Yang Terpenting Bukan Seberapa Banyak Teman Kita

Siapa di antara kita yang tidak perlu berteman? Barangkali tidak ada orang di dunia ini yang tidak butuh teman. Kalaupun ada, tentu itu ada kasus ekstrem, sesuatu yang jarang terjadi, dan karena itu bukan hal yang cocok untuk dipegang untuk menjadi pandangan umum. Dengan kata lain, pada dasarnya semua orang—setidaknya orang-orang pada umumnya—butuh berteman. Kebutuhan untuk memiliki teman bukan sekadar pilihan sosial, melainkan sebuah fitrah. Manusia secara alamiah memiliki dorongan untuk berinteraksi, membangun relasi, dan hidup dalam jejaring sosial. Manusia bukanlah makhluk soliter yang hidup sendirian. Karena itu, Al-Qur’an menegaskan dimensi sosial tersebut dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa li ta‘arafu (agar saling mengenal). Ayat itu mengindikasikan bahwa keberagaman dan perbedaan adalah sarana interaksi, bukan alasan untuk bermusuhan.

Namun, dari fakta di atas bahwa manusia adalah makhluk sosial, tidak otomatis berarti semua relasi yang ada itu sehat. Kebutuhan berteman adalah fitrah, tetapi kualitas pertemanan adalah pilihan individual. Di sinilah letak kedewasaan kita diuji. Tidak semua orang yang kita kenal itu layak menjadi teman dekat. Ungkapan yang mengatakan “berkenalanlah dengan semua orang, tetapi tidak semuanya untuk dijadikan teman” bukan sikap ekskluvifitas, akan tetapi itu adalah prinsip kehati-hatian.

Rasulullah SAW menekankan urgensi selektivitas dalam pergaulan khususnya berteman. Dalam hadis riwayat Sunan Abu Dawud no. 4833, beliau bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang ia jadikan teman dekat.

Hadis ini bukan sekadar nasihat moral yang alakadarnya. Hadis ini adalah pernyataan psikologis yang tajam. “Din” di sini bukan hanya agama secara formal, tetapi juga sistem nilai, cara berpikir, dan orientasi hidup. Artinya, karakter seseorang sangat dapat dipengaruhi oleh lingkaran terdekatnya. Jika lingkaran sekitarnya permisif terhadap maksiat, maka standar moralnya perlahan akan bergeser, dan jika lingkaran sekitarnya disiplin dan berorientasi akhirat, maka ia pun akan terdorong ke arah yang sama.

Oleh karena itu, berteman adalah perkara krusial dalam kehidupan seseorang. Salah memilih teman dapat menggerus nilai-nilai yang telah dibangun bertahun-tahun oleh orang tua dan pendidikan seseorang. Banyak kasus menunjukkan bagaimana seseorang yang awalnya baik-baik saja, bahkan dulunya bersekolah di pesantren dan menjalani kehidupan yang relatif lancar, malah akhirnya terjerumus dalam kebiasaan-kebiasaaan buruk seperti merokok, konsumsi alkohol, narkoba, judi, pacaran, main perempuan dan perilaku menyimpang lainnya, hal ini bukan karena kurangnya pengetahuan terkait agama, tetapi itu terjadi karena tekanan sosial dan kebutuhan akan penerimaan yang ada dalam kelompok pertemanannya. Namun, mekanisme yang sama juga bekerja dalam arah yang positif. Seseorang yang ingin bertaubat dan memperbaiki diri tidak cukup hanya dengan niat pribadi. Ia harus mengganti ekosistem sosialnya. Lingkungan baru dengan standar moral yang sehat akan mempercepat proses perubahan. Inilah yang ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali:

Bergaul dengan orang-orang buruk akan menularkan keburukan, sebagaimana bergaul dengan orang-orang baik akan menularkan kebaikan.”

Pernyataan ini bukan retorika spiritual semata. Dalam perspektif neuroscience modern dikenal konsep mirror neurons yaitu sel saraf yang aktif meng-copy,  ketika seseorang melakukan suatu tindakan maupun ketika ia menyaksikan orang lain melakukannya. Mekanisme ini menjelaskan mengapa manusia mudah meniru, berempati, dan menyerap pola perilaku dari lingkungannya. Secara biologis, kita “dirancang” untuk mereplikasi atau menyalin apa yang sering kita lihat. Maka, jika yang dilihat adalah kebiasaan buruk, jangan heran jika perilaku itu lambat laun menjadi hal yang normal dalam mindset kita. Konsep ini sekaligus menguatkan prinsip uswah hasanah dalam pendidikan Islam, di mana keteladanan lebih efektif daripada sekadar instruksi verbal. Dan dalam konteks pertemanan, teman adalah figur teladan informal yang pengaruhnya sering kali lebih kuat daripada guru atau orang tua.

Rasulullah SAW juga menggambarkan dampak pertemanan melalui perumpamaan yang sangat konkret. Dalam hadis riwayat al-Bukhari no. 5534, dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ

Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi, bisa jadi ia memberimu minyak wangi, atau engkau membeli darinya, atau minimal engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap.

Perhatikan struktur logika yang ada dalam hadis tersebut. Konsekuensinya adalah bahkan dalam skenario terburuk bersama teman yang baik, kita akan tetap mendapatkan manfaat minimal berupa “aroma harum”. Sebaliknya, dalam skenario paling ringan bersama teman yang buruk, kita akan tetap terdampak negatif, meskipun hanya sebatas “bau tak sedap”. Artinya, efek ruang lingkup pertemanan yang baik akan selalu menghasilkan hal yang positif, sedangkan efek ruang lingkup pertemanan yang buruk akan selalu mengahasilkan hal yang negatif.

Kesimpulannya adalah, saat ini berteman bukanlah tentang seberapa banyak teman kita, akan tetapi seberapa berkualitasnya teman-teman kita. Semakin baik agamanya, akhlak-adabnya, ambisinya, cita-citanya, maka akan semakin besar juga kemungkinan kita mendapatkan arah perubahan ke arah yang lebih baik. Tentu dengan catatan besar yang perlu kita camkan: sembari mencari teman dan lingkungan yang baik, kita juga harus memastikan diri untuk senantiasa memperbaiki diri. Sebab pada dasarnya teman pertama dan utama kita adalah diri kita sendiri, bukan?

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *