nilai guna lebih praktis dan realistis. Jika biasanya bermain ponsel memiliki kecenderungan dengan kesia-siaan, maka kurangilah waktu bermainnya atau milikilah kesadaran lebih tinggi ketika menggunakannya.

Aktivitas di luar rumah mengharuskan kita terhubung lebih intens dengan apa-apa yang ada di sekeliling kita. Jika kita berjalan kaki keliling kompleks, sebagai contoh, koneksi kita terhadap para tetangga, bangunan-bangunan yang berdiri sepanjang jalan, atau pohon-pohon yang tumbuh di tepi jalan menjadi lebih hidup. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita peroleh jika kita hanya memasang mata kita terpaku pada layar ponsel. Atau jika kita mengikuti pengajian di sebuah masjid, sebagai contoh lain, kita turut merasakan atmosfer lebih besar daripada sekadar mengikuti pengajian online. Kita jadi mendapatkan konteks lebih luas, penjelasan lebih dalam, dan keterikatan yang lebih kuat dengan para jamaah lain maupun dengan ustaz pengisi materi kajian tersebut. Hal-hal semacam inilah yang merupakan kemewahan dunia nyata yang tidak dimiliki dunia digital.

Sebagaimana dalam dua kiat sebelumnya, kiat ketiga sekaligus terakhir ini juga punya sandaran hadisnya dalam Al-Arba’in an-Nawawiyyah, tepatnya potongan hadis nomor 36 berikut:

مَنْ سَلَكَ طَريقَاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

 

Demikianlah tiga kiat sederhana yang bisa segera kita praktikkan untuk menjaga jarak dari riuh dan keruhnya jagat digital. Tentu saja kiat-kiat tersebut tidak pasti mujarab bagi setiap orang yang melakukannya. Kiat-kiat yang saya tulis di sini hanyalah opsional, yang bisa saja belum tentu tepat bagi sebagian orang. Dan sebagaimana umumnya tulisan, apa-apa yang tertulis di sini bisa saja salah atau kurang lengkap. Saya akan senang sekali jika ada yang mau mengoreksi atau menambahkan tulisan ini. Sebab sebuah tulisan tak lain adalah pelengkap tulisan-tulisan terdahulu. Begitu pula tulisan ini, hanya melengkapi tulisan-tulisan sejenis yang pernah ada, dengan sejumlah tambahan dan penyesuaian, karena dunia terus berubah-ubah, dan penyesuaian-penyesuaian perlu terus dilakukan secara berkesinambungan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *