Fenomena War Takjil dan Pentingnya Berdoa Menjelang Buka Puasa

Fenomena “war takjil” telah menjadi salah satu warna khas saban bulan Ramadan tiba di Indonesia. Istilah ini merujuk pada aktivitas berburu makanan berbuka yang kini semakin masif dan meriah. Sebenarnya, budaya ini bukan sesuatu yang benar-benar baru. Dahulu kita mengenal istilah ngabuburit, yang berasal dari frasa bahasa Sunda “ngalantung ngadagoan burit” yang artinya bersantai menunggu waktu sore atau petang. Pada masa lalu, ngabuburit identik dengan suasana yang sederhana seperti membantu menyiapkan kolak dan gorengan di rumah, berbincang ringan bersama keluarga, atau menunggu azan Maghrib dari televisi. Aktivitasnya tenang, ritmenya pelan, dan suasananya intim.

Namun dinamika sosial mengubah potret itu. Kini ngabuburit hadir dalam bentuk yang lebih variatif. Banyak sekali pilihannya: ada jalan-jalan sore santai (JJSS), olahraga ringan, hingga berburu kuliner musiman. Seiring dengan itu lapak yang menjajakan takjil, baik berupa makanan ringan maupun berat untuk berbuka puasa, kian menjamur. Alhasil dari perpaduan itu muncullah istilah “war takjil” yang menggambarkan suasana penuh antusiasme, bahkan kompetitif, dalam mendapatkan hidangan berbuka. Menariknya, fenomena ini tidak hanya diikuti oleh kaum muslimin. Bahkan sebagian non-muslim pun ikut berburu takjil. Hal ini disebabkan beberapa hal: ada yang sekadar ingin merasakan atmosfer Ramadan, dan ada pula yang memang menyukai hidangan khas yang hanya muncul setahun sekali di momen Ramadhan. Dari sisi sosial dan ekonomi, ini menunjukkan bahwa Ramadan memiliki daya tarik kultural yang luas. Ramadan bukan hanya soal ritual ibadah, tetapi juga peristiwa sosial.

Titik Kritis yang Perlu Diperhatikan

Kendati kesemarakan Ramadan yang berdampak luas secara sosial dan ekonomi perlu disyukuri, ada titik kritis yang perlu diperhatikan, yaitu soal bagaimana kita—wabilkhusus umat Islam—bersikap terhadap bulan Ramadan.

Berbagai semarak dan keseruan yang ada sepanjang bulan Ramadan tidak boleh mengaburkan esensi ibadahnya. Ibadah utama di bulan Ramadan, yaitu puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus hingga waktu magrib. Ia adalah ibadah yang secara eksplisit ditujukan untuk meraih rida Allah dan membentuk ketakwaan kita sebagai pelakunya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an pada Surat Al-Baqarah ayat 183—yang mungkin sering kita dengar terlantun akhir-akhir ini: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Artinya, puasa adalah latihan pengendalian diri secara menyeluruh, mulai dari menahan lapar, haus, amarah, syahwat, hingga dorongan-dorongan impulsif lainnya. Sebuah ironi apabila seorang muslim berhasil menahan diri selama hampir empat belas jam, tetapi justru kehilangan pahala di pengujung hari karena emosi saat “war takjil”, candaan yang melampaui batas, atau aktivitas pacaran berkedok ngabuburit. Itu seperti seorang pelari maraton yang sudah menempuh ribuan meter penuh dengan peluh, tetapi berhenti tepat sebelum melewati garis finis.

Oleh karenanya, demi menyiasati momen jelang berbuka puasa yang kerap kali membuat kita jadi lalai, ada baiknya ketika merenungi satu waktu penting. Waktu tersebut adalah pengujung hari ketika kita berpuasa, di mana ada satu momentum krusial yang sering terabaikan, yaitu berdoa sebelum berbuka. Menjelang magrib kondisi spiritual seorang muslim berada pada titik yang serba krusial: laparnya melemahkan fisik, hausnya melunakkan ego, dan penantian sepanjang harinya menumbuhkan rasa ketergantungan yang lebih jujur kepada Allah. Dalam psikologi spiritual, keadaan ini disebut kondisi heightened receptivity, yaitu ketika hati lebih terbuka, lebih rendah, dan lebih tulus.

Ada sebuah hadis:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ.

Artinya: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua, doa orang yang berpuasa, dan doa orang yang sedang safar.”

Para ulama menjelaskan bahwa mustajabnya doa orang yang berpuasa berkaitan dengan kondisi penghambaan yang mencapai puncaknya yaitu lemah secara fisik, tetapi kuat dalam harapan atau; kosong secara jasmani, tetapi penuh secara ruhani. Tentu itu sangat masuk akal. Selama sehari penuh seseorang telah membuktikan komitmennya untuk taat, ia menahan diri bukan karena tidak mampu makan, tetapi karena memilih untuk tidak makan demi Allah, dan menahan hal-hal lainnya yang normalnya di bulan selain bulan puasa bisa ia lakukan. Konsistensi ini pada akhirnya menciptakan legitimasi spiritual atau sebuah kedekatan eksistensial yang tidak muncul dalam keadaan biasa, sehingga berdoa pada kondisi ini menjadikan doa kita akan lebih “terkoneksi” dengan Allah SWT dan dibantu juga dengan rasa penghambaan karena ketidakberdayaan kita.

Ironisnya, detik-detik emas ini justru sering habis untuk memotret hidangan, menggulir media sosial, membuat konten “menu berbuka hari ini”, atau bercakap tanpa arah. Jika waktu yang secara eksplisit disebut mustajab saja diabaikan, maka itu bukan sekadar kelalaian atau “kekhilafan”, akan tetapi itu adalah kegagalan dalam memahami prioritas. Bayangkan seorang investor yang diberi tahu bahwa dalam lima menit ke depan pasar akan memberikan keuntungan pasti, tetapi ia justru sibuk mengobrol dan melewatkannya. Secara spiritual, itulah yang terjadi ketika kita mengabaikan doa menjelang berbuka.

Oleh sebab demikian, marilah kita lebih maksimalkan lagi momen-momen sebelum azan magrib berkumandang di bulan Ramadan. Berhentilah sebentar, taruh HP kita, stop obrolan-obrolan. Mari kita angkat tangan kita menengadah ke langit, lalu mulailah dengan meminta ampunan kepada Allah, keteguhan iman, keberkahan keluarga, rezeki yang halal, dan akhir kehidupan yang husnul khatimah. Jangan biarkan puasa Ramadan tahun ini berlalu sebagai sekadar festival kuliner tahunan. “War takjil” boleh saja meriah, pasar ramadan boleh saja ramai, tapi jangan sampai yang kita menangkan hanya makanan di tangan, sementara kita kehilangan kemenangan yang lebih besar yaitu diterimanya doa dan sempurnanya pahala puasa. Karena pada akhirnya, yang dinilai bukan seberapa banyak takjil yang kita dapatkan, tetapi seberapa dalam ketakwaan yang berhasil kita bangun di bulan puasa ini.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *