Lima Alasan Mengapa Para Ustaz Sebaiknya Menulis

Sebagai pedagang buku dan orang yang suka nulis, mau tak mau saya berhadapan dengan tulisan setiap hari. Berbagai jenis tulisan. Dari tulisan fiktif yang dirancang seolah-olah kisah nyata dengan sentuhan AI di media sosial, esai pendek di blog, hingga kajian ilmiah dalam satu buku tebal. Sebagian tulisan-tulisan tersebut sangat bagus sampai-sampai saya ingin menyalami penulisnya, sebagian lain begitu buruk hingga saya heran mengapa sang penulis punya kepercayaan diri mengunggahnya ke publik.

Namun, terlepas dari soal isi dan kualitas tulisan, saya melihat ada celah menganga yang seharusnya terisi. Saya jarang melihat para dai/ustaz lokal yang menulis secara serius, minimal sebuah tulisan yang ditulis dengan rapi dan berisi gagasan segar. Tentu bukan berarti tidak ada sama sekali. Ada beberapa ustaz yang rajin menulis. Tapi, secara umum, mengingat jumlah ustaz atau lulusan pendidikan keagamaan banyak sekali, sepinya mereka dari gelanggang adu gagasan patut dipertanyakan.

Di titik inilah, tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan saya kepada para ustaz yang telah dan terus berjuang dalam mendakwahkan umat, saya merasa perlu untuk menjelenterehkan sedikit tentang urgensi menulis bagi para ustaz. Ada lima alasan mengapa ustaz sebaiknya menulis yang akan saya sodorkan. Tulisan ini tidak bermaksud menggurui, melainkan sekadar menunaikan ayat “saling nasihat-menasihati dalam kebenaran” sebagaimana termaktub dalam Surat Al-‘Ashr ayat 3. Boleh juga tulisan ini dianggap sebagai peletup dan ajakan diskusi lebih lanjut tentang pentingnya menulis.

 

Alasan Pertama: Meneladani Ulama Terdahulu

Kita tahu belaka, “sesungguhnya ulama adalah ahli waris para nabi”, sebagaimana tercantum dalam hadis riwayat At-Tirmidzi. Dan ulama-ulama terkini adalah ahli waris ulama-ulama terdahulu. Para ustaz atau dai, dengan porsinya masing-masing, juga merupakan ahli waris para ulama terdahulu. Ahli waris yang baik tentu bukan hanya sekadar mengambil apa yang telah ada secara mentah, tapi juga berusaha memoles warisan tersebut untuk menjadi lebih baik, lebih terang, dan lebih relevan bagi umat. Ahli waris juga semestinya meneladani hal baik-baik dari para terdahulu yang memberikan warisan kepada mereka.

Warisan terbesar para ulama terdahulu adalah ilmu dan sebagian besar ilmu itu mereka wariskan melalui kitab-kitab—melalui teks, melalui tulisan. Kita lihat dalam bidang hadis: Imam al-Bukhari menulis Shahih Al-Bukhari, Imam Muslim—selaku murid Imam al-Bukhari— menulis Shahih Muslim, Ibnu Khuzaimah—salah satu murid Imam Muslim—menulis Shahih Ibnu Khuzaimah, dan seterusnya. Lalu, dalam bidang fikih: Imam Malik menulis kitab Al-Muwaththa’, Imam Asy-Syafi’i—selaku murid Imam Malik—menulis Al-‘Umm, Imam Ahmad—salah satu murid paling utama Imam Asy-Syafi’i—menulis Musnad Ahmad, dan seterusnya. Kita bisa beralih ke beragam bidang keilmuan lain dan terus maju sampai ke tahun-tahun terkini. Satu hal yang sama: para ulama dan murid-murid mereka yang kelak juga jadi ulama rajin menulis.

Dengan demikian, menulis adalah aktivitas yang punya kaitan erat dengan kehidupan seorang alim. Menulis bukanlah sesuatu yang asing apalagi tabu, melainkan jadi bagian inheren dalam kehidupan seorang ulama, sampai-sampai rasanya mengherankan kalau ada seorang yang berilmu tapi tidak menulis. Ketika seorang ustaz menulis itu berarti ia telah meneladani cara hidup para ulama terdahulu dan tulisan juga menjadi bukti tersambungnya eksistensi Islam sebagai agama yang sangat peduli terhadap kerja ilmiah.

Alasan Kedua: Menjadi Sarana untuk Mengamalkan Ilmu dan Menanam Amal Jariyah

Dalam sebuah hadis populer yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seorang manusia wafat, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya.”

Menarik di sini bahwa aktivitas menulis bisa menjadi implementasi atas dua hal sekaligus dari hadis tersebut, yaitu sarana untuk memperbanyak amal jariyah dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Dengan menulis topik-topik yang dikuasai dan berfaedah bagi umat, seorang ustaz bukan hanya telah memindahkan gagasan dari pikirannya ke lembaran kertas berisi kata-kata, tapi juga telah menanam bibit-bibit kebaikan yang kelak akan dituainya di Hari Kemudian. Apalagi kalau tulisan itu bagus sekali dan menginspirasi banyak pembaca. Tentu makin besar lagi manfaatnya.

 

Alasan Ketiga: Melawan Arus Pemikiran Lain yang Kontra-Islam

Dalam banyak kesempatan saya merasa kagum dengan orang-orang yang giat mengemukakan gagasan mereka dalam bentuk tulisan. Apalagi tulisan tersebut dilengkapi dengan riset memadai yang tampak dikerjakan dengan tekun. Memang tidak semua tulisan saya setujui isinya, tapi yang jelas saya mengagumi cara kerja dan kegigihan seorang penulis yang merancang tulisan mereka dengan saksama, tak peduli tema apa yang mereka tulis. Tak terkecuali para penulis yang secara khusus mencurahkan tenaga dan waktu mereka untuk menulis hal-hal yang sifatnya mengkritisi Islam.

Tentu akan selalu ada orang yang mengkritik apa pun, termasuk mengkritik Islam. Itu sudah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad baru memulai dakwahnya di Mekkah. Namun, bukan itu persoalan utamanya. Persoalan utamanya adalah masih sedikitnya para ustaz dalam negeri yang mencurahkan tenaga dan waktu yang sama besarnya sebagaimana para pengkritik Islam untuk menulis sebuah risalah khusus. Mungkin saya ketinggalan informasi. Tapi dari yang sejauh ini saya perhatikan, jumlah ustaz yang mau dan mampu mencurahkan gagasan untuk merespons para pengkritik Islam (atau sebetulnya tema apa pun secara umum) dengan tulisan yang elegan dan kokoh secara ilmiah masih terlampau sedikit. Alhasil gagasan-gagasan yang umum beredar di dunia tulisan saat ini—baik dalam jurnal-jurnal ilmiah, buku-buku, website-webiste, maupun beranda-beranda media sosial—kebanyakan diisi oleh orang-orang yang notabene bukan ustaz. Berapa banyak ustaz saat ini yang tulisannya melulu diperbincangkan secara serius oleh publik akademis Indonesia?

 

Alasan Keempat: “Ustaz Mimbar” Sudah Terlalu Banyak, Kita Defisit “Ustaz Tulisan”

Menurut data Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama Republik Indonesia, ada setidaknya 300.000an masjid di seluruh Indonesia. Jika per masjid setiap pekannya menyelenggarakan ibadah Salat Jum’at, berarti ada setidaknya 300.000 khatib yang membawakan khotbah. Itu jumlah yang banyak sekali. Tapi, coba bandingkan dengan jumlah ustaz atau dai yang aktif menulis. Adakah jumlahnya 300.000? Atau 100.000? Atau 10.000? Atau 10.000? Atau 1.000? Atau 100?

Saya tidak tahu angka pastinya, tapi yang jelas di Indonesia saat ini kita sudah kebanjiran “ustaz mimbar”, yaitu ustaz yang menyampaikan dakwah atau pesan keagamaan dengan cara mengemukakan ceramah atau pesan-pesan secara lisan. Tentu itu baik adanya. Sama sekali tidak buruk. Akan tetapi, kalau dibandingkan dengan “ustaz tulisan”, yaitu ustaz yang menyampaikan dakwah atau pesan keagamaan lewat media tulisan, jumlahnya jomplang sekali. Jangankan aktivitas menulis. Jumlah ustaz yang secara rutin membaca buku saja mungkin masih sedikit sekali. Sebuah fakta yang cukup ironis mengingat sebutan “ustaz” mestinya berjalan beriringan dengan aktivitas “membaca”.

Dengan kata lain, kita kekurangan “ustaz tulisan”, kita kekurangan sosok ahli ilmu yang mau repot-repot melakukan kajian atas tema tertentu, lalu mencurahkan hasil kajian tersebut ke dalam tulisan yang ditulis dengan cakap, terstruktur, dan penuh kehati-hatian ilmiah khas seorang ulama. Kita kekurangan ustaz yang mau membuat sebuah buku utuh untuk membahas secara komprehensif persoalan-persoalan kiwari yang makin beragam dan kompleks, persoalan-persoalan yang kebanyakan tidak akan cukup disampaikan secara memadai dalam khotbah selama tiga puluh menit atau forum tabligh akbar berdurasi dua jam. Ada hal-hal—begitu banyak hal—yang cuma bisa disampaikan dengan efektif lewat tulisan.

 

Alasan Kelima: Lebih Menguji Gagasan Secara Terbuka dan Mendalam

Kalau diibaratkan medan pertempuran, tulisan adalah medan pertempuran yang bisa mempertemukan banyak jagoan dengan beragam teknik dan keahlian secara terbuka. Konsekuensinya, orang-orang yang terjun ke dalam medan ini tidak bisa sembarangan melepas “serangan”, melainkan harus melakukannya dengan perhitungan dan pertimbangan sungguh-sungguh. Sebab, sekali “serangan” ngasal dan ngawur dilepaskan ke medan tersebut, dirinya bukan hanya akan diserang habis-habisan oleh para petarung yang lebih kuat secara teknis, tapi juga akan menanggung malu akibat sembarangan melepaskan “serangan”.

Bagi para pegiat dakwah, dunia tulisan adalah dunia terbuka yang menantang dan dapat menggembeleng diri. Berbeda dengan forum ceramah yang hanya berasal dari satu pihak atau forum diskusi internal yang kebanyakan dipenuhi oleh orang-orang yang sepemahaman dengan kita, medan tulisan adalah medan yang berisi banyak kemungkinan. Dalam dunia tulisan, kita akan menemukan orang-orang yang punya perspektif berbeda, punya data yang lebih baru, punya argumentasi yang lebih kuat, punya pemahaman yang lebih baik, punya kemampuan menulis yang lebih cakap, dan tak jarang punya posisi yang bertentangan secara langsung dengan kita. Di sinilah sisi menantangnya, di mana para penulis akan langsung diuji dalam “medan pertempuran” yang ketat, sehingga mereka tidak bisa asal menulis atau menyampaikan gagasan secara mentah.

Menulis punya perbedaan yang besar dengan berbicara. Dalam menulis, seseorang bukan hanya perlu untuk menguasai tema tulisan, tapi juga dituntut untuk menyajikan tulisan tersebut dengan struktur yang rapi, argumentasi dan data yang memadai, serta pendekatan yang relevan. Media tulisan juga lebih memungkinkan bagi seseorang untuk mengemukakan gagasan mereka secara lebih mendalam, utuh, dan detail. Sekali sebuah tulisan dilempar ke khalayak, seorang penulis harus siap dengan apa pun reaksi dari pembaca—baik yang menyetujui isi tulisan maupun yang menentang isi tulisan.

 

Demikianlah lima alasan mengapa para ustaz sebaiknya menulis. Tentu saya juga memahami bahwa ada ustaz-ustaz yang memilih untuk tidak menulis karena merasa ilmunya belum memadai atau takut salah dalam menulis. Tetapi, biar bagaimanapun, tulisan-tulisan tetap diperlukan dalam peradaban yang terus berjalan maju ini. Dan kadang-kadang alasan “ilmu belum memadai” atau “takut salah” jadi tidak valid, apalagi jika orang-orang yang bersangkutan belum pernah sungguh-sungguh untuk menulis. Lagi pula, apa yang saya maksud menulis dalam tulisan ini bukanlah menulis apa saja secara random, melainkan menulis hal-hal yang memang dikuasai dan dipahami oleh diri kita (wabilkhusus para ustaz). Menulis yang saya maksud juga bukanlah menulis kesempurnaan (para ulama terdahulu yang rajin menulis juga tidak luput dari kesalahan, kok), melainkan menulis sebagai upaya untuk memperkaya khazanah gagasan dan dunia pemikiran.

Pada akhirnya, urusan menulis ini memang tidak sederhana. Ada jalinan panjang antara kebiasaan membaca, keinginan membangun diskusi, keberanian menuangkan pikiran, dan kesiapan untuk menghadapi pemikiran-pemikiran yang berbeda. Tanpa empat hal tersebut, agaknya sebuah tulisan akan sulit muncul ke permukaan.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *